entah

No 220-224 No 200-219 Semua (balik urutan) |

yuku@Rin : 2008-12-25 06:27:00 UTC+0000
diacu: >>221
>>219
Kadang ku bingung apa tujuan bagian-bagian yang harus disatukan dan bagian-bagian
yang harus dipisahkan.

Mungkin maksudnya supaya imbuhan atau bagian lain yang mengubah arti bagian utama
sengaja disatukan supaya lebih mudah dipahami sebagai suatu konsep yang tak terpisah.
Misalnya kata "disatukan", kalau ditulis "di satu kan" terlihat seperti konsep yang terpisah,
seperti "Kamu tinggal di Bandung kan?"

Dengan demikian ku lebih suka memisahkan ku dan mu dari bagian utama, walau kalo ga
salah tidak sesuai dengan aturan. Misalnya "Bukumu kubeli". Walau itu artinya
{Buku milik mu} {dibeli} {ku} tapi entah kenapa ku dan beli disatukan, padahal "ku" tak
mengubah konsep "beli", beda dengan misalnya pe-an yang membuat "beli" menjadi
"pembelian". Jadi ku lebih suka tulisnya "Buku mu ku beli".
Rin@Rin : 2008-12-25 07:04:24 UTC+0000
diacu: >>222 >>224
>>220
Dalam hal 'ku' dan 'mu' mungkin alasannya adalah masing2 itu tidak bisa berdiri sendiri, alasan yang sama dengan kenapa partikel seperti "kah" dan "lah" digabung dengan kata dasarnya.
"Kah" dalam contoh seperti ini digabung:
1. Bolehkah saya pergi?
2. Apakah gerangan yang ada dalam pikiranmu?

Tapi yang seperti ini terpaksa dipisah:
1. Ini milikmu, kah?
Mungkin karena:
1. Seharusnya "kah" itu menempel dengan "apa" tapi "apa"-nya sendiri sudah hilang.
atau
2. "kah" itu mengacu ke seluruh kalimat jadi harus ada penanda bahwa itu demikian.

Apapun alasannya, kalau maunya "mu" dan "ku" dipisah, maka seharusnya "nya" juga dipisah, tapi terlihat bahwa kamu tidak melakukan itu....
yuku@Rin : 2008-12-25 13:19:19 UTC+0000
diacu: >>223
>>221
Ooh, mengenai nya yah. Betul juga, kenapa ga dipisah yah?
Salah satu alasan yang kepikir, adalah karena "nya" tak selalu berarti "dia", tapi
kadang berarti mirip dengan "the" atau untuk menunjukkan sesuatu yang spesifik.

Seperti "Terima kasih atas kedatangannya" yang bukan berarti "kedatangan dia".
Nah tapi mungkin karena itu, "nya" yang berarti "dia" pun kadang tak salah jika
dianggap sebagai "nya" yang menunjuk.

Karena biasanya, percakapan seperti ini:
A: Kamu tau tentang Pak Kakus?
B: Oh, makhluk yang kumisnya meruncing itu?
Dalam hal ini "kumisnya" berarti "kumis dia", tapi kalau kita anggap "kumis yang
sudah kita tau" pun ga salah, karena "nya" di sana juga berarti sudah spesifik.

Akibatnya, daripada bingung kapan yang "dia" dan yang menunjuk, jadilah penulisan
"nya" disambung.
BAKAS (CMIIW).

a. Tadi sudah mandi kah?
b. Tadi sudah mandikah?
c. Apakah tadi sudah mandi?
d. Apa kah tadi sudah mandi?
Rin@Rin : 2008-12-25 14:07:58 UTC+0000
>>222
Padahal ud ada ini dari sejak Februari....
http://indonesian.kejut.com/Impersonal_-nya

(barusan disunting karena ada salah ketik sedikit)

Ringkasan: menurutku sih keduanya sama2 kata ganti orang ketiga, jadi penulisannya harusnya sama.
(baru kepikir satu hal lagi, tapi kutulis terpisah deh)
Rin@Rin : 2008-12-25 14:36:06 UTC+0000
Tambahan untuk >>221
(tadinya pikir yang akan kutulis ini sudah pernah disebut waktu membicarakan cara melafalkan bahasa Indonesia, tapi sepertinya tidak)

Mungkin kata-kata yang terkesan terpisah dan tidak mengubah arti tersebut ditulis jadi satu karena keberadaannya seringkali menggesar penekanan dari yang asalnya terletak di suku kata terakhir jadi ke suku kata tersebut.
Misalnya:
ru-MAH --> ru-mah-NYA
bo-LEH --> bo-leh-LAH

Sebenarnya kalau mau dilanjutkan sih, bisa juga bilang:
ru-MAH --> ru-mah ma-KAN
jadi seharusnya digabung, tapi maukah orang-orang Indonesia kalau 2 kata yang satu kesatuan ditulis jadi satu seperti orang Belanda atau Jerman begitu?

 

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|