entah

No 1-441 Semua (balik urutan) |

Rin@Rin : 2007-09-14 10:42:49 UTC+0000
Dulu waktu pertama kali belajar bahasa Inggris pasti bingung dengan salah satu kata bahasa Inggris yang sangat sering dipakai yaitu *the*. Kata ini membingungkan karena tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya kata ini didefinisikan sebagai *definite article*. Banyak bahasa selain Inggris yang juga punya suatu definite article, misalnya: Perancis, Jerman, Spanyol, dan Arab. Bagi pemakai bahasa2 ini tentu tidak bingung lagi dengan penggunaan the, karena mereka punya yang sejenis, tapi bahasa Indonesia ga punya. Yah, sebenarnya sih itu yg orang sering bilang, tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya bahasa Indonesia punya satu yang mirip, jadi tidak sama persis, yaitu akhiran *-nya*.

Misalnya 3 kalimat bahasa Inggris dan terjemahannya di bawah ini:
*The* sky is cloudy. --> Langit*nya* mendung.
*The* road is muddy. --> Jalanan*nya* berlumpur.
*The* fact is that.... --> Kenyataan*nya*....
Mirip? Menurut saya sih iya....

Selain ini, sebenarnya -nya itu juga punya satu keunikkan lain, tapi itu lain kali saja deh....
yuku@Rin : 2007-09-14 10:51:45 UTC+0000
Wah, halo Rin, apa kabar?

>>1
betul juga sih, wah baru sadar kah? Ku uda sadar dari, mungkin skitar 4 taun lalu.
Makanya bagus kan, cuma agak cape aja karena tulisnya 3 huruf dan susah disingkat.

nya punya keunikan lain? Suara kucing dong... nya~
Rin@Rin : 2007-09-14 11:42:05 UTC+0000
diacu: >>5
Lagi agak sakit, nih. :(
Ya memang sih, karena kan sadarnya seseorang akan sesuatu memang beda2, ada yg dari kecil banget, ada yang sampai matipun tidak, tergantung keadaan sekeliling dan dirinya.
Bisa disingkat ko, jadi ɲ, ditulis mudah, diketik susah. ^^

Satu keunikkan lain yaitu karena -nya seharusnya adalah kata ganti orang ke 3, tapi kalau lihat contoh2 di atas, siapakah orang ke 3 yang dimaksud? Tidak ada, kan? Kalau dalam bahasa Inggris ada yang namanya *dummy pronoun*, misalnya "It is raining." Siapa atau apakah yang diacu oleh *it*? Kan tidak ada. Katanya ini biasanya ada di bahasa2 yang tidak bisa seenaknya membuang subyek dari kalimatnya. Bahasa Indonesia bisa membuang subyek kalau sudah jelas, tapi walau begitu juga punya yang beginian, makanya unik dan menarik.

Menurutku sih....
Rin@Rin : 2007-09-14 11:51:52 UTC+0000
diacu: >>9
Kebanyakan orang Indonesia sepertinya tidak tahu nama negaranya sendiri.

Sering orang menyingkat nama negaranya menjadi *Indo* saja, padahal Indonesia itu artinya Kepulauan India, dengan *Indo* berarti India dan *Nesia* berarti kepulauan. Jadi banyak orang Indonesia yang sebenarnya mengatakan bahwa mereka orang India.
Ada juga yang menyebut negaranya lengkap, tapi bilangnya *Endonesia*.

Begitulah....
asa@Rin : 2007-09-14 17:12:54 UTC+0000
diacu: >>6
>>3
wah singkatan nya ko mirip sama pangkon di aksara jawa yah ^^
Rin@Rin : 2007-09-14 19:23:43 UTC+0000
>>5
Segala kemiripan adalah tidak disengaja....
Rin@Rin : 2007-09-14 19:54:55 UTC+0000
diacu: >>8 >>11 >>14
Misalkan kita mengangkat satu barang berat lalu diam selama beberapa saat setelah itu kita taruh lagi. Nah, di sini kita hanya mempertimbangkan saat benda itu ditahan. Kata Fisika kita tidak melakukan usaha, karena bendanya tidak mengalami perpindahan tempat, bahkan menerima energi kinetik pun tidak, tapi tentu saja kita menjadi lemes dan merasa kehilangan tenaga. Nah, kalau tenaga yg hilang itu tidak pindah ke barangnya, jadi hilang ke mana, dong?
asa@Rin : 2007-09-15 04:14:15 UTC+0000
diacu: >>10
>>7
kita ga melakukan usaha tapi kita melakukan gaya dong. dan bendanya jg melakukan gaya ke kita.
jadi kesimpulan yg bikin cape adalah gaya bukan usaha yah.
asa@Rin : 2007-09-15 04:23:47 UTC+0000
diacu: >>10
>>4
kyaaa jadi malu karna ku jg sering singkat begt
kayanya smua anak indonesia ntu sering d >.<
lagian masi terdengar lebi bagus drpd indon
Rin@Rin : 2007-09-15 06:51:06 UTC+0000
>>8
Apa berarti cape itu ga ada hubungan dengan tenaga, ya?

>>9
Kayanya kebanyakan gitu, ga cuma NTU aja. Benernya gpp jg sih, tp ya....
Biarin aja deh, ini kan cuma ngeledek iseng. :p
Setiawan@Rin : 2007-09-15 07:01:33 UTC+0000
diacu: >>13
>>7
Definisi usaha ditinjau dari segi fisika mempunyai arti yang beda dengan arti fisiologisnya.
Itu adalah benar bahwa ketika seseorang sedang mengangkat suatu barang, ia harus melakukan usaha "fisiologis".
Itu dikarenakan karena di dalam tubuh manusia, ada dua macam otot: otot halus dan otot gerak.
Otot halus bekerja dgn sangat lambat. Selain itu, otot halus bisa mempertahankan posisinya selama berjam-jam tanpa lelah seperti otot halus yang berfungsi utk menutup cangkang kerang.
Kerang bisa mempertahankan posisi cangkangnya supaya tertutup walaupun ada gaya yang berusaha utk membukanya. Ia bisa mempertahankan posisinya selama berjam-jam tanpa lelah.
Ini sama halnya seperti ketika suatu benda diletakkan di atas meja. Tidak ada usaha yang dilakukan oleh meja itu.

Alasan mengapa kita harus melakukan usaha fisiologis ketika mengangkat benda adalah karena ketika kita mengangkat benda, kita menggunakan otot gerak. Otot gerak bekerja dgn sangat cepat dan ia tidak bisa mempertahankan posisinya utk jangka waktu yang lama.
Otak mengirimkan sinyal ke otot supaya berkontraksi dan kontraksi ini akan diikutin dgn relaksasi. Supaya kita bisa mempertahankan posisi waktu mengangkat benda, otot harus segera dikontraksi kembali setelah relaksasi.
Jadi, tenaga yang kita keluarkan ketika mengangkat barang tidak digunakan utk memindahkan barang tetapi utk mengkontraksi otot gerak.

Utk lebih detail. baca buku "Feynman Lecture on Physics" volume 1.
Setiawan@Rin : 2007-09-15 07:02:30 UTC+0000
Rin, boleh taukah anda siapa?
Rin@Rin : 2007-09-15 17:27:28 UTC+0000
>>11
Pernah sih curiga begitu, energinya menghilang di getaran otot, tapi ga tau persisnya bagaimana dan juga bagaimana memastikannya di mana. Terima kasih atas informasinya.

Tapi kalau begitu, menurutku definisi usaha masih berlaku, karena tenaga dipakai untuk mengencangkan otot2 yang sudah mengendur (ada pergerakan).
RayS@Rin : 2007-09-15 18:14:40 UTC+0000
diacu: >>15
>>7
Halo Rin, wah menarik ya soalnya. Sebenernya dulu di fisika mandang usaha
dll nya secara makro mungkin. Sebenernya di setiap sel yang kerja butuh
energi juga buat macem-macem. Si sel mindah-mindahin ion Na dan K aja
harus lewat pintu sel yang butuh energi (ATP) penting waktu "mempertahankan
kondisi kontraksi", lalu untuk ngasih sinyal kontraksi perlu jg saraf yg ngalirin
sinyal (pake pintu pintu tadi jg ^^), lalu karena kepanasan akibat proses tsb,
kulit ngeluarin keringet yg butuh energi, dll...dll... Lalu kalo kelamaan otak bisa
"bosen" dan nimbulin rasa pegel/cape sentral ^^
Rin@Rin : 2007-09-16 11:03:16 UTC+0000
>>14
Bukan urusan makro atau mikro, tapi kalau kita anggap memegang benda lalu diam itu seperti batang besi sebuah derek, kan tidak perlu ada perpindahan ion, tidak perlu buka-tutup pintu sel, dan juga tidak perlu mengalirkan sinyal kontraksi. Tapi karena sebenarnya otot bekerjanya bukan seperti itu, maka butuh lah itu semua. Jadi kelihatannya kunci permasalahannya adalah otot bukan bekerja seperti tadi itu. Menurutku sih....
1peH@Rin : 2007-09-17 12:58:26 UTC+0000
diacu: >>17
>>1
Sebenarnya ada lagi sih di bahasa Indonesia (bukan Indo lho:D) yang penggunaannya ada sedikit mirip 'the', yaitu "sang". Misalnya di Inggris, "Felix the cat"
Kata 'yang' juga bisa, spt "the last chapter" atau "My house is the one with a blue door"

Rin ini cewek atau cowok ya? Kan rin bisa Rini atau Rinto. hehe...
Tp sptnya cewek sih
Rin@Rin : 2007-09-17 14:00:33 UTC+0000
>>16
Ya, benar, *si dan sang* juga mirip dalam hal itu, tapi saya lebih tertarik dengan -nya, karena juga seperti dummy pronoun. Selain itu, *si* dan *sang* itu agak susah dibahas, karena penggunaannya juga banyak berbeda dengan *the*, dan karenanya juga menjadi salah satu hal yang sangat unik dari bahasa Indonesia. Keren juga ya, ternyata bahasa kita ini mempunya hal2 yang susah dijelaskan ke pengguna bahasa yang ga ada hubungannya....

Saya.... tidak berjenis kelamin. ^^
Rin@Rin : 2007-09-19 14:26:23 UTC+0000
diacu: >>25 >>26
Iseng nulis lagi....

Berdasarkan pengamatan selama beberapa tahun terakhir, entah mengapa orang Indonesia zaman sekarang mempunyai kecenderungan *memisahkan imbuhan* dan *menggabungkan kata depan*. Maksudnya itu seperti contoh rekaan di bawah ini:
*Barang yang diatas meja sudah di ambil.*

Apakah anda termasuk salah satunya?
Rin@Rin : 2007-09-19 18:53:07 UTC+0000
diacu: >>20 >>23
Ah bingung.
Sebenarnya sesuai dengan perjanjian yang namanya Tuition Grant Agreement, saya diwajibkan bekerja 3 tahun di perusahaan Singapura, tapi saya tidak mau, bukan karena saya malas, tetapi karena setelah mendengar dan mengalami sendiri yang namanya bekerja di bidang keinsinyuran (Inggrisnya: Engineering), saya menyadari bahwa pekerjaan seperti itu tidak cocok dengan saya. Ingin rasanya sekolah lagi, tapi entah mengapa semua yang pernah ngomong tentang hal setelah S1 tidak pernah menganggap sekolah lagi sebagai suatu pilihan, selalu hanya ada 2 pilihan:
1. bekerja: padahal ga cocok dengan pekerjaannya
2. lanjut kuliah: pada akhirnya setelah lanjut kan tetap di bidang itu juga, jadi sama aja, ga cocok
jadi maunya:
3. balik sekolah lagi ganti bidang yang lain: tapi kan sekarang sudah terikat dengan perjanjian 3 tahun.
Ah, bingungnya.... :(
asa@Rin : 2007-09-20 02:47:15 UTC+0000
diacu: >>21
>>19
kalo ambil s2 ato s3 ga bisa ganti bidang yah? seti bisa pindah dr MSE ke SCE tuh :P
kan byk jg yg s1nya entah apa dan s2nya bisnis
Rin@Rin : 2007-09-20 08:53:11 UTC+0000
>>20
Dari teknik yang satu ke teknik yang lain masih umum, karena masih mirip.
Dari yang berbau teknik ke yang berbau ekonomi masih umum, karena yang dibisniskan bisa aja hal2 yang berbau teknik.
Tapi saya dari teknik mau pindah ke seni, ini yang susah....
Setiawan@Rin : 2007-09-23 07:13:30 UTC+0000
asa salah info. Ku masih di MSE. Cuma kantorku saja yang di SCE :P
Setiawan@Rin : 2007-09-23 07:14:50 UTC+0000
diacu: >>24
>>19
Kejarlah apa yang kamu suka. Tuition grant kan bisa didelay. Kalau suka bljr ya lanjut bljr aja.
Rin@Rin : 2007-09-23 10:12:15 UTC+0000
>>23
Untuk delay mahal....
tania@Rin : 2007-09-23 13:14:05 UTC+0000
diacu: >>27
>>18
ku ga termasuk ^^
tp ini ga cuma terjadi belakangan ini (bbrp tahun terakhir). pa2 & ma2ku n org2 lain yg dr generasi lalu jg kuperhatiin ky gt.
mgkn mereka lupa pelajaran SD ttg yg mana (di antara imbuhan 'di-' dan preposisi 'di') yg mesti digabung dan mana yg mesti dipisah dg kata yg mengikutinya.
yuku@Rin : 2007-09-23 15:54:36 UTC+0000
diacu: >>27
>>18
Kalo generasi lama sih, mungkin karena dari kecil belom ada EYD,
sedangkan penentuan pisah ato sambung baru ada pas EYD (kagalah)

Selain itu, menurutku sih, kebanyakan orang belajar bahasa pertama
dari lisan, bukan tertulis, dan tidak belajar grammar juga.
jadi apa yang didengar, langsung ditulis aja.

Misalnya dulu ku sering denger orang bilang *abodemen* (subscription fee)
sehingga pas ku pertama tulis, ku tulis aja "abodemen" padahal
yang betul kan "abonemen"

[1] dan sekarang di jaman ketik, kayanya ku jadi suka salah ketik
karena kebiasaan pola jari yang ketik <d><i><spasi> jadi suka keketik itu
walau di dipakai sebagai imbuhan.

selain itu pengaruh [1] SANGAT sering tjadi saat ku ingin ketik
"bis" (kendaraan). Kalau tak hati2 hampir slalu kluarnya "bisa".
Kayanya gara2 pola ketik (irama) juga... ada yang mengalami hal serupa?
Rin@Rin : 2007-09-23 17:20:32 UTC+0000
>>25
>>26
Tentang *di*.
Boleh lah kalau tentang orang zaman dulu dimaklumi.
Boleh juga lah memaklumi kalau mengetik sesuatu yang kecil kemungkinannya diperiksa ulang, seperti chatting atau beginian.
Tp setiap kali melihat yg begituan di acara televisi atau papan2 iklan, rasanya... gmn ngomongnya, ya? Geregetan, gitu....

Tentang yang lain... hm.... ya udah deh diterima aja....
Rin@Rin : 2007-09-30 17:17:28 UTC+0000
Tulisan di bawah ini adalah terjemahan dari http://netlurker.blogspot.com/2007/10/how-self-centred-are-we.html

Seberapa egosentriskah kita?

Saat seseorang percaya akan satu hal, tidak peduli seberapa salah, biasanya kepercayaan itu sulit diubah. Perubahan akan biasanya lebih mudah terjadi kalau ada orang lain yang berusaha melakukannya (walau kadang justru menjadi lebih sulit). Biasanya, semakin berpengaruh si orang lain itu, semakin mudah perubahan itu terjadi. Jikalau kepercayaan itu adalah milik suatu kelompok—misalnya suku atau bangsa—maka kepercayaan itu menjadi lebih kuat. Semakin besar kelompoknya, semakin susah mengubahnya, karena biasanya perlu kekuatan yang lebih kuat juga. Jadi, bagaimana kalau yang percaya adalah seluruh umat manusia?

(Karena sudah banyak contoh-contoh tentang hal ini, maka saya mencoba yang tidak umum.)

Setelah menjelajahi seluruh bumi, menggali dalamnya, dan juga mencari langit, kita menyadari bahwa kitalah satu-satunya penguasa planet ini. Tidak ada satupun makhluk lain yang setingkat dengan kita, dan ini mempengaruhi cara pandang kita akan makhluk yang setingkat dengan kita. Kita sudah membayangkan banyak macam makhluk asing, tapi hampir tanpa terkecuali semuanya serupa dengan manusia, contohnya makhluk-makhluk yang ada di Star Trek. Istilah *makhluk asing* di sini juga bisa mengacu ke makhluk gaib. Anehnya, biasanya kita dan mereka bisa saling memakan makanan satunya dan juga bernapas dengan udara yang sama. Biasanya pula mereka juga makhluk berbahan dasar karbon, dan mungkin yang paling aneh adalah, biasanya bisa juga saling memadu-kasih dan bahkan punya anak! Jadi, walau mereka seharusnya adalah makhluk asing, pada dasarnya mereka cuma manusia yang agak berbeda sedikit.

Sepertinya, bangsa Eropa kuno juga berpikir bahwa yang namanya manusia adalah yang seperti mereka, jadi ketika mereka menemukan suku bangsa yang rupanya berbeda, orang-orang pribumi itu dianggap bukan manusia dan diperlakukan buruk. Keadaan ini semakin diperparah karena biasanya kebudayaannya lebih rendah.

Kita biasanya benci sendirian untuk selamanya, mungkin karena ini kita juga tidak suka menjadi satu-satunya makhluk pintar di alam semesta ini, makanya kita sering mencari makhluk asing. Tapi, kalaupun seandainya mereka itu ada, seharusnya bentuknya akan sangat berbeda dengan apa yang bisa kita bayangkan. Kalau kasus orang Eropa kuno itu terjadi lagi, mungkin justru akan susah bagi kita untuk menerima perawakan mereka itu dan akhirnya justru akan mengusir.

Jadi, walau kita tidak suka sendirian, kita juga tidak suka bertemu orang yang berbeda. Jadi mungkin keegosentrisan itu *memang sifat dasar dari umat manusia*, atau mungkin tidak, mungkin *bukan cuma manusia....*
Rin@Rin : 2007-10-03 08:00:45 UTC+0000
Iseng nulis....
Setelah kosong selama lebih dari 3 bulan akhirnya ada 1 lagu lagi tercipta, tapi seperti biasa, tidak bisa diselesaikan.
Ingin belajar musik tapi ga ada tempat belajarnya.... :(
Rin@Rin : 2007-10-07 16:41:13 UTC+0000
Di Singapura ada berbagai macam minuman:
ada teh peng, bandung, horlick, susu kacang....
ada berbagai macam sari buah seperti:
jeruk, alpukat. kelapa muda....

tapi....

Di mana yang jual *kelapa kopyor*, ya?
:S

T_T
Rin@Rin : 2007-10-10 15:31:00 UTC+0000
diacu: >>32
Tau *computer bug*, kan? Harusnya sih tahu, tapi kalau ga juga gpp. Bahasa Indonesianya apa, sih? Buat mudahnya sih biasanya tetap ditulis "bug" tp dibaca "bak", mirip aslinya. Seandainya diterjemahkan, jadi apa, ya? Karena "bug" sendiri artinya "kutu", jd bs pake kata itu, namum, menurut saya kurang tepat.
Kata "bug" sendiri bisa merupakan suata kata kerja yang berarti "mengganggu". Dari sini, "bug" sebagai kata benda bisa berarti "gangguan", karena kutu memang menggangu. Sumber masalahnya kecil, tapi akibatnya besar, itulah "bug".
Nah, bagaimana dengan "kutu"? Sayangnya kutu tidak mempunyai arti yang demikian, "kutu" ya "kutu", memang bisa mengganggu tapi tidak mirip dengan "bug", jadinya istilah "kutu" agak kurang tepat di sini. Kabar baiknya, bahasa Indonesia punya kata yang artinya mirip dengan "bug", "serangga kecil tapi mengganggu dan cocoknya diberantas".

Karena itu, marilah kita menerjemahkan "bug" dengan kata ini saja, yaitu....
*BANGSAT!*
yuku@Rin : 2007-10-10 17:46:47 UTC+0000
diacu: >>33
>>31
cape kalo tulis bangsat, panjang. Nanti ada debangsat lagi. walah.
Lagi pula, dulu guru bahasa pernah bilang, apa beda bangsat dan maling?
Jawaban: maling = tindakan mencuri. Bangsat = pelakunya.
Kalo ku sih, bug kubaca tetep BUG (seperti dalam menggebug) bukan
bag ato bak. Tetep aja bukan kutu maupun serangga.
BEberapa bulan ini, kalo mo bilang DEBUG, ku bilangnya GEBUG aja.
Sebetulnya cocok loh, GEBUG itu kan kaya "pukul dengan keras"
jadi ku mau GEBUG biar BUGnya ilang ->ku mau gebukin serangganya biar mati
heheh keren kan? :P
Rin@Rin : 2007-10-11 12:35:38 UTC+0000
>>32
Wah, kalau gitu ga usah "debangsat," tapi "bangsatnya digebug," kan lebih bagus. ^^

Mu ngomongnya "gebug", ya? Tp kebanyakan orang ngomongnya "gebuk", tuh. :(
Rin@Rin : 2007-11-23 16:37:42 UTC+0000
Pernah menerima undangan? Harusnya sih pernah.

Tujuan undangan tentu ada macam2, bisa hal yang serius bisa pula untuk yang senang2. Bentuk undangan juga ada macam2, ada yang serius ada yang *SKSD Palapa* (Sok Kenal Sok Dekat PAdahaL bukAn siaPa-siapA). Menyebut sebagai "SKSD Palapa" mungkin agak berlebih, yang penting maksudnya ada undangan yang bentuknya sangat informal dan akrab. Menurutku sih undangan seperti ini boleh-boleh saja, tetapi kalu tujuan undangannya serius, melihat undangan seperti itu malah membuat kesal.....
Rin@Rin : 2007-11-23 16:50:49 UTC+0000
Ada banyak tujuan orang menyatakan sesuatu ke orang lain dalam bentuk tertulis, contohnya ya... undangan....

Tapi ada beberapa hal yang kalau muncul di tulisan membuat saya sangat benci tulisan itu, antara lain: (hanya menyangkut tulisan bahasa Indonesia)
- Penggunaan kata-kata bahasa asing seperti "please" dan "sorry" atau yang lebih parah lagi: "plis" dan "sori" (atau "plis dong ah")
- Penggunaan kata-kata bahasa Inggris yang sebenarnya punya padanan dalam bahasa Indonesia dan juga merupakan kata yang "baru", yaitu bukan sudah dari dulu masuk, apalagi kalau bentuk aslinya atau padanan bahasa Indonesianya sangat *jauh lebih mudah dimengerti*, contoh: *presaposisi*, padahal lebih mudah mengerti *presupposition* dan *prasangka*
- Penggunaan kata-kata seperti "rubah" seperti pada contoh: "rubahlah bentuk ini...." atau "merubah A menjadi B"
- Lebih sering memisah imbuhan dibanding tidak, contoh: "di jual", "di tolak"
- Menggunakan bentuk "mau di-" di saat dimaksud adalah "mau me-", apalagi kalau dibarengi penggunaan di atas, contoh: "Saya *mau di bunuh* oleh dia"
- Menggunakan "kita" di saat yang dimaksud adalah "kami", soalnya saya kan tidak ada urusan dengan kalian kenapa harus diikutsertakan....

Tentu saja, kalau tulisan ini tidak menyangkut saya, maka tidak ada masalah bagi penulis, tapi kalau tulisan ini menyangkut saya, misalnya, ya balik lagi ke yang tadi, undangan, maka saya merasa tidak harus menjawab.
Apakah cuma saya yang merasa seperti ini? :S
yuku@Rin : 2007-11-24 06:50:09 UTC+0000
diacu: >>38
>>35
Wah, ternyata mu sebagai orang Jakarta (semoga ga salah), merasa
benci juga dengan pemakaian kami dan kita yang salah yah.
Dulu kagalah ada yang bilang, orang yang pake "kita" untuk maksud
"kami" itu karena di Jakarta istilahnya begitu.
Sama, ku juga suka ga seneng dengan istilah "kita" yang salah,
alasannya juga sama, ga ada urusan kenapa diikutsertakan...

Di lembar doa grii:
"Tulislah nama-nama dibawah ini untuk
di doakan dan di undang oleh anda"
Hebat, satu kalimat tiga salah.
Kelvin@Rin : 2007-11-26 11:48:11 UTC+0000
helo2..
aku anggota baru di meletus neyy..
salam meletus:
meletus balon hijau *DOR!!* hatiku sangat senang..
wakakakakakkk.
drop me some commentz plzz..^^.
Rin@Rin : 2007-11-26 18:54:57 UTC+0000
>>36
Memang orang Jakarta dan ga suka, itu benar, tapi ini baru pertama kali mendengar ada orang yang bilang gitu. Hebat juga, mendengar tentang orang Jakartanya sampai harus di Singapura oleh orang Bandung....

Contoh percakapan yang jadi aneh:
A: "Pak, gini, kita kan abis buat salah...."
B: "Eit, nanti dulu, yang buat salah kan cuma kalian, saya ga ikutan!"

Berhubung tulisannya:
"Tulislah nama-nama dibawah [sic] ini untuk
di doakan [sic] dan di undang [sic] oleh anda"

apa artinya di bawahnya ada nama dan orang2 diminta menulis nama itu?
Ko aneh sih? Apa maksudnya? Sepertinya ada masalah selain 3 kesalahan tulis di atas.... :(

Apakah maksudnya:
"Tulislah nama2 yang anda ingin doakan dan undang di bawah ini"?
Kelvin@Rin : 2007-11-27 10:11:00 UTC+0000
diacu: >>41 >>102
apa mungkin maksudnya :
"tulislah nama2 yang ingin anda undang dan doakan di bawah ini??"
paling bener kan..wkwkwkwk
hehehehe nimbrung aja wkwkwkwk..
mampir lewat kan harus ngepost..demi kebaikan meletus
hahahahahahahah
Kelvin@Rin : 2007-11-27 10:14:22 UTC+0000
diacu: >>41
>>35
iya bener juga sih..dasar..prof. bahasa Rin
wkwkwkwkwkk..
ya tapi yang memisahkan imbuhan itu gak selalu kok..
hehehehe cuma ngasih fakta aja ..^^
Rin@Rin : 2007-11-27 15:23:22 UTC+0000
diacu: >>42 >>46
>>39
Yang bener itu "yang ingin anda" atau "yang anda ingin" sih? :S
Kalau yang kedua, ko aneh subyeknya setelah predikat.... Kepengaruh Belanda kali ya....

>>40
Jurusan bahasa tuh gelarnya apa ya? x.Sci? x.Lit? (ganti x dengan huruf yang sesuai....)
Memang ga selalu, tapi jauh lebih sering dipisah daripada disambung, jadi entah masalahnya di mana.... (yang pasti saya ga bilang "semua" di atas, tapi "lebih sering")
yuku@Rin : 2007-11-27 16:01:07 UTC+0000
diacu: >>43 >>45 >>46
>>41
Betul yang pertama.
Jadi tiap kali ku denger orang ngomong misalnya,
"apa sih yang dia ingin katakan?"
cukup merasa aneh.
Lebih normal, "apa sih yang ingin dia katakan?"

Nah, ada yang lebih parah lagi, ada juga orang yang bilang,
"apa sih yang dia ingin mengatakan?" (mungkin dikira dia lebih baku).

Kalo dipikir2, ini mirip juga dengan pelajaran bahasa Inggris,
mana yang betul
"I wonder what is he saying"
atau
"I wonder what he is saying"
asa@Rin : 2007-11-27 16:08:40 UTC+0000
>>42
kalo kita kadang bingung dengan bahasa inggris si wajar2 ajah yah
karna itu bukan bahasa ibu kita

tapi kalo bahasa indo kan uda belajar dari kecil, harusnya ga salah dong
menurut leknot language puzzle
kita tau aturan2 bahasa ibu kita tanpa sadar, jadi bisa otomatis kuar yg bener
tapi kalo bahasa asing kita ga tau aturan2nya

mungkin orang yang ngomong indonya kacau ga sering pake bahasa indo yah
lebi sering pake bahasa daerahnya sendiri :D
Julius@Rin : 2007-11-28 08:51:20 UTC+0000
we, tiap user kok ada ceritae seh....
cape de....
aneh" ja....
wkwkwkwkwkw... ^^V
1peH@Rin : 2007-11-28 09:44:18 UTC+0000
diacu: >>46
>>42
"I wonder what he is saying"
Kalu "is" didulukan itu spt kal tanya.
Rin@Rin : 2007-11-28 12:43:33 UTC+0000
Menjawab >>42 dan sejalan dengan >>45
Kalau yg pertama itu seharusnya tanda bacanya (setelah membuang 2 tanda kutip di ujung kalimat):
I wonder, "What is he saying?"
Jadi kalau tanda bacanya begini, urutan katanya tepat. Dalam percakapan tanda komanya akan muncul sebagai jeda.

Sebenarnya tadi >>41 tuh maksudnya yang "pertama" bukan "kedua", tapi ya sudahlah....

Lebih lanjut tentang urutan: anda, ingin, dan katakan.
Dalam kalimat sederhana (dan baku), kan jadi: "Anda ingin mengatakan...."
Sebagai anak kalimat yang dipisahkan oleh "yang", maka tadi kan katanya jadi: "... yang ingin anda katakan...."

Untuk yang pertama polanya: S V1 V2
Untuk yang kedua polanya jadi: V1 S V2

Jadi subyeknya diapit oleh kedua kata kerja. Ko jadi aneh, ya? Aneh karena rasa-rasanya tidak pernah ada guru yang bilang bahwa subyek dalam bahasa Indonesia bisa muncul setelah predikat dan dari pengamatan biasanya subyek setelah predikat hanya muncul di akhir kalimat karena dia sempat "dipecat" dari posisinya di awal.
Rin@Rin : 2007-11-28 14:29:39 UTC+0000
Kayanya yang bener tetep:
"apa sih yang dia ingin katakan?"

Ini masih berhubungan dengan pola macam:
"Saya mau dibunuh." (yang sudah saya sebut di >>35)

Kayanya orang Indonesia udah terlalu banyak terbolak-balik deh, jadi artinya harus "ditebak" dan ga bisa "diterjemahkan" saja.

Bandingkan:
"Siapa yang mau saya kasih uang?"
"Siapa yang saya mau kasih uang?"

Kalau "mau" dulu baru "subyek", berarti yang mau itu adalah yang datang sebelum kata "mau", dan yang setelah "mau" menjadi anak kalimat di bawahnya, jadi kalimatnya ada 3 tingkat.
Sedangkan kalau "subyek" dulu baru "mau", berarti yang mau adalah si subyek, dan hanya ada 2 tingkat kalimat di sini.

Jadi dengan contoh di atas:
"Siapa yang mau saya kasih uang?"
- "Saya kasih uang" menjelaskan "mau"
- "yang mau saya kasih uang" menjelaskan "siapa".

Sedangkan:
"Siapa yang saya mau kasih uang?"
- "Saya mau kasih uang" menjelaskan "siapa"

Dalam bahasa Inggris:
"Siapa yang mau saya kasih uang?" --> "Who was it that wants me to give him money?"
"Siapa yang saya mau kasih uang?" --> "Who was it whom I want to give money to?"
Rin@Rin : 2007-11-28 14:35:34 UTC+0000
diacu: >>75
Kayanya yang bener tetep:
"apa sih yang dia ingin katakan?"

Ini masih berhubungan dengan pola macam:
"Saya mau dibunuh." (yang sudah saya sebut di >>35)

Kayanya orang Indonesia udah terlalu banyak terbolak-balik deh, jadi artinya harus "ditebak" dan ga bisa "diterjemahkan" saja.

Bandingkan:
"Siapa yang mau saya kasih uang?"
"Siapa yang saya mau kasih uang?"

Kalau "mau" dulu baru "subyek", berarti yang mau itu adalah yang datang sebelum kata "mau" (yaitu yang dipertanyakan), dan yang setelah "mau" menjadi anak kalimat di bawahnya, jadi kalimatnya ada 3 tingkat.
Sedangkan kalau "subyek" dulu baru "mau", berarti yang mau adalah si subyek, dan yang dipertanyakan adalah obyek dari anak kalimatnya itu, jadi hanya ada 2 tingkat kalimat di sini.

Jadi dengan contoh di atas:
"Siapa yang mau saya kasih uang?"
- "Saya kasih uang" menjelaskan "mau"
- "yang mau saya kasih uang" menjelaskan "siapa".

Sedangkan:
"Siapa yang saya mau kasih uang?"
- "Saya mau kasih uang" menjelaskan "siapa"

Dalam bahasa Inggris:
"Siapa yang mau saya kasih uang?" --> "Who was it that wants me to give him money?"
"Siapa yang saya mau kasih uang?" --> "Who was it whom I want to give money to?"


Bahasa Indonesia itu bukan bahasa yang membolak-balik urutan subyek, predikat, dan obyek, kecuali untuk penekanan, macam:
"Roti saya makan." (menekankan obyek, jadi obyeknya diletakkan di depan, tapi setelah itu tetap SP)
"Mau pergi makan saya," atau "Mau apa kamu?" (menekankan predikat, jadi subyeknya dibuang dulu baru diselipkan kemudian, tapi tetap PO)
Rin@Rin : 2007-11-28 14:36:58 UTC+0000
Eh gawat, tadi refresh ga muncul jadi kirain belum nyampe jadi diedit dulu deh....

Ga bs delete, lagi.... pengen delete yang lebih awal (dan ini juga)
asa@Rin : 2007-12-01 10:09:10 UTC+0000
diacu: >>51
dari bbrp postinganmu di berbagai tempat sptnya kurang senang dengan mahluk2 kecil pendatang baru meletus yah?
Rin@Rin : 2007-12-11 06:00:37 UTC+0000
>>50
"Mahluk2 kecil"? Mengingatkanku pada istilah yg kusarankan sebagai terjemahan "bug"....

Hm... iya ya? Ya mungkin iya juga sih, tapi yang panjang-lebar di halaman sini kebanyakan bakal tampil juga tanpa peduli makhluk2 tadi ada atau tidak....
Rin@Rin : 2007-12-11 06:19:23 UTC+0000
>36
Ternyata banyak orang Bandung yg ga kenal kata "kami" juga....

Ga kenal maksudnya ga ada di "active vocabulary" (kosakata yg dipakai oleh orangnya), tp mungkin saja ada di "passive vocabulary" (kosakata yg dimengerti, tp tidak akan dipakai sendiri).
Rin@Rin : 2007-12-27 18:53:49 UTC+0000
Mumpung lagi kepikiran, sayang kalau ga ditulis.


Pronouncing Indonesian

Introduction:
Indonesia is written with Latin alphabet, just like English. While learning a language written with the same alphabet means that it is easier to accustom oneself with the writing system, the letters carry the danger of being misunderstood as pronounced the same. Actually, it is better to regards the 2 languages as simply using the same set of glyphs, which do not necessarily represent the same sounds.
Most people believe that the best method for correct pronounciation is by imitating a native speaker, but I believe that it is only half true. Most people can not really imitate the native speaker but instead they usually pronounce the words in the sounds of their own native language. To fill the missing half, one way is by understanding the mechanics behind sound generation, but such explanations tend to be too technical for the average learner. The text thus attempt to explain how to pronounce Indonesia correctly without going too technical. As this text is written in English, the reader is expected to be somewhat familiar with English pronounciation, although exactness is not needed as this is afterall about another language altogether.
Note that this text does not attempt to replace imitating a native speaker, it is only meant as a complement.

The good thing about Indonesian letters is that they tend to have consistent relationship with the sounds they represent, so almost all the time it is possible to guess the pronounciation of a word just by knowing how they are spelled (there are some exceptions, though). Further, the Indonesian name of most letters represent their sounds well, unlike, say, English name for 'W'.


Vowels:
Indonesian has 8 different vowel sounds, but 2 pairs are so similar that each pair is usually regarded as one for a total of only 6 distinct sounds but they are all represented by only 5 different glyphs, meaning that 1 of them have 2 distinct sounds, which is 'e'. There are practically no way to explain how to pronounce the vowels without going to technical, hearing and imitating a native speaker is the most practical way. So here I will only explain the easiest one and arguably the most important one: 'a'.
Indonesian 'a' is diferent from any English vowel. One way to help pronounce it correctly is by sticking one's tongue out and saying 'aaaah' just like how doctors usually tell their patients to do when they are checking the throat. Correct pronounciation of 'a' is important as this sound epitomize the whole Indonesian sound, as follows:
+ frontness: Indonesian sounds tend to be more frontal than English ones
+ the back of the tongue is more relaxed, and generally not raised, this also contributes to,
+ lack of intensity: correct pronounciation of Indonesian make it impossible to do European-like intensity based accent sounds. In Indonesian, the syllables are accented by lengthening the vowels and by raising the pitch. So, to further help in pronouncing Indonesian, try pronouncing 'a' with a high pitch.

Indonesian also has diphtongs, these are pronounced a stream of their constituent vowels.


Type-I consonants: (the name 'type-I' is my creation)
Consonants in this category are practically the same as the English counterparts, and hence the easiest ones. They are:
p,b
t,d
k,g
h,l,m,n,s,w,y

While I did say that they are very similar to English, some notes are still needed:
- h: when ending a syllable, it has the same pronounciation as when starting one, unlike English, in which it is typically silent
- l: never represent English's "dark l", for which the back of the tongue is raised until it touch the palate, a feature that does not exist in Indonesian, as mentioned in 'a'
- s: always represent an 's' sound even when ending a syllable, unlike English
- y: always a consonant, never a vowel
- k: represents 2 different sounds. When starting a syllable, it is similar to English, when ending a syllable it usually become what is known as a glottal stop. While 'k' is created by the sound of closing the airflow caused by raising the tongue to the soft palate, glottal stop is accomplished by closing the airflow with the vocal chords. Typical example of a glottal stop is in the word "uh-oh", the glottal stop is what ends the 1st syllable (see notes at the end). Since both 'k' and glottal stop obstruct airflow, the sounds are similar but they are still similar. Some 'k's ending a syllable are true 'k's and not glottal stop, but these are more of an exception and perhaps dialectal differences.

If you already know what "unvoiced" and "voiced" are, you can happily skip the following:
Do you notice that the first 3 lines have 3 pairs of letters? Try saying a pair, such as 'p' and 'b'. Hopefully you can notice that the shape of the mouth cavity is the same, differencing only in the vibration of the vocal chords. The letters on the left are called "unvoiced" while the letter on the right are called "voiced", voicing refer to the vibration of the vocal chord.
Indonesian syllables never end with a voiced consonant, and on instances when they are written as such, they are always pronounced as their unvoiced counterparts.


Type-II consonants:
These consonants are a bit different from English ones, they are:
c, j
f, r

- c: the closest English sound would be most "ch" sounds, which include: chicken, chill, china and check, but NOT Greek words like chrono, but still, they are different. The difference follow the general rule of Indonesian sounds being "more frontal", so, while English "ch" is pronounced by putting the middle of the tongue to the top, Indonesian "c" is pronounced by instead raising the part of the tongue between the middle and the tip to the appropriate place on the palate.
- j: is simply the voiced counterpart of 'c', and hence follow the similar difference.
- f: in Indonesian is atypical to European languages but in Asian languages, it is the sound that 'f' typically represent (European speakers may not consider it a true consonant, regarding it as simply blowing air). While English 'f' is pronounced by placing the lower lips under the (upper) front teeth, Asian 'f' does not have this feature. Hence, the sound can be summarized as: the sound of blowing air that is similar to 'f'.


Type-III consonants:
These are the letter of the alphabet that: do not fit into any of the above; in fact very rare; do not represent any distinct sound and are used in loanwords when the original use them. They are:
q v x z
They are pronounced as: 'k', 'f', 'ks', and 's' (respectively), except for 'qu'+a vowel, in which it is pronounced as 'kw' (similar to English, actually).

Type-IV consonants:
These are Indonesian digraphs, which are 2 consonant that jointly represent a sound that may not be similar to their constituents, they are:
ng
ny
sy

- ng: when at the end of a syllable, this is similar to English usage in words like: “ring”, “sing”, and “hang”. However, unlike English, this digraph can also occur at the start of a syllable and has the same pronounciation, as such it sounds like: "ringer", "singer", and “hanger” but without the 1st syllable. Note that it NEVER represent a sound like English "finger", such sound is represented in Indonesian with double ‘g’s.

- ny: is arguably the hardest sound for English speakers, as no true English word has this sound, but its sound is that of Spanish ñ, such as in: señorita and niño.

- sy: is arguably the hardest Indonesian sound, as many Indonesian can not pronounce it, usually substituting it with ‘s’ instead. The closest English sound will be “sh”, and the difference is similar to the case of ‘c’ and ‘ch’ above. This make the sound more similar to ‘y’ than ‘h’, as the digraph shows.


Additional notes:
Non-sentence initial syllable usually must start with a consonant, regardless of language, except when the preceding syllable ends with a vowel, thus they usually become a diphtong. When the consonant is not available, meaning that the syllable start with a vowel, there are 3 ways to handle it:
1. copying the last consonant of the preceding syllable. English does this when it is possible, hence the “finger” example above, but never in Indonesian.
2. adding a glottal stop, which act like an invisible consonant. English sometimes does this when the preceding syllable ends with a vowel (not always, depend on some factor). Indonesian does this when words that are not the first start with a vowel and not preceded by a vowel too, because adjacent vowels usually become a diphtong.
3. borrowing the last consonant of the preceding syllable, which then ends without it. Typical English way, which can also borrow consonant from the preceding word, but Indonesian only does this within a word, not between.

When 2 same vowels are adjacent to each other, they usually merge into 1 long vowel.
Rin@Rin : 2007-12-27 18:56:11 UTC+0000
Sebenarnya >>53 bukan "gp", tapi kalau muncul di /u entar kepanjangan, hehe....
Jadi sebenarnya ini yg gp :p

Weleh naik dr: 1967 ke 3212, sebesar 1245....
Rin@Rin : 2007-12-31 05:38:37 UTC+0000
>>53
Addition:
Type-I consonant
- 'h' represent 2 non-phonemic sounds. The 2nd sound occur when it is paired with 'i', both as 'hi' and 'ih'. This sound can be variously described as: front h, hissing h, and hot h (due to the sound made when the tongue has just been exposed to hot stuffs). This sound is automatic, though, as the way 'i' is pronounced made it impossible to pronounce the normal 'h'.

Type-III consonants:
- 'q' occur mostly in Arabic words and as such may be pronounced in Arabic may, but it being Arabic, usually only Muslims trying authentic pronounciation will say it that way. Most people would say them as simple 'k', though.
- 'v'. The reason it does not represent any distinct sound and definitely not the English 'v' is because English 'v' is the voiced sound of English 'f', while this 'f' is different from Indonesian 'f'. It is possible to voice Indonesian 'f', albeit rare.
- 'z' is, like 'q', occur mostly in Arabic words and so may be pronounced as 'z' or 's' depending on speaker, though mostly as 's'.

Type-IV consonant
- 'kh' was originally like Greek "chrono", Scottish "loch", and German "Bach" (the usual examples....), but with this being an Arabic word and actually difficult to pronounce (for the average Indonesian), it usually shift to 'k' instead.

To summarize, there are 5 sounds that can differ according to speaker (the difference can be considered "dialectal"), they are:
As distinct sounds: q, v, z, sy, kh
Though mostly as: k, f, s, s, k


note: need more thinking....
yuku@Rin : 2007-12-31 11:51:27 UTC+0000
diacu: >>58 >>60
>>53
Ada 8 suara vokal? Apa aja gitu?
derianto@Rin : 2008-01-01 11:48:57 UTC+0000
diacu: >>58
>>53
wah sangat menarik sekali!
ternyata betapa susahnya speaker Inggris (Amrik / British) mengucapkan
Indo.

membuktikan perbedaan aksen memang susah di...perbaiki

ku akan sangat senang sekali kalo ada cara mengucapkan Inggris untuk
speaker Indo

(eh ato sebenernya dengan membaca artikel di atas bisa mengerti kira2
aksen Inggris itu seperti apa)
Rin@Rin : 2008-01-03 12:16:20 UTC+0000
diacu: >>60 >>62 >>64
>>56
ada 4 yg jelas: A I O U
'E' bisa melambangkan 2 bunyi berbeda, untuk mudahnya biasa dibedakan jadi: é dan e (yg terakhir ini bs jd disebut "e pepat")
catatan: "berbeda" itu maksudnya *phonemically distinct*, jd misalnya karena apel dan apél punya arti yg berbeda, maka e dan é "phonemically distinct".

Nah, é sebenarnya terdiri dari 2 bunyi yg tidak "phonemically distinct", biasa ada dalam kata2 seperti: bebek, nenek, pesek, geleng.
Bisa dilihat bahwa di http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_language, vokalnya ada e dan ɛ, "bebek" itu dalam IPA jadi: [bɛbek]

Sedangkan 'e pepat' mempunyai 2 bunyi yg bahkan oleh IPA saja tidak dibedakan, jd susah menjelaskannya. Namanya yg satu "mid central vowel" yg satu lagi "schwa", tapi ga niat menjelaskannya karena susah....

>>57
Pengen sih nulis yg sebaliknya, tapi sangat susah, rasanya malah mustahil >_<
Pernah baca katanya bahasa Inggris punya "18 vowels and 22 consonants", kurang tahu apakah "18" tadi termasuk diphtong dan triphtong atau tidak. Tidak tahu juga apakah itu 18 "phonemically distinct" atau semua suara yang ada.
Waktu itu pernah sih cari kata2 bahasa Inggris dan lihat simbol IPA-nya, dan ternyata yg bagi orang Indonesia sama2 'a', sebenarnya ada 4, kan susah jelasinnya. >_<
Minimal yg aku tangkap sih, bahasa Eropa itu bunyinya lebih cenderung di belakang dari bahasa Asia. Di atas udah ditulis kalau bahasa Indonesia itu cenderung lebih ke depan dari bahasa Eropa, jadi bisa dipikirkan sendiri inversinya. Jadi ya memang dengan baca yg di atas itu bisa lebih mengerti aksen Inggris itu bagaimana. :P

Jadi ya, mungkin petunjuk bagi orang Indonesia untuk ngomong bahasa Inggris cuma bisa sebatas "general guidelines", seperti yang aku tulis tentang huruf 'a' di atas.

nb: walau di atas aku mengacu ke wikipedia, tolong diingat bahwa saya tidak setuju dengan tabel konsonannya.... Bisa dilihat di entri paling bawah dari http://en.wikipedia.org/wiki/Talk:Indonesian_language#so_sayeth_the_article (iya, itu tulisanku....)
Rin@Rin : 2008-01-03 12:53:24 UTC+0000
Untuk melengkapi >>53, biarlah aku tulis yg di bawah ini:

Petunjuk mengucapkan bahasa Inggris yang benar.

Tentunya tulisan ini dimaksudkan bagi orang Indonesia, kalau tidak demikian, maka aneh ditulisnya dalam bahasa Indonesia.
Walau menulis begini, bukan berarti bahwa penulis mampu mengucapkan bahasa Inggris dengan benar, karena ada unsur kebiasaan, dan ini sulit diubah. Nah, sebaiknya kita mulai saja langsung.

Ada beberapa hal mendasar dalam pengucapan bahasa Inggris yang berbeda dengan bahasa Indonesia:
1. posisi suara dalam mulut: bahasa Inggris biasanya diucapkan lebih ke arah dalam.
2. setiap kata utama dalam bahasa Inggris ada 1 suku kata yang punya penekanan lebih, biasa disebut "accent" atau "stress". Suku kata ini diucapkan dengan volume yg besar, tapi tidak besar2 amat, kecuali memang mau menekankan kata itu. Maksudnya "kata utama" jadi tidak termasuk "function word" seperti: in, of, a, the (kecuali memang ditekankan).
3. "stress-timing", maksudnya adalah, suku kata yg mendapat penekanan akan cenderung muncul dengan periode yg tetap, panjang suku2 kata di antaranya diubah seperlunya.

Mari mulai dari unsur yg pertama. Bahasa Inggris punya bunyi yg sekilas mirip dengan /c/, /j/, dan /f/, tapi sebenarnya ada perbedaan kecil.
Bunyi /c/ dalam bahasa Indonesia diucapkan dengan menempelkan bagian lidah yg dekat ujung (tp bukan ujungnya) ke langit2, sedangkan /c/ dalam bahasa Inggris yg ditempelkan ke langit2 adalah bagian yg lebih ke belakang lagi. Huruf /j/ mengikuti prinsip serupa.
Bunyi /f/ dalam bahasa Indonesia diucapkan dengan membuka bibir tidak terlalu besar lalu menghembuskan nafas, sedangkan dalam bahasa Inggris diucapkan dengan menempelkan bibir bawah ke gigi seri atas lalu melepaskannya (sambil menghembuskan nafas tentunya). Huruf /v/ prinsipnya sejenis.

Tambahan:
Huruf /s/ yg muncul bukan di awal kata hampir selalu mempunyai bunyi /z/, ini termasuk kata2 umum seperti "is" dan "has". Perbedaan ejaan Inggris dan Amerika seperti pada "civilisation' dan "civilization" juga disebabkan oleh ini, Inggris mau ejaan yg sesuai sejarah (pakai 's') sedangkan Amerika maunya yg seperti suaranya (pakai 'z'). Agak lupa kapan 's' melambangkan bunyi /s/, tapi kalau ga salah, minimal pada: awal kata, di akhir kata kalau didahului bunyi /t/ dan /p/ ("cats" dan "hops").

Sendainya bentuk mulut sudah benar, maka unsur yg kedua pun jadi lebih alami. Cara mengucapkan bahasa Inggris membuat mulut serasa lebih kaku, dan ini agak memaksa penggunaan "accent". Mana suku kata yg perlu diberi penekanan itu kadang bisa ditebak tapi kadang ya memang harus tau, jadi sulit untuk menjelaskannya.
Unsur yg ketiga silahkan dicoba sendiri.


Tambahan:
Orang Indonesia biasanya kalau kalimatnya menggantung/belum selesai dan lagi berpikir, maka biasanya suku kata terakhir diucapkan dengan nada tinggi dan huruf hidupnya dipanjangkan. Orang Inggris biasanya tidak begitu, melainkan kata terakhirnya akan dihabiskan saja. Jadi, untuk menunjukkan bahwa mereka sedang berpikir, biasanya menggunakan kata2 lain, seperti: um..., well....
Menurut pengamatan, cara bicara seperti ini berhubungan dengan penggunaan "stress" di atas. Bahasa Inggris itu ibarat perkusi: kadang keras kadang lembut tapi suaranya tidak bisa terlalu lama, dengan cepat harus menghilang, dan selain itu relatif tidak punya nada (benernya ada sih, tapi ga terlalu dominan). Soal yg terakhir ini, kadang kalimat tanya pun nadanya tidak naik. Sedangkan bahasa Indonesia itu nadanya lebih naik-turun dan suaranya bisa dipanjangkan, tapi volumenya cenderung tidak berubah.

Akhir kata, maaf tidak terlalu teratur. >_<
Rin@Rin : 2008-01-03 13:22:46 UTC+0000
diacu: >>65
Apologetika >>58 tentang >>56
Kalau dilihat di wikipedia, sebenarnya masih ada pembedaan antara ɔ dan o, tapi karena saya sendiri tidak begitu mengerti bedanya dan juga tidak punya contoh yang jelas, jadi tidak ditulis....
Rin@Rin : 2008-01-03 13:45:59 UTC+0000
Sempat terpikir untuk membuat semacam buku pelajaran bahasa Indonesia, mungkin dimasukkan ke wikibooks, gitu, tapi melihat betapa wikibooks sangat *amburadul ga karu-karuan* jadi susah juga, huhu....

Di wikibooks, tepatnya: http://en.wikibooks.org/wiki/Indonesian_Lesson_8, ada tulisan di bawah:
Note: The word "tinggal" is a tricky word. If it is used alone (not conjugated), it means to live or to stay. However, if you conjugate it, it means to leave or to die. Many people got confused on this. Think of it in Indonesian culture perspective. Many indigenous Indonesian believe that when people die, their soul is here to stay.

Waktu pertama kali membaca ini, serasa ada yang aneh, karena rasanya "meninggal" tidak ada hubungan dengan "tinggal". Sekarang baru terpikir "bukti" bahwa itu beda.
1. Penggunaan me-
Me- digunakan hanya dalam 2 kasus.
Kasus pertama yaitu pada kalimat *aktif transitif*, jadi bukan kalimat pasif maupun aktif intransitif. Tentunya "meninggal" bukanlah kalimat aktif transitif, jadi bukan ini.
Kasus kedua yaitu pada kata kerja tertentu yang intransitif. Kata2 "tertentu" itu yaitu kata kerja yang dibentuk dari akar kata yang bukan kata kerja, misalnya: hilang (k. sifat) jadi menghilang; selam (k. sifat?) jadi menyelam (ini didiskusikan di bawah aja deh....). Sedangkan kata kerja intransitif yang akar katanya sudah kata kerja tidak pernah diberi imbuhan me-. Kalau "meninggal" itu kata kerja, seharusnya masuk kategori ini, tapi nyatanya tidak ada kata "tinggal" atau "ninggal" yang bukan kata kerja, jadinya bukan ini juga.

Kesimpulannya, "meninggal" itu kata dasar, bukan kata dasar diberi imbuhan.

2. Penghilangan imbuhan me-
Dalam bahasa sehari-hari, imbuhan me- selalu dihilangkan, tapi yang demikian tidak pernah terjadi pada "meninggal", jadi "me-" pada "meninggal" bukanlah imbuhan.

Q.E.D.


Nah, soal "selam". Kesannya ini kata kerja, tapi kalau iya, maka kata kerja intransitifnya seharusnya tidak pakai "me-".
Selain itu, imbuhan -i salah satu fungsinya adalah mengubah kata kerja intransitif jadi transitif, dan bentuk transitifnya itu "menyelami", jadi "selam" jg bukan kata kerja intransitif. Karena itu ya harusnya kata sifat.
Masalahnya kata "selam" tanpa imbuhan rasanya hanya muncul di "kapal selam", jadi sulit juga menganalisanya. >_<
1peH@Rin : 2008-01-05 17:58:47 UTC+0000
diacu: >>63
>>58
Menurutku O ada 2 sih. Satu yg seperti pada kata "rokok". Yang satu lagi spt pada kata "soto". Yg "rokok" pengucapannya spt antara O dan A. Menurutku bgt sih.

Wah Rin ini sekolah jurusan apa sih? Kok bisa mengerti banyak ttg linguistik itu belajar sendiri atau gimana ya?
Rin@Rin : 2008-01-06 02:04:39 UTC+0000
diacu: >>65
>>62
Hm...  antara "rokok" dan "soto" bukannya sama aja, ya? Tapi sepertinya itu contoh yang bagus, karena sepertinya 2 'o' berderet itu 'o'-nya beda, seperti 2 'é' berderet juga beda.
Sepertinya di 2 'o' maupun 2 'é', huruf pertama lebih "terbuka" dari yang kedua. Maksudnya "terbuka" itu lidahnya lebih ke bawah, jadi rongga udara di atas lidah lebih besar (terbuka).

Kalau dibilang pengucapannya antara "O" dan "A", jadi mirip cara orang Islam nyebut "Allah", dong, ya.

Jurusannya ga ada hubungan banget dengan ini ^^, EEE di NTU, spesialisasi DSP. Kalau mau dihubung-hubungkan, ya paling "DSP itu ada Speech Processingnya". (maksa) :P
Ini sebenarnya dari pengamatan setelah pernah mendengar native speaker (= "penutur ibu"?) berbagai bahasa ngomong, ditambah ilmu dari Mbah Wiki, tentunya ditambah juga pengalaman belajar bahasa. (tapi yang terakhir ini ga nolong masalahan pengucapan, karena jarang sekali yang menekankan pengucapan, lebih banyak ke tata bahasa dan kosa kata)
Di wikipedia bagian IPA (International Phonetic Alphabet) dijelaskan secara teknis dan detail bagaimana menghasilkan suatu bunyi, bisa dipelajari dari situ. Kalau belum pernah baca mungkin terlalu rumit, apalagi kalau yg dibaca bunyi yang terlalu susah, jd lebih baik mulai dr yg ud diketahui.
asa@Rin : 2008-01-06 05:46:35 UTC+0000
diacu: >>66
>>58
soal e itu bukannya termasuk aksen yah?
soalnya org maluku klo ngomong gada 2 macam e.
apa klo ga ngomong pake 2 e lalu bukan bhs indo yg baik dan benar?
yg emang ada 2 e itu kan aslinya bhs jawa
1peH@Rin : 2008-01-06 07:36:37 UTC+0000
diacu: >>66
>>63
Sepertinya mending ngomong langsung yah. Barangkali cara pengucapanku beda dgn cara pengucapanmu. Karena menurutku cara pengucapan o pada "rokok" dan "soto" jelas beda. Kalau 'o' yg pertama dan 'o' kedua pada "rokok" tak terasa beda.
Contoh lain adalah seperti o pada "ngomong" yang beda dengan "moto". Sptnya itu beda o yang di >>60
Kalau menurutku sih ada 3 e : e pada kata "boleh", e pada kata "sebelas", e pada kata "remeh" yang mana pengucapannya mirip dgn "man" di bhs Inggris.
Lalu cara orang Islam menyebut Allah itu menurutku kedengarannya seperti 'auloh' dgn o di sini spt o di kata 'ngomong', bukan o pada 'moto'.
Rin@Rin : 2008-01-06 11:05:47 UTC+0000
diacu: >>67 >>68
>>64
Maksudnya "aksen" itu "penekanan" atau "logat"? Saya asumsi yg kedua.
Sebenarnya ga tau deh ya itu contoh bahasa Indonesia yg "bener" atau yg "umum" atau yg "sampai di telinga si penulis artikel", soalnya dulu juga ga sadar ada 2, jadi ya ngikut aja, toh akhirnya berasanya begitu. Entah sih benernya; bahasa Indonesia ga ada "standar pengucapan" sih ya, ga kaya Inggris ada "Queen's English". Jadi ya ga tau deh kalau soal Jawa dan Maluku.

Tapi kalau orang Batak kasusnya jelas beda lagi, hehe....

>>65
Bingung nih; kebanyakan 'o' tanpa pengelompokkan yang jelas.... :S
Misalnya, apakah kedua 'o' pada "soto" itu sama?
Lalu, apakah kedua 'o' pada "ngomong" juga sama? Yang sama dengan "rokok" atau "soto"?
Begitu juga dengan "moto", apakah keduanya sama dan sama juga dengan "moto"?
Sebenarnya masih agak bingung juga dengan 'o' sih, ga gitu berasa beda juga, tapi ya samar2 serasa beda. :S

Kedua 'e' pada "remeh" apakah sama? Menurutku yang pertama dan kedua beda, dan yang kedua itu sama dengan pada kata "boleh", jadi balik ke teori yang sebelumnya, kalau 2 "e" berderet bakal beda.
1peH@Rin : 2008-01-06 17:26:22 UTC+0000
diacu: >>69
>>66
'Remeh' dan 'boleh', e-nya sama? Terdengar beda menurutku. Dan menurutku kedua 'o' pada 'soto' dan kedua 'e' pada 'remeh' perbedaannya terlampau kecil. Lebih jelas perbedaan antara 'mo' pada 'moto' dan 'ngo' pada 'ngomong'. Sedari kecil saya merasa ada 8 huruf vokal di bahasa Indonesia: a, i, u, dua 'o', tiga 'e'. Yang lain hanya perbedaan kecil saja.
Dalam bahasa Jawa, pengucapan 'coro' dgn 'o' mirip 'moto' berarti 'kecoa' dan dgn pengucapan mirip 'ngomong' berarti 'cara'.
1peH@Rin : 2008-01-06 17:35:31 UTC+0000
diacu: >>69
>>66
Menurutku pengucapan 'e' pada 'remeh' itu mirip pengucapan Inggris 'cat' atau pengucapan bahasa Jerman dari ä (a umlaut), sedangkan 'e' pada 'boleh' mirip pengucapan pada abjad 'e' yang seharusnya. maksudnya kalau disuruh mengucapkan huruf E, bukanlah E spt pada kata 'lembah' atau 'rengek', tp spt pada kata 'boleh'.
Rin@Rin : 2008-01-07 13:33:40 UTC+0000
>>67
Yang maksudmu sama atau beda itu 'e' yang mana? Kan ada 2. Ko lagi2 ga disebut...? :S
Kan bingung....

Jd bingung kalau mu bilang "soto" dan "remeh" bedanya kecil, soalnya setahuku itu bedanya justru jauh....
Daripada ngomong ga jelas gini, mending pake simbol IPA, biar lebih jelas maksudnya bagaimana. Jd misal, menurutku "remeh" itu: [rɛmeh], "soto" itu [sɔtɔ], "ngomong" itu [ŋomɔŋ]

>>68
Kayanya ga mungkin 'e' pada remeh sama dengan "cat" deh, soalnya vokalnya "cat" itu ga ada di bahasa Indonesia.
Lalu kalau ä, maksudnya pada kata seperti apa?
Dan terakhir, berhubung ketiga 'e' pada "lembah" dan "rengek" itu beda, jadi apakah 'e' pada "boleh" itu tipe ke-4?
1peH@Rin : 2008-01-07 18:16:45 UTC+0000
diacu: >>71
Ok, mungkin saya memberi contoh yang salah pada kata 'cat' dan 'ä'.
Sepertinya kita ada perbedaan dalam cara pengucapan. Bagi saya, pengucapannya adalah [rɛmɛh], [soto], [ŋɔmɔŋ], [moto], [rɔkɔk], [boleh], [ləmbah], [rɛngɛk].
Saya menemukan di omniglot dan wikibooks bahwa ada 3 pembedaan 'e' dan 2 pembedaan 'o'.

Selengkapnya lihat di http://www.omniglot.com/writing/indonesian dan http://en.wikibooks.org/wiki/Indonesian/Lessons/Alphabet

Bagaimana dengan yang lain? Apakah ada yang pengucapannya berbeda dengan saya atau rin?
Rin@Rin : 2008-01-08 02:27:20 UTC+0000
>>70
Benernya aku emang cukup ga sensitif dgn bunyi sih, makanya justru belajar phonetic. Jd seperti 'e' dan 'ɛ' itu perlu belajar dulu baru sadar beda. Kalau 'o' dan 'ɔ' sebenarnya masih bingung sih, jangan2 ternyata masih salah ngebedainnya. :(
Tp emang sih kedua pasang bunyi tadi allophone, jadinya apa mungkin ya orang yang sama pun di kondisi berbeda akan pengucapannya berubah-ubah?

Yang bilang 'e' itu ada 4 bunyi kayanya ga banyak deh, karena seperti sudah kubilang, "schwa" dan "middle vowel" itu di IPA saja tidak dibedakan (jadi simbol IPA buat huruf 'e' cuma ada 3), tapi mungkin bedanya kalau "schwa" cenderung melesap, kalau "middle vowel" tetap, contoh:
terenggiling, kerapu, engga --> trenggiling, krapu, ngga

Tapi seperti "genangan" jarang berubah jadi "gnangan". (ga tau ya kalau pengalamanmu beda) ^^;;;
Rin@Rin : 2008-01-10 18:56:23 UTC+0000
Tulisan di bawah ini adalah terjemahan dari http://netlurker.blogspot.com/2008/01/how-to-win-mass.html

*Cara Memenangkan Massa*

Gunakan seorang wanita boneka supaya meneteskan air mata...

... atau ya bisa saja lakukan sendiri, tapi karena ini hanya berlaku pada ½ dari populasi, jadi mending tulisnya seperti tadi.

Bagi yang tidak tahu, ini lagi membicarakan Hillary Clinton; siapa dan di mana saya berada tidak ada hubungan dengan pernyataan tadi.

Jadi begini, wanita ini meneteskan air mata dan dengan demikian membuat rakyat bersimpati dengannya. Nah, coba pikirkan, bagaimana kalau Obama yang begitu? Apa dia bakal dapat dukungan? Saya harap sih iya, tapi itu bodoh, jadi ya begitulah!

Dungu sekali! Seharusnya masyarakat memilih pemimpin karena kecocokan pikiran dan bukan karena belas kasihan!

Seandainya saya tinggal di Amerika, mungkin saya bakal memilih Obama. Bukan karena saya mendukung dia, tapi karena saya tidak bisa membiarkan satunya menang.
Rin@Rin : 2008-01-11 17:41:34 UTC+0000
Siapa sih yang menulis komentar ini?

(start quote)
Kalo gitu kita buat link baliknya juga.

The article below is a translation from
http://melet.us/Rin/72
(end quote)

Tentu saja penerjemahan dalam arti ini tidak bisa bolak-balik, jadi kalau A diterjemahkan jadi B, maka A bukanlah terjemahan dari B....
Jangan aneh2, dong. ^^;;;;;
Rin@Rin : 2008-01-23 17:43:21 UTC+0000
Tulisan di bawah ini adalah terjemahan dari http://netlurker.blogspot.com/2008/01/dan-brown-principle.html

Prinsip Dan Brown

"Buatlah 3 karya biasa-biasa saja baru yang bagus, yang terjual jadi 4"

Tentu saja kalau bisa sih buat 7 buku bagus jadi sekalian bisa buat beberapa yang ga penting, macam Joanne Rowling. Sayangnya sih pikiran kreatif tidak selalu bisa berjalan.

Terus, bagaimana kalau adanya cuma 1 ide hebat dan beberapa yang biasa-biasa? Lakukanlah seperti Brown! Jadinya kan sekalian bisa melatih ilmu tulis-menulis untuk mempersiapkan diri membuat satu karya besar itu, atau malah *beberapa*.
Rin@Rin : 2008-02-03 14:47:25 UTC+0000
Sebenarnya hal ini pernah dibahas di buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas III SMA dan selain itu bahkan pernah ku tulis antara lain di >>48, tapi karena kelihatannya banyak yang antara: tidak tahu, tidak peduli, atau bahkan memilih tidak mengikuti, maka mungkin ada baiknya kutulis saja di sini, toh selain itu ada permintaan juga.


Perhatikan kalimat2 berikut:
1. Rumah ini mau dijual.
2. Pencuri itu berhasil ditangkap polisi.

Berasa ada yang aneh? Harusnya sih tidak (karena kalau sudah berasa maka tidak ada gunanya ini ditulis). Di kalimat pertama, sebenarnya yang mau tentunya bukan rumahnya, tapi penggunaan "rumah ini mau" menandakan bahwa yang berkehendak adalah rumahnya, jadi bukankah itu aneh? Di kalimat kedua, sebenarnya yang mempunyai keberhasilan adalah polisinya, bukan pencurinya, tapi karena bentuknya seperti itu, seolah-olah pencurinya yang berhasil.

Waktu itu sih, saat pelajaran ini diberikan ke murid-murid banyak yang protes, alasannya karena "toh sudah biasa demikian". Ini keberatan jenis pertama, yang pada dasarnya adalah perdebatan antara *prescriptive vs descriptive grammar*, yaitu apakah suatu tata bahasa merupakan aturan yang harus ditaati atau hanyalah penjelasan cara orang memakainya, jadi tidak harus ditaati. Saya sendiri lebih cenderung ke yang *prescriptive* karena kalau aturan diubah seenaknya oleh masyarakat, berarti itu kan main hakim sendiri. Yang berhak mengubah aturan sebenarnya kan antara: masyarakat dengan suara bulat atau pihak berwenang. Karena kalau aturan itu diubah seenaknya, bagaimana cara orang lain tahu aturan mana yang berlaku? Agar aturan itu dapat ditaati oleh semua pihak, tentunya harus secara resmi diberlakukan.

Di tempat lain ada yang memberikan pandangan bahwa penggunaan kata "mau" itu bukanlah kata kerja, melainkan kata kerja pendamping (auxiliary verb) yang fungsinya adalah menandakan *aspect* dari kalimat itu. Entah aspect itu bahasa Indonesia apa, tapi secara praktis maksudnya secara khusus terhadap kata "mau" adalah bahwa mau itu menandakan masa depan yang artinya adalah "akan". Dalam kalimat seperti "dia sudah sekarat dan mau mati", pendapat ini bisa diterima, tapi dalam kalimat di atas ini tidak bisa diterima karena 2 alasan:
1. toh ada yang memang "mau", yaitu pemiliknya, jadi sepertinya ini gabungan dari: topicalisation + subject dropping + incorrect correction. Maksudnya adalah terjadi perubahan yang melalui 3 tahap, yaitu:
- mula2: "Saya mau menjual rumah ini"
- topicalisation: "Rumah ini saya mau jual" (imbuhan me- lesap)
- subject dropping: "Rumah ini mau jual"
- karena bentuk tadi ada obyek dan kata kerja, maka obyek dijadikan subyek dan bentuknya dijadikan pasif, jadinya: "Rumah ini mau dijual"
2. orang biasanya bisa menyatakan masa depan itu kalau bukan karena "biasanya terjadi demikian" berarti "karena memang direncanakan". Kalau kita mau berpendapatan bahwa "mau" menandakan masa depan, berarti harusnya karena biasanya demikian, tapi tentunya hal ini tidak berlaku di sini, jadi balik lagi ke "rencana/kehendak", dan itu sudah dijabarkan di atas.

Selain segala yang di atas, yang saya tidak setuju ada satu lagi, yaitu: kalaupun kita anggap bahkan satu saja dari kedua pendapat di atas adalah benar, yaitu bahwa: "toh semua begitu" atau "mau di sini tidak menyatakan kehendak, tapi masa depan", berarti kita menghadapai masalah *ketidakpastian arti*, ambiguitas. Misalnya kalimat tadi: "Pencuri itu berhasil ditangkap polisi," lalu kita anggap bahwa yang berhasil itu polisi karena tidak wajar bahwa yang ditangkap itulah yang berhasil, lalu kalau mau menyatakan bahwa yang ditangkap itu memang *berhasil* karena dia memang berrencana untuk ditangkap? Mungkin aneh tapi di cerita tentang mata-mata itu sangatlah mungkin (atau misalnya di *Prison Break*, tapi karena saya tidak menontonnya jadi kurang tahu). Lalu kalau orang mengatakan: "Saya mau dihukum," maka seturut dengan aturan umum (yang saya tidak suka) ini biasanya maksudnya bahwa ada yang mau menghukum dia (atau dia akan menjalani hukuman), padahal secara harafiah kan artinya bahwa dia berkehendak untuk dihukum, lalu bagaimana kalau misalnya dia memang demikian? Misalnya dia insyaf jadi memilih untuk dihukum, seperti para peri rumah di cerita Harry Potter, atau mungkin memang punya kelainan....
Rin@Rin : 2008-02-07 08:27:28 UTC+0000
diacu: >>[yuku/925]
Terjemahan bahasa Jepang dari suatu lagu terkenal:

*雲上の国*

君の顔の影で
昔から探してた
愛と命を
見つけた

僕に来てくれて
純情な心を贈った
自分の中の願望を
いつもに習ってみる

演じてくれた
雲上の国の曲を
お城が平和である国
そして今あそこへ乗せている

君の心には愛の言葉がいっぱいある
悲しみにも喜びにもはっきり現れる
Rin@Rin : 2008-02-07 08:28:19 UTC+0000
Yang ini bahasa Inggrisnya:

*A Land on the Clouds*

In the shade of your face
I have found love and life
That for long have I been looking for
In the time long gone

You came to me
and offered me such a naïve heart
always trying to learn
the desire in the self

You performed for me
A song about a land on the clouds
Where peace become its castle
And now you are taking me there

And lo! Your heart is full words of love
That are clearly revealed both in joy and sadness
Rin@Rin : 2008-02-13 08:42:57 UTC+0000
diacu: >>79
Iseng:
Þis is þe way Engliʃ ʃould be written!
1peH@Rin : 2008-02-14 09:47:36 UTC+0000
diacu: >>80
>>78
Wah pakai bahasa kuno yah!
Rin@Rin : 2008-02-14 12:05:34 UTC+0000
diacu: >>81
>>79
Engga ko, pakai *Modern English*.
1peH@Rin : 2008-02-14 16:49:12 UTC+0000
diacu: >>82
>>80
Maksudku huruf kuno.
Rin@Rin : 2008-02-15 07:22:00 UTC+0000
>>81
Oh maksudnya itu. Hm... ga juga sih:
Yang Þ, þ itu emang huruf kuno
Yang Ʃ, ʃ itu sebenarnya huruf baru, dari 1847

Keterangan lebih lanjut, silahkan buka Wikipedia: di "Thorn (letter)" dan "Esh (letter)"
^^
Rin@Rin : 2008-02-21 12:04:52 UTC+0000
>>77 diterjemahkan lagi deh, sekaligus mengubah beberapa:

*A Land on the Clouds*

In the shade of thy face
I found love and life
That for long have I been searching for
Through time long gone

Thou cam'st to me
And offer'dst me a heart so pure
Always triest to learn
the desire in the self

Thou perform'dst for me
A song about a land on the clouds
Where peace become its castle
And now thou art taking me thither

And lo! Thy heart is brimming with words of love
That are clearly revealed both in joy and sadness
Rin@Rin : 2008-02-21 12:17:02 UTC+0000
Iseng ah, menerjemahkan >>[yuku/894]
Diterjemahkan dengan "gaya" yang sama dengan yang di atas.

Oh, when the old sun is tired of sparking
Oh, when the flirty moon refuses to smile
Wrinkling, no cheerfulness
Blundering, creeping in the dark

Black now
Black after
This darkness
Will it change?

And ye little candles
Can ye spark?
Can ye give
A streak of light?
Rin@Rin : 2008-03-06 07:10:11 UTC+0000
*Salah siapa?*

Si A punya masalah dengan seseorang di kantornya, kita sebut saja orang ini si B. Si B ini sebenarnya OM, tapi harusnya dia tidak akan baca ini sih....

Kasus 1:
A dan B perlu menghubungi seseorang di Jakarta, sebut saja si C, tapi baik A dan B tidak tahu nomor telepon y.b.s. maupun nomor kantornya. Akhirnya si C telepon dan si B menanyakan nomor teleponnya lalu akhirnya tau dan dicatat. Sampai segini beres.
Esoknya, si A perlu menghubungi si C, karena itu A bertanya pada B, tapi:
B: (sambil tertawa) Ga tahu.
A: Loh? Bukannya kamu kemarin catat?
B: Harusnya kamu yang catat.
A: Kemarin kan kamu udah catat.
B: Ga ada.
A: Ko ga ada? Udah dibuang?
B: Iya

Padahal B bukan ga ada urusan dengan C sama sekali. Catatannya sendiri ditaruh di mejanya, jadinya ya A juga tidak bisa sembarangan ambil. Memang sih A harusnya mencatat juga, tapi itu kan catatan yang umurnya baru sehari, masa udah dibuang?
Salah siapa?

Kasus 2:
Akhirnya C menelepon lagi dan B kembali menanyakan nomornya. Lalu terjadilah B perlu menghubungi C (nah kan B jg ada urusan). Jadi B mencoba menelepon C. Aku tidak ingat persis bagaimana B mencatat nomornya, tapi kayanya sih: 62816******. B langsung memasukkan nomor itu ke telepon, tapi begitu 8 nomor ditekan, telepon langsung mulai menyambung, kayanya sih karena 8 nomor pertama adalah nomor telepon di Singapura yang sah. B bingung kenapa, jadi A bilang bahwa itu nomor Indonesia jadi perlu diawali IDD code (saat itu A tidak tahu IDD codenya), tapi walau sudah mendengar ini, si B diam saja dan mencoba lagi memasukkan nomor tadi, tentunya terulang lagi kejadian setelah 8 nomor langsung mulai menyambung. B langsung memutuskan telepon dan bingung2 sambil bilang nomornya salah. A berusaha turun tangan jadi bertanya nomor IDD di Singapura apaan, tapi B diam saja. Akhirnya kembali C menelepon dan kepadanya si B bilang nomornya salah dan bertanya lagi.
Salah siapa?

Kasus 3:
Untuk keperluan kerja, A perlu menyambungkan suatu alat dengan komputer. Sambungannya pakai USB, kabel, dan adapter; yah harusnya tahu kan ya? Setelah beberapa lama, A selesai melaksanakan tugasnya tapi karena tidak yakin maka kabel dibiarkan saja dulu di sana, maksudnya agar jika setelah diuji ada kesalahan maka bisa langsung dicolok lagi dan dibetulkan. Sebelum A yakin benar bahwa kerjaannya beres, B mulai protes:
B: Ini punyamu? Jangan taruh sini dong!

Kabel tersebut tentunya milik kantor, bukan milik A, tapi B memerlakukannya seolah-olah A sudah "mengotori" kantor dengan meletakkan milik pribadinya sembarangan. Apa wajar? Apalagi mengingat bahwa A belum menyimpannya lagi karena mungkin masih diperlukan.
Salah siapa?
Kelvin@Rin : 2008-03-07 06:29:03 UTC+0000
diacu: >>87
klo mnurut ku yang salah B semua..
(hanya mencoba menjawab)
Rin@Rin : 2008-03-10 07:59:05 UTC+0000
>>86
Justru bagus dong dijawab, kalau tidak ada komentar kan sedih. :(

Denger2 sih orang Singapura tuh kalau kerja dan job desc.-nya bilang A, B, C, maka mereka ga mau bertanggung jawab terhadap (A+B+C)', tapi... ga tau deh ya. Rasanya dalam hal ini bukannya "tidak peduli" tapi lebih ke arah "berusaha mengganggu kerjaan orang lain". :(
Rin@Rin : 2008-03-12 04:53:27 UTC+0000
diacu: >>89
Bingung nih, dulu banget taunya Caltex itu perusahaan "TEXtile", abis itu katanya itu nama universitas, tapi terakhir taunya itu perusahaan minyak.
Yang bener apa sih? :(
f_u@Rin : 2008-03-12 09:59:24 UTC+0000
diacu: >>90 >>102
>>88
perusahaan minyak dan tambang cenderung low profile,... di jkt sini kantor2 perusahaan minyak asing hampir ga ada yang pasang papan nama gede... (padahal kantornya gede2 juga)

emang ada kok perusahaan minyak namanya caltex, yang logonya bintang itu kan...
Rin@Rin : 2008-03-12 13:24:24 UTC+0000
diacu: >>91
>>89
Ya emang ada, terus hubungannya dengan low profile apa?

Dan masalah utama tidak terjawab....
Rin@Rin : 2008-03-12 13:33:54 UTC+0000
diacu: >>92
>>90
Yah intinya makin ga ngerti, gitu....
f_u@Rin : 2008-03-13 13:35:19 UTC+0000
diacu: >>93
>>91
intinya mereka tidak mau dikenal publik, maka kita tidak (begitu) kenal...
Rin@Rin : 2008-03-15 15:53:03 UTC+0000
>>92
Hubungannya? ^^;;;;
Rin@Rin : 2008-03-18 08:04:47 UTC+0000
Pernah suatu kali aku berbicara dengan seorang bernama Billy Kristanto.
Percakapannya kira2 begini:
Aku: Pak, ini aku lagi bingung: ko bisa sih ada lagu tangan kiri dan kanan main chordnya beda, yang kiri D, yang kanan Cm.
Billy: Ah, ga mungkin!
Aku: Tapi kayanya hasilnya bagus.
Billy: Oo, itu orangnya pasti ga beres!
Selanjutnya aku mau ngomong lagi tapi orangnya ga menanggapi, jadi ya aku pergi dengan bingung, sambil sakit hati dibilang "gila". Tentu dia tidak bilang aku "gila", tapi dia bilang orang yang berpikiran itu bagus, "ga beres", berarti aku termasuk yang "ga beres". Tentunya "ga beres" = "gila".

Tidak lama setelah percakapan itu, aku menemukan bahwa ada notasi chord yang khusus menandakan tangan kiri dan kanan main chord berbeda, bentuknya 2 nama chord dipisah garis horisontal. Jadi, memang ada bentuk chord seperti itu. Terlebih lagi, bentuk Cm di atas D itu sebenarnya bukan 2 chord berbeda, tapi cuma D11, jadi sangat tidak aneh.

Kesimpulan: si Billy itulah yang gila, punya gelar musik tapi hal begitu saja tidak tahu.
Selain itu, ada yang menyedihkan, karena ada orang yang tiap kali begitu mengagung-agungkan si gila ini, mengatakan dialah... apa ya istilahnya, semacam "pahlawan" pelaksana mandat budaya bagi gerakannya.
Rin@Rin : 2008-03-18 08:21:33 UTC+0000
>>94
Setelah dipikir lagi, kayanya bukan Cm di atas D, tapi C di atas D. Yah ga gt penting sih, yg penting notasi chord di atas chord itu ada, jadi terlepas dari apa anggotanya, itu bukan hal yang aneh.
Rin@Rin : 2008-03-18 08:40:06 UTC+0000
diacu: >>97 >>105
Kasus lain:
Pernah aku ngomong dengan orang lain, yang merupakan guru. Kali ini lagunya dari Symphony no. 9-nya Beethoven, bagian yang lebih terkenal sebagai Ode to Joy atau Song of Joy (atau apapun lah variasinya).
Sebagai penyegar ingatan, begini sepotong melodinya: 3 3 4 5 | 5 4 3 2 | 1 1 2 3 | 3 2 2 .
(itu titik terakhir bagian dari melodi)
Untuk mudahnya, kita anggap saja lagunya dalam C mayor.

Karena dari dulu aku sangat bego urusan chord, dan saran orang biasanya: "coba aja satu per satu", maka kucoba ikutin.
Itu cara yang bego sih, menurutku, karena jumlah chord itu dengan mudah bisa mencapai setidaknya 13 * (2*3*2*2) + 4 + 3 = 319, belum termasuk inversi. Tapi toh biasanya orang menambahkan saran, "pakai 7 yang dasar saja". Nah, lebih manusiawi.

Dengan 2 saran itu, kucoba masukin.
Bar pertama: C, tidak ada protes dari orangnya
Bar kedua: Kucoba G enak, tapi coba F enak juga, jadi ya kutanya orangnya.
Langsung orang yang bersangkutan marah besar, karena itu sangat tidak mungkin. Katanya nadanya "sol", jadi ga mungkin chordnya IV.

Sakit hati lagi, cuma bertanya dengan polos dibalas dengan marah besar. Karena penasaran aku berusaha cari tau bagaimana cara berpikirnya Master Ludwig. Sebagai perbandingan, aku coba juga lihat Kidung Jemaat edisi akor. Ternyata kedua sumber itu memakai chord IV juga di deretan nada yang seperti itu, bedanya mereka pakai di baris terakhir, bukan awal. Mungkin memang aku bego pakai di baris awal, tapi toh nadanya di bagian itu sama persis, jadi ya dilihat dari sepotong itu tidak ada beda. Kalau tebakanku sama dengan sang maestro, berarti yang bego siapa?
Rin@Rin : 2008-03-18 08:56:55 UTC+0000
>>96
Catatan tambahan:
1. nama orang tidak kusebut karena toh banyak yang tidak tahu orangnya
2. angka 319 itu batas bawah, bukan total yang ada
3. 7 yang dasar memang manusiawi, tapi tetap bego karena banyak lagu yang pakai lebih dari 7 itu
4. catatan asli maestro sebenarnya agak susah dibuktikan, tapi cukuplah ada dukungan dari penulis KJ edisi akor, minimal aku bukan "satu-satunya si bego/gila"
S&Y(q8zKMxKBtLYF)@Rin : 2008-03-19 13:48:19 UTC+0000
diacu: >>99 >>102 >>110
Aissssss gila aja lu main Cm di atas D

itu sama aja kedengerannya mainin Am sama B barengan

kayanya bener yang denger itu lalu bilang bagus sih telinganya agak agak
Rin@Rin : 2008-03-19 17:18:58 UTC+0000
diacu: >>100
>>98
Kalau C11?
Kalau sampai ada namanya gitu, kan berarti yang ga beres ada banyak banget dong ^^:;;;
Rin@Rin : 2008-03-19 17:21:12 UTC+0000
>>99
Eh maksudnya D11.
Tapi karena yg penting x11, jd ya x-nya apa ga penting.
Rin@Rin : 2008-03-19 17:36:44 UTC+0000
Kalau lihat di http://www.guitarsite.com/chords3.htm
ternyata menyebut D11 sebagai "Cm di atas D" namanya polychord.
Rin@Rin : 2008-03-19 17:53:00 UTC+0000
diacu: >>103
Kenapa, ya, seringkali walaupun aku sudah memaparkan kasus dengan panjang lebar, memberikan argumen pendukung, memberikan sanggahan terhadap lawannya, tapi dibalasnya dengan sesuatu yang singkat padahal seringkali itu justru sudah disebut di sanggahan....
contohnya: >>39, >>98

Atau walaupun jelas pertanyaannya apa, tapi dijawab dengan sesuatu yang tidak ditanya, dan herannya orang yang bersangkutan merasa sudah menjawab pertanyaan. Lebih parah lagi sebenarnya yang dijawab itu aku sudah tahu. Justru seringkali karena sudah tau B maka bertanya yang A..
contohnya: >>89

Apakah karena sesuai dengan kata Derianto di sini [deri/366] dan berhubungan dengan yang ini [deri/455]?
Rin@Rin : 2008-03-19 17:54:03 UTC+0000
diacu: >>104
>>102
Ah kurang tanda >>nya ^^;;;;;
ralat:
Apakah karena sesuai dengan kata Derianto di sini >>[deri/366] dan berhubungan dengan yang ini >>[deri/455]?
Rin@Rin : 2008-03-19 17:55:42 UTC+0000
>>103
Ah, parah, yang ditulis versi pendek namanya, bukan nama yang tercatat. ^^;;;;

ralat lagi: (padahal ga penting)
Apakah karena sesuai dengan kata Derianto di sini >>[derianto/366] dan berhubungan dengan yang ini >>[derianto/455]?
entah(FhK56oAcYfNL)@Rin : 2008-03-19 19:05:05 UTC+0000
diacu: >>107
>>96 aku kurang paham ttg chord, tp mnrtku sih tergantung dlm konteks apa. kl bicara musik dlm
konteks art (seni) dan creativity (kreatifitas), tidak ada benar atau salah, tp yg bermain adalah
emosi, perasaan, pendengaran, dan feeling bahkan ekstrimnya, kadang komposer itu "semau2 gue",
kl mnrtnya "benar" ato "enak" ya ditulis/dimain aja meskipun secara teori ga bener ato ga masuk
akal. yg aku pernah main/denger itu lagu2 karanganya Bela Bartok
http://www.youtube.com/watch?v=tB_-vPlMNYk

Tp ada 1 perkecualian, yaitu teori. pas aku ngambil kelas buat ujian teori musik, ada 2 bagian yg suruh
ngarang lagu, di sana aku ngarang lagu yg "enak", tp sm guruku dibilang salah semua krn mnrt teorinya
itu ini harus gini, ga boleh gini, gitu, dll. tp untungnya ga marah besar ato dibilang "ga beres" hehe...
ななしさん(anonim)@Rin : 2008-03-20 04:36:51 UTC+0000
diacu: >>107 >>108
Si Billy geblek, udah keseringan dipuja-puja jadi lupa daratan dia. Cih!
Rin@Rin : 2008-03-20 11:08:08 UTC+0000
diacu: >>108
>>105
Prinsipku sendiri juga cukup ekstrim, ko, "musik pada dasarnya hanyalah sekumpulan suara", tapi kalau tidak populer ya tidak bisa maksa.
Tapi dalam kasus ini, ini kan sesuai teori, wong ada teorinya dan diberikan sebagai pengetahuan yang *untuk dipakai, bukan untuk dihindari*.

Yang Béla Bartók kenapa ya? Kayanya ga ada yang aneh.

>>106
Ngomong gitu tentang orang ko pake anonim? ^^;;;;
yuku@Rin : 2008-03-21 17:38:58 UTC+0000
>>107
Mengenai menulis dengan anonim, menurut yuku:

Boleh2 saja menulis tanpa nama. Terutama dalam kebudayaan timur atau Indonesia yang
sebagian masyarakatnya kurang bisa membedakan pendapat orang dengan orang itu sendiri,
sehingga beberapa orang memilih tak menyatakan identitas saat menulis sesuatu karena
(misalnya) takut ada orang yang tidak suka pendapat dia dan dia jadi takut dibunuh, dihujat,
dikutuk, dihantam.

Yang lebih parah adalah menulis hujatan, cercaan, hinaan, tanpa menyatakan *alasan*
atau *argumen* yang cukup bermutu.  Misalnya >>106, lalu (terambil dari kisah nyata):
- Sudahlah bung.... Lo udah tau kok jawabannya, jd ga perlu minta pengakuan rekan2 yg lain.
- anjinkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk... lo
- km orang bisanya jelek2 an bisnis orng lain..emng km udh prnh jalani...emang km orng
gagal yang gak pengen orng lain sukses... pergi aja ke laut broooo...hahahaa

Jadi menurutku kalo orang punya alasan bermutu, gapapa dia pos tanpa nama, demi
keselamatan dia. Tapi kalau alasannya ga bermutu, ga pake nama pula, itulah yang terburuk
dari semuanya.
Rin@Rin : 2008-03-22 13:52:31 UTC+0000
>>108
Dilihat dari ejaannya memang kelihatan sebagai "kisah nyata". ^^

Kalau pakai alasan bermutu, itu seperti orang meninggalkan hadiah tanpa nama.
Kalau cuma hinaan, bagaikan kata orang: "Lempar bantu sembunyi tangan."
Rin@Rin : 2008-03-25 11:13:02 UTC+0000
Post >>98 terlihat sangat mirip Billy ("anak"nya kah?):
1. Belum coba udah ngomong, sangat ironis karena Stephen Tong sering bilang "cepat mendengar lambat berbicara".
(setidaknya Billy sendiri tidak mencoba, saya tak tahu dengan yang ini)
2. Menjawab tanpa alasan
3. Menjawab sambil menghina
4. Setelah menjawab langsung cuek, tidak mau mendengar kata2 orangnya lagi.
(mungkin saja yang ini masih membaca, tapi yang jelas tidak pernah balik lagi, sama seperti Billy).

Mengapakah orang yang sangat sesat seperti ini masih dibiarkan ada di GRII? Bukannya sebaiknya sudah dipecat?
yuku@Rin : 2008-03-25 14:23:24 UTC+0000
diacu: >>112 >>113
Pada 2008-3-19, ku pos link ke >>94 kepada milis pemuda-griis@yahoogroups.com dengan
subjek "Tentang Billy Kristanto" dan isi seperti ini:

===
Halo milis pemuda,

Temanku ada yang tulis sesuatu mengenai Billy Kristanto dan gila2an.
di http://melet.us/Rin/94-95

Waktu diajak KKR, katanya dia masih sebel sama Stephen dan Billy itu.

Di situ dibilang mengenai akord D11 dan D + C atau gimana lah, ku kurang
paham. Sebetulnya mana yang betul sih? Tolong *pencerahannya* :D

yuku
===
yuku@Rin : 2008-03-25 14:27:56 UTC+0000
diacu: >>114
Akibat dari imelku (>>111), selain orang yang bertanya "Siapa Rin" secara lisan
padaku, ku menerima imel dari 2 orang juga yang ditujukan hanya padaku,
bukan ke milis.

Imel yang sangat membantu datang dari Akbar, cukup menjawab kebingungan >>94.
Berikut sebagian dari kutipannya.

===
setauku chord 11 itu memang ada.....di musik itu ada chord ke 7, 9, 11, 13 dst....
tapi ga terlalu sering dipakai karna memang bunyinya ga terlalu "nyaman"
di telinga :)

chord 11 itu adalah chord yg ditambah/direplace salah satu nadanya dengan
nada ke 11...
kalo standar biasa kan chord itu nada 1-3-5....ditambah nada 11 itu jadi 1-3-4-5

nah mungkin nada 4 jadi seperti kunci D...tapi ga sepenuhnya bener juga karna
ga semua komponen chord D masuk ke situ....

mungkin ko billy nangkap pertanyaannya ada lagu yg tangan kiri (yg biasa maen
chord rythm) maen C...sedangkan melodinya (di tangan kanan) nada dari kunci D...
kalo itu emang terasa aneh :)
mungkin partitur yg dimaksud itu tangan kiri dan kanan sedang digabung untuk
membunyikan chord 11 itu....
jadi bukan sedang memaenkan 2 kunci yg berbeda secara bersamaan....:D

semoga jawaban yg terbatas dan belon tentu benar ini bisa membantu :)
===
iya nada ke 11 itu sama aja ama nada ke 4....soalnya nada ke 8 kan sama balik
lagi ke nada 1...jadi kalo di kunci C....nada ke 11 itu adalah nada F itu

berarti memang bener itu satu chord...bukan tangan kiri dan kanan maenin chord
yg berbeda hehehe...
===
yuku@Rin : 2008-03-25 15:06:26 UTC+0000
diacu: >>115
>>94
Nah, yang agak mengagetkanku, pada 2008-3-25, ada seorang yang mengaku
"Hamba Tuhan GRII Singapore" mengirim imel pada milis
pemuda-griis@yahoogroups.com, yang seharusnya sih tanggapan terhadap
imelku >>111.

Ku akan pos sebagian dulu di sini, jika tidak ada penyelesaian dari dirinya mungkin
akan kupos lebih banyak.

Subjek: e-mail dari seseorang dengan user id yuku
- Tanggapanku: Kenapa ga langsung reply saja imelku, sehingga ga usa ganti subjek
dan membuat orang lain perlu mencari imel dari yuku yang mana.

Isi imel seluruhnya ditulis dengan *bold*
- Tanggapanku: seperti kebiasaannya waktu menulis kata saat katekisasi dengan
garis bawah beberapa lapis dan dengan tanda kutip kadang beberapa lapis,
dalam dunia digital tampaknya dia memilih bold.

Salah satu kalimat dalam imel.
"bahasa yg dipakai oleh yang bersangkutan didalam menjelaskan e-mail tersebut
sangatlah tidak sopan,tidak etis dan tidak mencerminkan orang yang sudah dididik
didalam gerakan Reformed, bahkan sama seperti orang yg tidak pernah kenal Pak
Billy dan Pak Tong."
- Tanggapanku: siapakah "yang bersangkutan didalam menjelaskan e-mail tersebut"?
Adakah orang yang menjelaskan imelku? OK, jika yang dia maksud yang menjelaskan
imelku adalah ku sendiri, maka... menurutnya bahasa yang kupakai sangat tidak
sopan dan tidak etis. Lalu menurutnya bahasa yang kupakai sama seperti (yang
dipakai) orang yang tidak pernah kenal Pak Billy dan Pak Tong. Berarti bahasa
dipengaruhi juga kenal atau tidaknya dengan Pak Billy dan Pak Tong.
(Menurutku di sini udah cukup ngelantur, jadi ku akan sudahi dulu sampai di sini.)
Rin@Rin : 2008-03-25 16:29:44 UTC+0000
diacu: >>134
>>112
Menarik, tp yg dari "Akbar" itu yang mana, ya? Yang pertama atau kedua? Atau keduanya?

Jawaban yang bagus, karena gaya bicaranya terlihat berpendidikan, sebab diakhiri dengan pernyataan mengakui kemungkinan tidak benar. Kenapa kutekankan itu? Karena teorinya memang tidak benar. ^^;;;;
Salahnya yaitu karena chord 11 bukan nada ditambah atau diganti nada ke 11 saja, tapi ditambah nada ke 7, 9, dan 11. Supaya tidak ad yg protes kalimat tadi, perlu dijelaskan (singkat) bahwa "7, 9, dan 11" bisa sudah dipengaruhi mol dan kres. Lanjut, karena aku ngomongin tentang D11, jadi justru seluruh D masuk, yang ini tidak mungkin ditentang. ^^;;;; "Ketahuan ga nyimak". (jadiin catchphrase, ah)
Tambahan: kalau cuma tambah nada 11, namanya itu "add 11", ada kata "add"nya.

Dan tentu saja, kalau dianalisa terpisah, tangan kiri dan kanan ya main chord yang berbeda, karena kiri chord D lengkap, kanan chord Cm lengkap, kalau digabung jadi D11. Berhubung aku pada saat itu tidak langsung bisa melihat itu sebagai D11, ya yang kelihatan mainin chord berbeda. Toh dilihat dari segi praktek (="practically speaking"), daripada susah ingat apa itu D11, lebih mudah mengingat Cm di atas D, jadi tidak terlalu salah juga.
Rin@Rin : 2008-03-25 16:37:53 UTC+0000
>>113
Mungkin yang dimaksud "e-mail tersebut" adalah tulisan di melet.us di atas. Yah, anggap saja salah kata/istilah. Kalau benar begitu, ya diterima saja.

Kalau menurut orang tertentu (yang silahkan angkat tangan kalau mau), mungkin bahasa yang dimaksud tidak sopan itu penyebutan nama tanpa gelar.
Kalau aku sendiri sih maklumi saja, menganggap itu sebagai bagian dari idiolect seorang yuku, yang di dalamnya penggunaan seperti itu tidak bermaksud tidak sopan.
http://en.wikipedia.org/wiki/Idiolect

Tapi....
seperti aku sudah bilang entah berapa kali, aku tidak suka melihat tulisan yang *imbuhannya dipisah dan kata depannya disambung*.
Jadi orang ini: *tidak mencerminkan orang yang sudah dididik*.
(quoted verbatim out of context for ironic effect)
Rin@Rin : 2008-03-25 18:04:32 UTC+0000
Aku seumur hidup "belum pernah belajar musik".
Selama 17 tahun hidup "belum pernah sekalipun mendengar musik".

Mungkin karenanya caraku memahami musik juga sangatlah tidak wajar.

(Tulisan menggunakan tanda kutip bukan contoh dari tanda kutip tidak perlu, tapi karena maksudnya bukanlah seperti yang dipahami orang awam, tapi menjelaskannya dengan jelas juga susah.)
S&Y(q8zKMxKBtLYF)@Rin : 2008-03-26 03:08:50 UTC+0000
diacu: >>118
By the way lu tulis mengenai pak billy itu karna apa ya?
hanya mau mengekspos "kesalahan dia" ??
Rin@Rin : 2008-03-26 04:26:51 UTC+0000
>>117
Karena diminta menceritakan duduk permasalahannya.
Apa gunanya *hanya membeberkan kesalahan*? ^^;;;
adhia@Rin : 2008-03-27 10:57:47 UTC+0000
diacu: >>121
Dear Rin,
Pertama2x mau bilang, karena tak kenal, maka tak sayang. yah.. maklum deh.
Kalo yang kenal sama Ko billy, ada suatu perasaan kalau ko Billy itu memang orang yang agak unik.
Ko billy gak ngerti musik? hmm... yah enggak juga lah, kalo emang gak tau musik, gak lulus sekolah juga lah..
tapi mungkin memang dia tidak menanggapi pertanyaan kamu dengan serius. gak tau kenapa.. yang pasti gak usah dimasukin ke dalam hati lah.

btw, gue juga gak ngerti seh pertanyaan elo hehe.. (emang gak ngerti musik).
Martin(7cOBYpAh5CGn)@Rin : 2008-03-27 13:27:35 UTC+0000
diacu: >>121
Mau share a few thoughts =)
Awalnya (sampe beberapa waktu lalu :p) aku jg agak troubled sih... Soalny aku jg mayan kagum sama pak Billy. Ha3
Tapi setelah dipikir2, meski pak Billy salah waktu itu pun (aku ga tau, ga ngerti teori musik >.<), mestinya ga masalah yah...
Soalny itu cuma mengingatkan kalo pak Billy masih manusia, yg tentunya punya kelemahan ^^.
Justru kalo pak Billy ada kelemahan, berarti Tuhan harus makin dimuliakan, soalny bisa memakai manusia yang lemah seperti pak Billy dengan luar biasa. (In this case, aku berpendapat pak Billy pelayan Tuhan yang baik, meski ga sempurna ^^)
Soli Deo Gloria :).

Cuma mungkin, yang menimbulkan "keributan" gini cuma masalah komunikasi kali yah... Miskomunikasi ato pemilihan kata2 yang kurang baik aja. Maklum, soalnya manusia berdosa. He3
Kalo kesalahan seseorang (siapapun itu) at one instance, rasanya ga perlu dipermasalahkan terus2an. Kan emg pasti pernah salah ^^. Apalagi remark yang dibuat tanpa berpikir matang2.

Note: Pernyataan2 di atas di bawah asumsi pak Billy waktu itu salah ya :)
Aku ga tau soalny yg bener yg mana. Aku masih termasuk orang2 yg coba satu2 untuk mencari chord, soalnya ga tau teori musik. Ha3
Eniwe, untuk tau yg bener yang mana, mungkin Rin bisa coba tanya lagi aja ke pak Billy? Kalo ada salah paham jadi kan bisa lebih mudah diluruskan ^^.
Kan sayang banget kalo tubuh Kristus pecah hanya karena hal2 sepele begini :).

P.S. Aku dah berusaha sebisanya utk ati2 dlm post ini, biar ga malah nyiram minyak ke api. Tapi in case ada yang kurang tepat (pasti sih...) ato menyinggung, minta maap in advance yah ^^
Soalnya jarang buka link ini :)
Rin@Rin : 2008-03-27 15:41:25 UTC+0000
diacu: >>122 >>123
>>119
Apakah anak SD yang lulus Matematika dengan nilai 10 mengerti Matematika?
Bukankah kalau dia tidak mengerti tentu tidak bisa dalam 10?

Mungkin kau tidak mengerti karena kau termasuk dari kebanyakan orang: mengira hidup ini sederhana, masalah-masalahnya bagaikan soal ujian sekolah, pertanyaannya jelas dan semua yang diperlukan untuk menjawab ada di soalnya. Padahal kenyataannya dunia ini tidak demikian; biasanya petunjuk yang ada justru tidak memadai, dan untuk menjawabnya perlu mencari tau apa pertanyannya, dan seringkali harus juga bertanya balik untuk mencari tahu petunjuk yang kurang.
Sederhananya: mungkin lebih tepat kalau dibilang "pertanyaannya tidak ada", dan kalau ini soal ujian, maka mungkin bunyinya, "Comment on the following problem!"

(bagian di bawah mungkin menjawab >>120 jg)
Yang aku permasalahkan sebenarnya bukan apakah Billy tau atau tidak tahu, tapi karena dia menolak untuk "melihat", "mendengar", dan "berbicara".
- "melihat", maksudnya "melihat sendiri keadaannya"
- "mendengar", maksudnya "mendengar dengan penuh semuanya sebelum ambil keputusan, atau mengutip Pak Tong: "Cepat mendengar lambat berbicara."
- "berbicara", maksudnya "berdiskusi dengan yang membawa kasusnya", karena yang dia lakukan justru langsung banting muka dan tidak pernah balik2 lagi.

Masalah terakhir:
Kasus ini terjadi sekitar 4 tahun yang lalu, waktu yang cukup lama untuk:
1. kasusnya terlupakan, *DAN*
2. untuk aku menceritakan ke banyak anggota GRII, tapi tetap saja tidak ada balasan, ini menandakan betapa cueknya orang2 yang sudah mendengar masalahnya.

Dan terus terang aku tidak tahu pemilihan kata mana yang salah, karena rasanya semuanya sudah tepat, selain kesalahan kecil pada detail yang toh tidak pernah diperhatikan.
Jadi "Billy" ya "Billy", toh "Yesus" juga "Yesus", "Musa" juga "Musa".
adhia@Rin : 2008-03-28 08:31:16 UTC+0000
diacu: >>125
Rin, rin.. hehe.. kamu lucu juga ya.. jadi pengen kenalan.

Terlihat sepertinya kamu punya dendam pribadi rupanya (sampe disimpen 4 thn) dan melihat kalau tidak ada yang menanggapi kasus kamu itu, boleh bertanya yang problem kasusnya apa kamu-nya?
Yah kalo emang sebuah kasus dipendam sampe 4 tahun, apa yang kamu pelajari? apakah kamu sudah menemukan jawabannya?
Dendam dapat memicu seseorang untuk bergumul untuk mendalami sesuatu. hopefully, you find the answer for your question.

tapi yang interesting di sini, dendam pribadi kamu terlepas dari pertanyaan kamu.
jadi ada 2 masalah dari pertanyaan dendam kamu >>94:
1. kamu dendam karena dibilang "orangnya ga beres" (kamu ngertinya gila)
2. kamu masih cari jawaban untuk pertanyaan kamu

tapi yang terlihat dari post2x kamu, kamu cari jawaban untuk membuktikan bahwa pernyataan kamu "beres" (ga gila), bukan mendalami mengenai pertanyaan kamu itu.
of course, there is no easy answer. jadi yah kamu harus research, baca banyak buku, cek internet,dll.


ini menurut gue:
GA BERES tidak sama dengan gila. dan pengertian saya tentang tidak beres artinya tidak memuliakan Tuhan. so "mungkin" emang lagu itu ok2x aja, tapi lagu yang sedang di mainkan bukan lagu rohani.
kenapa saya berpendapat gini? karena emang ko billy specialis belajar bacground musik, dan theology. kamu gabungin deh itu dua, hasilnya apa? yah akhirnya dia menggumuli akan lagu spt apa yang memuliakan Tuhan dan lagu yang tidak memuliakan Tuhan.
itu yang biasanya dibilang di GRII "lagu yang beres" dan "lagu yang ga beres".

kamu sendiri bilang, kalo di dunia ini tidak se-sederhana seperti yang saya mengerti, karena itu juga untuk menjawab pertanyaan kamu, juga tidak se-sederhana itu.
kamu mengharapkan Ko billy menjawab (quick answer). tapi kamu juga tidak mengerti bacground dia, dan mengambil kesimpulan sendiri. hmm.. yah memang bener yang kamu bilang..
>>121
"Mungkin kau tidak mengerti karena kau termasuk dari kebanyakan orang: mengira hidup ini sederhana, masalah-masalahnya bagaikan soal ujian sekolah, pertanyaannya jelas dan semua yang diperlukan untuk menjawab ada di soalnya."

moga2x kamu ngerti maksud gue.

Adhya
adhia@Rin : 2008-03-28 08:45:50 UTC+0000
diacu: >>125 >>126
tanggapan mengenai >>121
Dan terus terang aku tidak tahu pemilihan kata mana yang salah, karena rasanya semuanya sudah tepat, selain kesalahan kecil pada detail yang toh tidak pernah diperhatikan.
Jadi "Billy" ya "Billy", toh "Yesus" juga "Yesus", "Musa" juga "Musa".

btw, kamu orang apa ya? kalo orang bule emang biasa panggil orang lain dgn nama, tapi since kita orang indo (dgn bahasa indo)
manggil orang yang lebih tua itu biasa pake kakak, cici, omm, bapak, ibu, dll.

orang bule saking biasanya, dia manggil bokap nyokap dgn first name, walaupun ini juga gak umum.
kamu manggil bokap pake nama? atau dgn panggilan papa/ bapak/ pak or dgn first name?

Tuhan Yesus saja, memanggil Allah dgn Bapa (eg: doa bapa kami). orang yahudi panggil Tuhan Yahwe. kamu tau kalo jaman perjanjian lama, memanggil nama Allah dgn nama itu tabu atau dianggap berdosa.
jadi kamu harus tau tata cara dan tata krama.

Kita bangsa indonesia, punya kultur, tata cara, dan tata krama. ikuti kultur yang baik dan sopan. kalo kamu tidak merasa menjadi orang indonesia, jangan pake bahasa indonesia.
mungkin memang orang tua kamu tidak pernah mengajarkan tata krama yang sopan. sehingga kamu manggil orang yang lebih tua itu dgn first name..
yah kalo begitu yah saya maklumi.

adhya.
Martin(7cOBYpAh5CGn)@Rin : 2008-03-28 10:05:39 UTC+0000
diacu: >>127
Sekedar short remarks:
Pertama, yg aku maksud 'salah' bukan 'salah' dalam pengetahuan (masalah tau atau tidak tau), tapi lebih ke 'salah' bersikap.
So, maksud asumsinya adalah, asumsikan waktu itu pak Billy 'khilaf'. Kira2 gt. Dan memang ga ada anehnya kan beliau 'salah' ('khilaf')

Kedua, miskomunikasi yg kumaksud itu yg berdasarkan perspektif ato presuposisi awal seseorang.
Kadang, kata yang sama dipakai ke orang yg berbeda artinya bisa beda. Contohnya intepretasi kata 'ga beres' yg sedang di-discuss :).
Mungkin aja memang, definisi kata 'ga beres' pak Billy dan Rin tuh beda. Tentu kata2 lain pun mungkin aja begitu.
Kira2 gt maksudnya ^^. Semoga jadi lebih jelas. He3
Rin@Rin : 2008-03-28 14:50:13 UTC+0000
diacu: >>135
>>122
Ada 2 kesalahan:
1. Aku tidak dendam, aku cuma sedih melihat orang sesat seperti itu dijadikan pahlawan mandat, dan seperti kata Martin Luther King, Jr, "I have a dream," aku maunya orang yang dipasang di jabatan penting seperti itu bukanlah orang yang sesat. Kecuali bagimu yang seperti itu bisa dibilang dendam.
2. Aku tidak mencari jawaban, karena menurutku aku sudah tahu bahwa aku yang benar sedangkan dia yang salah. Kalau aku salah, biarlah ada yang maju dan membeberkan permasalahannya, tapi kenyataannya setelah lama juga tidak ada seorangpun. Bukan tidak ada seorangpun yg maju, tapi yang ada cuma jawaban yang ga lengkap dan jawaban yang salah sasaran.

Dan lagi, yang dibicarakan kan bukan "lagu ga beres", tapi "orang ga beres". Dan menurut kamus, "gila" itu salah satu penjelasannya "tidak beres". "Orang tidak beres" kalau bukan "gila", berarti apa? Tidak waras? Idiot (tingkat pemikiran di bawah rata2).

Aku tidak paham maksudnya membalikkan kembali kata2-ku itu apa. Karena, ya aku tahu dunia memang demikian, tapi Billy kan menjawab dengan sederhana, "... orangnya ga beres!", yang bisa berarti, "kamu juga ga beres".

Kalau mau lebih praktis, sebenarnya yang rugi siapa sih?
Aku? Tapi menurutku dia sesat, ko. Jadi ga berasa rugi.
Kalian? Tapi kalau kalian merasa aku memang tidak sepantasnya ada di antara kalian ya berarti kalian juga tidak merasa rugi.
Atau kalian merasa harusnya aku justru ada di antara kalian? Tapi kalau begitu ko dibiarkan saja.

>>123
Jawaban: Aku orang dunia, tidak berumur, dan tidak berjenis kelamin.

Iseng aku cari di google demikian:
site:kompas.com "susilo bambang yudhoyono"
Dan seringkali kompas menyebut nama itu tidak dengan gelar apapun. Kenapa tidak ada yang protes? Apa karena memang tidak salah?
Ada yang diawali "Presiden", tapi setahuku harusnya sebelum "Presiden"-pun ada kata "Bapak"-nya, dan ini tidak.

Dan kelihatannya ada salah pemahaman tentang nama Allah. Banyak orang Israel di namanya ada nama Allah, entah "Ye" entah "El", jadi saat memanggil teman, mereka menyebut nama Allah juga; masa itu berdosa?
Justru orang zaman perjanjian lama tahu cara menyebutnya jadi mereka menyebut; yang tidak tahu justru orang sejak zaman perjanjian baru, jadi merekalah yang tidak berani menyebut.

Dan kamu sendiri apakah merasa jadi orang Inggris jadi pakai bahasa Inggris?
Apakah Stephen Tong juga merasa jadi orang Inggris makanya pakai bahasa Inggris saat mengutip bahkan saat kutipannya itu aslinya bahasa Yunani atau Cina (maksudnya kutipannya diterjemahkan ke bahasa Inggris).
Dan kalau kamu merasa orang Indonesia yang memakai bahasa Indonesia, tulislah bahasa Indoensia dengan cara yang tepat. Jangan gunakan all-caps untuk mengutip karena ada caranya sendiri (pakai tanda kutip). Kalimat dan nama suku harus diawali huruf besar. Imbuhan "di" jangan dipisah. Ga penting? Menurutku mempermasalahkan penggunaan gelar juga tidak penting, ko.

Kata Yesus, "Lakukanlah pada orang lain apa yang kau mau orang lain perbuat kepadamu."
Nota bene (="perlu dicatat"): Alkitab sendiri sering memakai "Kata Yesus" bukan "Kata Pak Yesus" atau gelar apapun)
Aku tidak mau dipanggil pakai gelar, jadi aku juga tidak menyebut orang pakai gelar. Adil, kan? Alkitabiah, kan?
Rin@Rin : 2008-03-28 15:00:30 UTC+0000
diacu: >>129
>>123
Ada yang terlupakan:
Kalau memang dia merasa ada lagu yang "memuliakan" dan "tidak memuliakan", dan sesuatu yang kuanggap benar dianggap sebagai tidak memuliakan, maka justru itu jadi kewajiban dia untuk mengajari aku, dan bukannya malah menghina dan *melupakan* (penekanan pada kata terakhir).
Kelihatannya kau sebenarnya tidak peduli, karena kalau kau benar peduli, maka Billy sekarang sudah membalas pakai cara apapun. Dan tentu saja, kalau Billy sebenarnya peduli, dia sudah akan menjawab dari kapan2, kan aku bukan orang tanpa identitas; waktu itu percakapannya ketemu langsung dan dia tahu nama dan wajahku. Jadi aku juga bukan orang "liar" bagaikan suku terasing yang tidak diketahui keberadaannya, malah justru aku yang datang kepadanya. Biasanya orang susah2 mencoba menjangkau orang lain, yang ini udah datang sendiri.
yuku@Rin : 2008-03-28 18:36:05 UTC+0000
>>124
Soal  (ga beres == gila)

Dulu waktu Rin bilang tentang ini, ku pernah bilang padanya, mungkin ga beres dan gila itu
2 hal yang berbeda. Namun, ketika ku cek KBBI 2008, kata gila begini artinya:

*gi·la* 1 a sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal)

Jadi emang ada hubungan dengan "beres".

Hehe. Sekedar tambahan aja.
adhia@Rin : 2008-03-29 09:44:07 UTC+0000
diacu: >>130 >>137
rin, kamu bilang orang lain sesat. apa karena 1 peristiwa orang itu sesat? menjadikan sesuatu yang absolute?
kalo kamu bilang seseorang sesat, melewati pembicaraan sekitar beberapa kalimat, yah saya seh gak berani menentukan orang itu sesat apa tidak.

kalo menurut saya kamu yang sesat.. hehe.. tapi gue juga gak kenal elo secara dekat, so gak tau juga apa perbedaan paradigma saja atau emang bener2x sesat?
kalo kamu emang penasaran, lain kali datenging aja "billy" itu.. dan kamu frontal dia dengan argument2x kamu, dan kamu debat dia dengan pengetahuan kamu yang menurut kamu kalo kamu yang benar dan kamu yang lebih pinter dari pada dia.
saya yakin ko billy bisa mempertanggung jawabkan jawabannya, bagaimana dengan kamu?

gak ada gunanya, kalo jelek2xkin nama orang di belakannya. ini kebiasaan orang indo yang jelek emang. makanya jangan marah kalo gue tulis agak keras di sini, karena ngapain gue ngomel2x di belakang elo, gue langsung aja tantang elo dgn argument2x gue.
dengan begini, gue bisa mengetahui dan mengerti apa pendapat elo, dan juga sebaliknya.

-----
soal sopan2xan:
presiden, merupakan panggilan yang sopan dan hormat. sama seperti kamu memanggil seorang raja, apa kamu panggil bapak raja? enggak dong

gue gak tau apa elo ada di indo apa engga, coba deh kembali ke indo for good.
praktekin apa yang elo kerjain ke orang2x di sekitar elo, tempat elo bekerja dll. then let me know.

yah gue cuman berharap elo sedikit lebih bijaksana saja. gue gak masalah elo panggil "billy" or "stephen" tapi yah simpen saja untuk sendiri.

memang permasalahan ttgn istilah tersebut dimulai dari Yuku yang mem-post comment kamu di dalam mailing list GRIIS.
sesuatu yang harusnya di simpan di dalam lingkungan yang sempit jadi di post di dalam lingkungan yang besar. nah ini mulai masalahnya.
kalo kamu tetap keras kepala, yah coba aja kamu praktekin di dalam real life kamu di indonesia.

adhya.
adhia@Rin : 2008-03-29 09:56:19 UTC+0000
diacu: >>137 >>139
>>126
Kamu harus tau jadi Hamba Tuhan emang sibuk, karena banyak orang kayak kamu yang menuntut untuk dilayani saat itu juga.
so, soal peduli2xan, kalo ada 10 orang kayak elo, dia musti jawab 10 pertanyaan, tapi sebenernya jemaat grii singapore udah 200 lebih, apa dia harus bales 200 orang itu satu persatu?

gue dah bilang, there is no easy answer.
kalo kamu sudah hadir di dalam GRII, banyak rekaman khotbah dia mengenai musik yang beres dan tidak beres, baru kamu judge deh kalo kamu udah mendalaminya.
abis itu baru kamu bandingin dgn musik yang kamu kenal. Jangan lupa berdoa, minta di kasih jawaban sama Tuhan.
setelah itu baru kamu share apa yang kamu pelajari disini.

kalo kamu pernah ikut cara ko billy ngajarin musik, jg sama, dia expect kamu belajar sendiri, dia ajarin kamu yang kurang2x atau yang gak bisa kamu pelajari sendiri. dulu di US, guru2x gue juga banyak yang ngajar seperti gitu.
so, jangan ngambil kesimpulan ttgn sesat sembarangan. gue juga mengerti dikit ttgn musik yang memuliakan dan musik yang kurang memuliakan Tuhan tidak di dalam GRII, tetapi dari sejak gue masih di gerakan karismatik. dan sampe sekarang pun, gue masih belajar dan mau belajar mengenai musik yang memuliakan Tuhan.

musik yang menurut kamu enak / memuliakan Tuhan, bukan kamu yang judge dong. yang judge Tuhan ya. kalo menurut kamu enak, ehe, Tuhan bilang gak enak..gimana?
yuku@Rin : 2008-03-29 16:38:30 UTC+0000
diacu: >>132
>>128
Wah namaku disebut.

Yuku ngepos bukan untuk ngomongin masalah penyebutan orang, ko malah yuku jadi
dianggap mempermasalahkan nama sih. Bagiku dia panggil Stephen dan Billy dengan Pak
atau Tuan atau Sang atau yang mulia atau tanpa awalan apapun ku ga tersinggung.

Sedikit komen mengenai yang mu bilang sebutan "presiden" di atas, kurasa yang mau Rin
bilang, kadang SBY pun disebut tanpa kata Presiden maupun Bapak, toh di media massa
tetap terasa normal2 saja.
S&Y(q8zKMxKBtLYF)@Rin : 2008-03-31 13:15:31 UTC+0000
diacu: >>133 >>138
masa cuma karna bicara sekali dan dipendam 4 tahun lalu jadi mencap orang lain sesat ?? apa ga kamu sendiri itu yang sesat ?? atau aku yang sesat ?? atau anda ?? dia ?? mereka ??

sama aja bilang gajah itu lebar, tipis, kaya pangsit padahal yang dipegang itu kupingnya

dari tafsiran gw sih ko billy paling lagi mumet (itu gampangnya aja)
dengan berpikir kaya gitu lu ya rin ga akan mikir dia itu sesat

cuma karna presaposisi lu itu udah mau jatuhin orang makanya melihat "borok" sedikit aja udah bilang "sesat lu"

cih sikap apa itu...

udah gede kan ?? mikir makanya

jangan lupa berdoa
adhia@Rin : 2008-03-31 15:14:54 UTC+0000
>>130
Yah, gue ngerti kalo menyebut tanpa awalan/gelar/panggilan sopan gak masalah untuk yuku,
but pas yuku release ke pangsa pasar/komunitas yang lebih besar, bisa menimbulkan kesalah pahaman.

so, harap dipikir juga kalo di-release ke komunitas yang lebih besar. coba kalo di lepas ke komunitas yang lebih luas lagi.. bisa2x menimbulkan SARA nantinya.
anyway, orang indo kan sensitive (orang jawa tepatnya) hehe.. so, yang di sudah jauh dari indo, jangan lupa itu.

Adhya
adhia@Rin : 2008-03-31 15:30:46 UTC+0000
>>131
yah, boleh belain Ko billy, tapi gak usah sampe kasar gitu dong. setiap orang perlu belajar koq.
derianto@Rin : 2008-03-31 18:27:16 UTC+0000
diacu: >>136 >>145
>>114
ku sukanya pake D11 tapi not ke-3 dan ke-5 dihilangkan, lalu not 7, 9, 11
biasanya diputer-puter.  karena F# dan A biasanya bikin suaranya aneh..
contoh: D E G C, atau D G C E, dll
suka juga D G C Eb, D F# C Eb, dll

suka main2 dengan chords juga ya?
derianto@Rin : 2008-03-31 18:29:55 UTC+0000
>>125
Hai Pak Yesus :P
Rin@Rin : 2008-04-02 04:45:46 UTC+0000
>>134
Kalau not 3-nya dihilangkan bukan D11, dong, soalnya itu kan yang memberi "jiwa" pada chordnya. Maksudnya jiwa minor atau mayor.
Lalu kalau adanya cuma tinggal 1, 7, 9, 11, itu kan berarti cuma jadi chord baru yang nadanya 1, 3, 5, 9 (1-nya ini = 11-nya tadi).
Jadi kalau misalnya D E G C tadi, itu ya jadi C add9, bukan D11. ^^; (pernah denger C add9 dan C2 ada bedanya, tapi lupa apa, untuk sementara aku sebut "add9" aja)
D G C Eb = Cm add9
Kalau ini, D F# C Eb, baru D11.

Aku ga suka main chord, malah sebenarnya ga ngerti chord sama sekali (secara praktis). Jadi cuma tau nama aja, tapi itu pengetahuan yang tidak bisa diterapkan dalam menentukan chord.
Rin@Rin : 2008-04-02 06:08:33 UTC+0000
diacu: >>143 >>157
>>128
Aku tulis panjang lebar, kamu jadikan cuma "1 peristiwa". 1 peristiwa yang cuma punya 1 masalah dan 1 peristiwa yang punya 1000 masalah bobotnya beda, jadi kata "1 peristiwa" tidak bisa jadi patokan apa2.

Dan kadang jawaban untuk sebuah pertanyaan cukup untuk menjelaskan orang tersebut, contohnya pertanyaan standar di wawancara, "Jelaskan tentang dirimu!" Tapi yang ini sebenarnya peristiwa lain, yang tidak (belum) kuceritakan di sini.

Aku mau ngomong ke si Billy, tapi orangnya sudah keburu melarikan diri ke Jerman. Waktu itu dengar sudah balik, tapi ternyata cuma sebentar lalu kabur lagi ke Jerman. Lagian aku udah beberapa kali bilang untuk sampaikan atau tanyakan saja langsung ke si Billy, karena aku tidak bisa bertemu. Di situs aku tidak bilang begitu, tapi toh yuku sudah mengirim ke milis, dan memang sudah menebak entah dia atau orang lain akan mengirim juga, jadi ya aku tidak ngomong di belakang.
Dan aku kan sudah berargumen di depan dia, tapi baru ngomong 1 kata langsung dibungkam. Mungkin warisan cara orde baru: kalau ada orang ngomong benar tapi ga mau ketahuan salah langsung bungkam.

Ko kamu jadi ngomongin soal "presiden" sih? Aku kan mulai dari "Yesus". Kalau tidak berniat jawab yang itu jangan ngomong soal gelar Presiden dong. Idealnya jawab sesuai urutan permasalahan, dari "Yesus", ke "SBY", baru ke "Presiden", karena itu urutan pentingnya. Yah boleh saja sih jawab yang ga penting dulu baru lanjut ke yang lebih susah, tapi ini kan engga....
Tapi ko kamu sombong sekali sih memaksa harus pakai gelar? Padahal Yesus sudah mengajarkan untuk merendahkan diri.

Yah mungkin memang tidak cocok di Indonesia, tapi memangnya harus mengikuti cara Indonesia? Memangnya harus pakai cara dunia? Karena Yesus komunis, dan aku pengikut Yesus, maka aku juga pakai cara komunis. Mungkin lain kali aku pakainya "Comrade Tong" dan "Comrade Kristanto" aja kali ya....

Dan juga sebenarnya kamu ngomongin soal "sopan" tapi sebenarnya munafik juga, ya, karena kamu pakai kata "dia".
Udah gitu menulis nama orang pakai huruf kecil, lagi.

Selain itu kamu juga menyebut "Stephen" dan "Billy" tanpa gelar. Mungkin memang maksudnya membalikkan kata orang dengan mengutip, tapi tidak ada tanda "[sic]" di sana.

>>129
Kamu mulai makin ngelantur, ya? Bagaimana caranya 4 tahun = saat itu juga?
Sebenarnya berapa pun jumlah orangnya ya harus dijawab, bisa jawaban khusus seperti:
"Kamu ada waktu kapan?"
"Kamu kirim email deh, biar saya ingat"

Bisa juga jawaban umum yang menyatakan bahwa dia sibuk, atau undangan bagi yang benar2 butuh untuk datang ke rumah atau kantornya.

Dan sebenarnya akibat dari kejadian itu dan beberapa lainnya aku jadi bertekad tidak akan belajar sesuatu yang berhubungan dengan "musik rohani" atau "musik Kristen" atau semacamnya. Prinsipku "hidup berintegritas", jadi tidak ada yang namanya musik sekular. Jadi justru karena Billy-lah aku tidak mau belajar yang demikian. Dan kelihatannya dia tidak peduli, jadi mendatangkan tanda tanya seberapa pedulinya dia akan masalah itu. Kalau memang peduli, bawalah si Billy kemari, atau mungkin si Tong sekalian.
Sebagai orang beriman aku percaya pada prinsip "menutup pintu, membuka jendela", entah jendelanya apa, tapi yang jelas pintu "belajar musik gereja" sekarang tertutup.

Kulihat kamu makin ngelantur, karena aku yang saat itu cuma bertanya satu hal kecil, jadi kan pantas disebut sebagai "yang kurang2".
Rin@Rin : 2008-04-02 06:19:22 UTC+0000
>>131
Asalnya ga niat jawab, habis ngomongnya banyak ngelanturnya sih, terutama yang ini.
1. jelas2 aku tidak bicara sekali (bahwa kesimpulan bukan dari 1 hal itu saja memang tidak jelas, tapi yang itu jelas bukan sekali)
dan kadang yang jadi masalah bukan dari apa yang dibicarakan, tapi justru dari *apa yang tidak terucap*.
2. jelas2 aku ga pendam 4 tahun, kan aku ud bilang ud ngomong ke beberapa orang, termasuk orang yang rutin ke GRII
3. entah siapa yang sesat, tapi tidak mungkin keduanya benar secara mutlak. Tapi kalau aku sesat, maka dia pasti juga sesat, karena kalau dia tidak sesat dalam hal musiknya, berarti dia memilih untuk membiarkan orang lain tersesat, jadi itu membuatnya sesat juga.
4. pada prinsipnya, adanya "borok" sedikit itu membuat suatu domba tidak layak untuk dikorbankan. Seorang pemimpin tidak harus selalu benar, tapi prinsip guru Asia yaitu kalau dia yang salah atau tidak tahu harus mengambinghitamkan orang lain, dan aku tidak suka sistem ini, makanya aku tidak mau merasa diri sebagai orang Asia (dan Indonesia termasuk Asia).
5. engga ko, aku belum gede, udah bilang, kan aku tidak berumur?. Kalau yang namanya "gede" itu seperti kamu, maka aku tidak mau jadi gede.

Kayanya prinsipmu itu justru, "Jangan lupa berdosa", bisa dilihat dari jawaban pertama sampai terakhirmu.
Rin@Rin : 2008-04-02 12:23:30 UTC+0000
diacu: >>140
>>129
Oh ya, aku baru inget: Billy kan bukan "hamba Tuhan"[sic]!!
Jadi argumenmu tidak berlaku.
asa@Rin : 2008-04-02 20:19:16 UTC+0000
diacu: >>141
>>139
meletus sekarang jadi tempat saling mencela... uda gitu terbuka untuk umum lagi...
bikin makin males...
>>138
ko aneh km ga mau merasa diri orang Asia, uda fakta km org Indo...
jangan karna sakit hati sama 1 orang lalu anggap semua orang Asia jelek, ga mau anggap diri orang Asia
kalo orang selain Asia jg mikir kaya kamu, mereka juga ga akan menghargai kamu
orang Asia ada jeleknya, bukan berarti org selain Asia ga ada jeleknya
kenapa ga mikir gini "karna banyak org Asia yg begini, maka ku berusaha biar ga melakukan kejelekan yang sama juga, jadi bisa memperbaiki kesan orang lain terhadap diri sendiri"
kalo terus2an ribut disini, ngomongnya hampir maki2, malah makin menunjukkan kamulah salah satu orang Asia yang jelek.
coba bayangkan ada org non-Indo yang bisa bahasa Indo, baca postingan kamu, malah makin menjelekkan citra Indo.
Rin@Rin : 2008-04-03 04:21:41 UTC+0000
diacu: >>142 >>143
>>140
Weits, ko jadi saling mencela?
Aku tidak mencela, tapi kamu bilang begitu, bukannya artinya justru kamu yang mencela?

Terus ko jadi ngomongnya "sama 1 orang", sih? Ini kan fitnah, lebih parah dari mencela.

Gpplah, toh aku tidak merasa orang Asia, termasuk Indonesia.
Rin@Rin : 2008-04-03 04:41:51 UTC+0000
diacu: >>157
Tambahan >>141
Aku bilang begitu karena menyatakan fakta apa adanya tanpa bermaksud menjelek-jelekkan jelas bukan mencela.
Tapi yang kamu lakukan justru menyatakan aku mencela, berarti itu fitnah. Lalu mendadak keluar kata2 "1 orang", dari mana?

Lagian Pdt. Dr. Stephen Tong (tuh lengkap!) sendiri pernah bilang tentang:
Orang Timur mendidik anak sebagai anak-anak, tapi orang Barat mendidik anak seperti orang dewasa. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa anaknya dididik sebagai orang dewasa.

Bagiku ini tandanya beliau lebih setuju dengan cara orang Barat, dan tidak suka dengan cara orang Asia. Nah, berarti kan beliau juga menganggap cara Asia jelek, apa bedanya denganku? Aku bicara tentang "Guru Asia", beliau tentang "Cara orang Asia mendidik", pada dasarnya kan hal yang sama.

Kalau kau mencelaku berarti mencela Dr. Tong juga.
Nir(Da/wvNDfq6vS)@Rin : 2008-04-03 05:43:14 UTC+0000
diacu: >>144 >>148
>>141
Kok aneh sih, kok malah mencela asa, padahal jelas2 kau yang mencela orang yang bernama Billy itu tidak pantas memperjuangkan mandat Budaya dan mengatakan dia bukan hamba Tuhan.
Dari tadi perkataanmu selalu menganggap diri sendiri benar, dan yang lain salah. Kalau tidak percaya lihat saja nanti pernyataanku ini akan langsung disanggah.
Contoh lain di >>138, jangan lupa ber*doa* pun diganti jangan lupa ber*dosa*. Sepertinya kalau tidak menginterpretasi maksud orang secara jelek, hatimu jadi merasa tidak enak.
Di >>137 engkau juga memfitnah Yesus sebagai komunis alias ajaran Marxist adalah sesuai dengan ajaran Yesus. Lihat yang kau cela dan fitnah itu ada banyak, tapi tetap tak merasa mencela, dan tetap berkeras hati bahwa orang lainlah yang selama ini mencelamu.

Saya nasihati saja, jikalau tak suka Indonesia, lebih baik jangan jadi warga negara Indonesia lagi, kembalikan tuh semua atribut Indonesia, seperti akta kelahiran dsb juga, pindah jadi warga negara lain atau jadi pengelana, biar jadi warga negara dunia, bukan warga negara tertentu.
Nasihat lain, jangan suka menilai orang dari sisi negatifnya terus. Nanti mana ada orang waras yang mau jadi pasangan hidupmu? Kepala orang baik-baik akan pening dan tak akan kuat kalau selalu disanggah.
Eh, tapi tadi engkau bilang kalau engkau tidak berumur dan tidak berjenis kelamin sih. Berarti tak perlu ada pasangan hidup. Umur saja tak ada. Masa depan juga mana ada.
Rin@Rin : 2008-04-03 07:55:48 UTC+0000
diacu: >>146 >>147 >>151
>>143
Ya sudahlah aku mencela, tapi toh Yesus juga mencela orang.
Billy ya jelas bukan hamba Tuhan lah, wong dia belum ditahbiskan, ko. Ini mah ga usah diperdebatkan.

Kamu sendiri udah baca tulisan S&Y belum? Tulisan pertamanya dia? Aku ngomong panjang lebar dengan memberikan argumen panjang lebar dan sanggahan seperti sudah seharusnya tapi kata2nya langsung hinaan tanpa dasar. Jangan2 kamu belum baca, ya? Dan walau belum baca langsung bilang begini.

Aku ngomong Yesus sebagai komunis itu justru *pujian besar*, masa pujian = mencela? Sangat bertolak belakang sekali.
Apa kamu sendiri tidak sedang mencelaku?
Rin@Rin : 2008-04-03 08:07:24 UTC+0000
Semakin lama pembicaraan semakin melantur. Tidak satupun orang GRII yang menyentuh masalah pertamanya, yang paling baik juga agak tidak tepat sasaran.
Setuju atau tidak setuju bukan intinya, yang terpenting adalah menyentuh permasalahan dengan benar.

Bukan berarti jawabannya harus setuju seperti >>134; boleh saja tidak setuju, tapi harus jelas alasannya. Kalau ada pengecualian dalam kasus itu ya harus disampaikan, ini kan bukan debat; dalam debat yang begitu disembunyikan.

Menghindari masalah utama dan malah membicarakan yang sampingan, yang bukan utama, mungkin dengan maksud tambahan agar semua orang lupa ada masalah itu.
Ciri khas orang GRII, kah? Ciri khas orang Indonesia, kah? Ciri khas orang Asia, kah?

Yang aku tahu sistem pengadilan yang berlaku sekarang dikembangkan oleh orang Eropa, bukan orang Asia.
Rin@Rin : 2008-04-03 08:40:10 UTC+0000
diacu: >>148
>>144
Apakah Raja Daud itu banyak melakukan hal benar? Apakah Raja Daud sering berkenan kepada Allah?
Menurutku ya.

Tapi, ketika Nabi Nathan datang kepada Daud, apakah beliau menyebutkan hal2 baik yang dilakukan telat dilakukan Daud? Seingatku tidak. Jadi sang Nabi langsung ke pokok permasalahannya, ya benar dia pakai cerita dan perumpamaan, tapi tetap yang dibicarakan adalah pokok permasalahannya.

Dalam hal ini aku juga sama, langsung ke pokok permasalahannya.
Ini menjawab kalimat ini: "Nasihat lain, jangan suka menilai orang dari sisi negatifnya terus."

Dan aku baru perhatikan lagi pemilihan kata2mu: "komunis alias ajaran Marxist". Di sinilah letak kesalahan besarnya. Komunisme *tidak sama* dengan ajaran Marxist. Karl Marx mengajarkan komunisme dan hal2 lain, seluruhnya itulah Marxisme, sedangkan aku cuma menyebut Yesus sebagai salah satu pelopor komunisme, kalau bukan malah komunis pertama di dunia.
Sebenarnya masalahmu apa sih? Kenapa menganggap mengatakan Yesus itu komunis adalah mencela?

Jadi tidak sama, dan dengan asumsimu yang salah kau telah mencelaku.

Aku salut pada Yesus. Kalau seandainya dia hanyalah manusia, maka artinya dia telah membawa suatu kebiksanaan besar, tapi kalau memang dia adalah Allah seperti diakuinya, berarti memang itulah jalannya.
Ingat! Aku memuji Yesus, bukan mencela.
bkfc(aFdk7r3zIZyW)@Rin : 2008-04-03 08:47:44 UTC+0000
diacu: >>149
>>144
sorry OOT. definisi hamba Tuhan yang kamu maksud itu apa ya? pendeta? FYI, ko Billy sudah ditahbiskan jadi pendeta waktu Paskah 2005.
ななしさん(anonim)@Rin : 2008-04-03 09:00:13 UTC+0000
>>146
yang nulis >>146 tau lebih banyak soal komunis dari yang nulis >>143 =)
Rin@Rin : 2008-04-03 11:38:14 UTC+0000
diacu: >>150
>>147
Ya, 2005, jadi aku tidak salah ingat waktunya.
Rin@Rin : 2008-04-03 12:14:38 UTC+0000
diacu: >>425
The story of me and Billy Kristanto, part II

Sebelumnya:
Apakah ada yang namanya kebetulan? Kalau berpegang pada prinsip bahwa Allah telah menentukan segala sesuatunya, rasanya yang namanya kebetulan itu tidak ada.

Peristiwa ini terjadi pada waktu yang berbeda dengan sebelumnya, sayangnya saya tidak bisa ingat mana yang duluan. Mungkin yang ini duluan, tapi ini terjadinya rasanya sekitar Jumat, 11 Maret 2005, jadinya harusnya justru ini yang belakangan, tapi entah. Sekedar catatan, bahkan saat peristiwa ini terjadi, gelarnya masih Ev. Billy Kristanto, jadi semakin membenarkan >>149 di atas.

Sekedar sela: di kasus yang sebelumnya, beliau antara lain membahas konsep yang disebut "word painting", yang contohnya: kalau nyanyi tentang bintang maka main piano nada tinggi, kalau nyanyi tentang masuk lembah, main piano nada sangat rendah. Ada yang ingat kapan terjadinya?

Detil tidak pentingnya antara lain:
- temanya tentang musik rock, mungkin "Biblical Perspective of Rock Music", atau semacamnya.
- kursi disusun menghadap sisi kiri dari pintu masuk kantor di NBC, menghadap layar dan OHP. Sekedar perbandingan, yang sebelumnya kursi disusun ke kanan menghadap piano.
- di antara pengunjung ada anak2 Indonesia yang besar di Singapura jadi kurang mengerti bahasa Indonesia, akibatnya pembicara (=Ev. Billy) bertanya apakah perlu penerjemah, dan kelihatannya ada yang menawarkan untuk menerjemahkan, yang sebenarnya tidak terlalu masalah karena anak2 tersebut jumlahnya hanya 3 orang.
- di suatu tahap, beliau bingung apa arti dari kata "extemporaneous", tapi kelihatannya sebagai pemusik sebenarnya dia tahu konsep yang diacu oleh kata tersebut, jadi yang tidak diketahui hanya kata tersebut.
- beliau juga bicara tentang prinsip yang kira2 maksudnya suatu bagian lagu paling banyak hanya bisa diulang 2x (jd total 3x), sebagai contoh beliau ambil Symphony no. 5-nya Beethoven, katanya kalau sampai 4x malah ga enak.
- (yang ini aku tidak begitu yakin) beliau juga pernah bilang tentang suatu lagu yang bertema kesengsaraan. Lagu tersebut nadanya banyak yang tinggi, jadi katanya mungkin lebih merasakan sengsara saat menyanyikannya....

Sisa pembicaraannya bukan inti dari tulisan ini, jadi tidak kutulis, lagian panjang. Kita anggap saja isinya benar, jadi tidak perlu  dipermasalahkan. Selesai ceramah, aku yang bodoh karena tidak mengerti rock bertanya beberapa hal, sambil bingung karena tidak merasa rock itu seperti yang beliau bilang. Pertanyaan2 awalnya tidak penting disebut, singkatnya, anggaplah jawaban darinya itu benar, jadi yang penting adalah pertanyaan terakhir.
Aku lupa persisnya pertanyaanku apa, kemungkinan besar ini: dulu orang Israel tentu menyanyikan lagu pujian dengan lagu mereka, masalahnya gaya lagu2 Israel itu sebagian bertentangan dengan prinsip2 yang menentang rock tadi, jadi bagaimana dong?

Balasannya kira2, "Iya juga ya, kita harus cari tau lagi."

Di awal aku sebut tentang kebetulan, tapi belum disebut di atas. Kebetulannya adalah:
Belum lama sebelum itu, mungkin hari Minggu sebelumnya atau paling lama hari Minggu satu bulan sebelumnya, Pdt. Tong baru saja cerita tentang seorang pendeta yang telah mengajarkan banyak hal tapi akhirnya mendadak sadar ajarannya itu salah dan bertobat. Komentar dari beliau (=Pak Tong) adalah: "Kamu sekarang tahu kamu salah, tapi bagaimana dengan pengikutmu selama ini?"

Kebetulan? Tidak ada hubungan?
Nir(Da/wvNDfq6vS)@Rin : 2008-04-03 18:02:48 UTC+0000
diacu: >>152
>>144
Lihat saja kan, pernyataanku langsung disanggah. Jelas-jelas inti yang ingin disampaikan adalah Anda selalu menganggap diri sendiri benar, jangan jadi warga negara Indonesia dan jangan menilai orang dari sisi jeleknya terus. Tapi yang ditanggapi justru hal *sampingan* seperti Billy bukan hamba Tuhan, tulisan S&Y, dan Yesus komunis, serta tak lupa mempersalahkan balik.
Jelas-jelas pula dari tadi setiap sanggahan atau komentar dari orang lain langsung dicari kesalahan dan disalahkan balik. Lihat saja, tulisan ini pun bakal dipersalahkan kembali.
Kalau memang tak bisa dinasihati ya sudah.
Rin@Rin : 2008-04-04 03:59:21 UTC+0000
>>151
Maaf, aku terlalu bodoh untuk mengerti yang dimaksud pernyataan yang menyanggah itu yang mana.
yuku@Rin : 2008-04-04 04:07:59 UTC+0000
Ngomong2 tentang mencela dan sebagainya, ku ga tau sebetulnya apa itu
mencela, cuma tau bahwa itu punya nilai negatif, tapi ga pernah tau artinya.

Selain itu beberapa orang bertanya padaku *siapa Rin* melalui sms dan cet
dan imel. Ku ga tau boleh kasih tau jawabannya atau ga, jadi ku ga jawab, dan
ngapain pulakah menanyakan itu padaku. Mohon jangan tanya siapa Rin pada
yuku.
adhia@Rin : 2008-04-04 04:08:41 UTC+0000
diacu: >>156
Rin..

ok deh dari pada elo emosi ini dan itu, atau mulai ngomong yang aneh2x dan ditanggapin yang aneh2x...
coba gue bantu elo mencari jawaban, dari pada jelek2xin orang... kita tanya langsung aja.

elo kirim email ke gue.. email yang berisi pertanyaan yang serius.. (tanpa emosi 2x yang ada).
kirim dengan motivasi untuk mau belajar. kirim pertanyaan yang elo mau tanyakan ke ko billy.

gue akan coba tanya dia langsung (kalo dia bales lhoo).  atau gue akan tanya sama orang2x yang mengerti mengenai hal tsb.
nanti gue kasih tau elo jawabannya.

kenapa, gue gak post email dia langsung: yah takut nanti gue bikin junk mail buat dia.
adhia@Rin : 2008-04-04 04:09:28 UTC+0000
btw, email gue: adhya.kumara@gmail.com
Rin@Rin : 2008-04-04 04:20:58 UTC+0000
>>154
Karena permintaannya sudah demikian, maka ada baiknya aku tidak langsung jawab supaya jangan terlalu kacau; maksudnya biar lebih terstruktur.
Mungkin bukan hari ini, tapi ga bisa janji besok juga.

Bingung juga sih sebenarnya kalau sekarang itu yang ditanyakan apa. Asalnya bermula dari permintaan untuk menjelaskan permasalahan, dan dalam sejarah permasalahan tersebut ada pertanyaan, tapi aku yang sekarang tidak bertanya itu lagi.
adhia@Rin : 2008-04-04 04:45:34 UTC+0000
diacu: >>158

Rin,
komentar kamu ttgn >>142 itu agak salah..

Bagiku ini tandanya beliau lebih setuju dengan cara orang Barat, dan tidak suka dengan cara orang Asia. Nah, berarti kan beliau juga menganggap cara Asia jelek, apa bedanya denganku? Aku bicara tentang "Guru Asia", beliau tentang "Cara orang Asia mendidik", pada dasarnya kan hal yang sama.

Pak Tong sedang menyatakan bahwa cara "mendidik" orang barat terhadap anak kecil lebih baik, karena.. (yang beliau ungkapkan itu),
tetapi bukan berarti beliau setuju dengan cara orang barat secara keseluruhan. banyak hal yang beliau kritik dari didikan barat.

Kamu jangan menjadikan 1 hal, lalu di applikasikan ke semua hal. padahal saya kira kamu dah ngerti dari ungkapan kamu di:  >>138 (nomer 1) atau >>137 ...
saya lihat, sepertinya kamu lihat 1 permasalahan, kamu buat itu menjadi apply untuk semua permasalahan. padahal setiap permasalahan ada bacground masing2x.
sama seperti kasus ko billy, kamu liat 1 peristiwa.. sayangnya kamu gak counter dia lagi (atau memang belum ada kesempatan untuk mencounter dia kembali).

tetapi hal tsb tidak memperbolehkan kamu untuk menjelek2xkan ko billy dan langsung menganggap semua ajaran dia sesat dst.
abis jelek2xin ko billy, kamu mulai jelek2xin GRII, lalu lanjut ke yang lain2x..

padahal permasalahannya cuman satu. yah.. pertanyaan kamu ke ko billy yang enggak di jawab tidak serius oleh dia (karena yang gue rasa ada alasan2x tertentu dibalik itu).

yah.. makanya saya tantang kamu untuk langsung ke sumbernya.. tanya lah ke ko billy langsung. gak usah ngomongin yang aneh2x di web ini. tentu saja hal itu akan menimbulkan kontroversial.
makanya kamu di serang banyak orang.
Rin@Rin : 2008-04-04 05:12:46 UTC+0000
diacu: >>159
>>157
Loh, memang bukan keseluruhan, ko, dan sejauh yang kumengerti masih sama. Memang lagi mengomentari 1 hal, bukan keseluruhannya. Jadi yang dipermasalahkan ya bagian itunya, bukan orangnya; pemahaman akan yang satu itunya, bukan pemahaman lainnya, misal teologianya (yang ini memang tidak dibahas).

Kapan, ya, aku menjelekkan GRII? Sebenarnya sih aku mempermasalahkan cara beberapa orang membahas masalah, dan dari keadaannya bisa diasumsi mereka mewakili GRII. Nah, kalau orang anggap begitulah cara orang GRII, lalu bagaimana?
Yang kulakukan justru memberi peringatan. Terlepas dari menjelekkan atau apa, cara membalasnya seakan-akan membuktikan hal tersebut, bukannya ini gawat?

Eh, yang membawa topik aneh2nya bukannya justru orang dari luar situs, ya?
Rin@Rin : 2008-04-04 06:15:54 UTC+0000
Lanjut dari >>158
Sebenarnya, baik kata yang dipakai itu "ga beres", "gila", atau "sesat", kurasa kita bisa sepakat bahwa orang biasanya tidak mau dilabelkan demikian, jd kita sebut saja sifat itu sebagai "-H".
Dalam percakapan, B mendengar hanya satu sisi dari A dan memberi label -H pada A.
Setelah mencari tahu sendiri, A yang hanya mendengar satu sisi dari B memberi label -H pada B.

Marilah kita adil, kalau yang satu dipandang generalisasi, seharusnya satunya lagi juga, begitupun juga dengan sebaliknya. Tidakkah aku juga seharusnya berhak atas praduga yang sama?
Rin@Rin : 2008-04-08 08:48:27 UTC+0000
diacu: >>161
Iseng buka wikipedia cari "A", lalu sampai ke disambiguation page:
http://en.wikipedia.org/wiki/A_%28disambiguation%29

Yang menarik itu bagian ini:
A, the alternate name for Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116, a Swedish child born in 1991
Yang linknya yaitu:
http://en.wikipedia.org/wiki/Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116

Apakah itu?
Sila lihat sendiri.... Benar2.... Yah lihat aja sendiri, deh. ^^;
yuku@Rin : 2008-04-09 08:19:47 UTC+0000
>>160
Dulu pernah baca tentang nama itu di koran. Skarang baca lagi di internet deh.
Lumayan, gara2 artikel itu ngelink ke
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_unusual_personal_names
, ku jadi liat2 itu di MRT dan menghabiskan sekitar 10 menit. Banyak yang lebih aneh loh.
Rin@Rin : 2008-04-09 09:07:59 UTC+0000
diacu: >>163 >>247
Kampanye untuk menghentikan penggunaan bahan berbahaya yang sering dipakai:
http://web.archive.org/web/19970125142623/media.circus.com/~no_dhmo/
yuku@Rin : 2008-04-11 17:47:11 UTC+0000
>>162 BAHAYA DIHIDROGEN MONOKSIDA [terjemahan]

Larang Dihidrogen Monoksida! - Pembunuh Kasat Mata

Dihidrogen Monoksida (DHMO) tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa.
Ribuan orang terbunuh olehnya setiap tahun. Kebanyakan disebabkan penghirupan
DHMO yang tidak sengaja, tapi bahaya DHMO tidak berhenti sampai situ.
Terkena bentuk padatnya dalam waktu yang cukup lama dapat menyebabkan kerusakan
jaringan. Gejala-gejala tertelan DHMO di antaranya keringat yang banyak bercucuran,
sering kencing, merasa sesak dan mual, muntah, dan ketidakseimbangan elektrolit tubuh.
Menjauhkan DHMO dari mereka yang sudah mengalami ketergantungan DHMO
menyebabkan kematian.
Rin@Rin : 2008-04-12 16:45:40 UTC+0000
Dulu di PPKn belajar bahwa:
Bertakwa adalah "mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya".

Nah, dari dulu aku bingung dengan kalimat ini dan merasa bahwa seharusnya kalimatnya adalah:
Bertakwa adalah "mengikuti perintah dan laranganNya".

Kebingungannya disebabkan karena dari dulu aku mengira bahwa "larangan" itu artinya:
- sesuai yang sifatnya melarang
ATAU
- versi negatif dari perintah
ATAU
- kalau "perintah" itu isinya menyuruh orang melakukan sesuatu, aku mengira "larangan" itu sesuatu yang isinya menyuruh orang tidak melakukan sesuatu

Di sini memang aku yang salah, karena imbuhan -an tidak pernah berarti perbuatan itu sendiri, melainkan selalu obyek dari perbuatannya.
Dan aneh aku baru sadar ini *hari ini*.

Kalau dipikir-pikir, rasanya dulu bisa bingung karena di bawah sadar mengira kalimatnya itu paralel, jadi karena di awal ada kata "perintah" yang merupakan *perbuatan*, secara tak sadar mengira "larangan" juga adalah *perbuatan*.

Tapi, kalau dipikir lagi, kayanya kalimatnya memang kurang bagus, karena perbuatan melarang sendiri juga sudah merupakan perintah, jadi kalimat berikutnya itu sebenarnya tidak perlu (redundant).
Rin@Rin : 2008-04-12 17:24:49 UTC+0000
diacu: >>166
Pemutakhiran (update):
Setelah dipikir lagi, rasanya memang penggunaan kata "larangan" sering berarti perbuatannya dan bukan apa yang tidak boleh, misalnya:
- papan larangan
- "Larangan ini diberlakukan...."
- larangan bermain sepatu roda
dst

Padahal perbuatannya sendiri seharusnya "pelarangan". Yah, tapi kalau artinya memang perbuatannya, berarti seharusnya justru "melakukan larangan", jadi kalau misalnya "dilarang masuk", kalau tidak masuk kan artinya mengikuti.
yuku@Rin : 2008-04-14 06:29:27 UTC+0000
>>165
Kalo menurutku kata larangan di poin ke 1 dan 3 di atas bukan berarti tindakan melarang,
tapi emang sesuatu yang dilarang, sih. Jadi bukan pelarangan.
Papan larangan kayanya sepola dengan papan buatan, papan belian, dsb.
kalo larangan bermain sepatu roda tampaknya sih menjawab "larangan yang mana?"
sepola dengan cetakan laporan keuangan.
Rin@Rin : 2008-04-16 05:01:12 UTC+0000
diacu: >>168
"di-" dan "di"
Sebuah Pemikiran

Seperti pernah kubilang sebelumnya, seringkali orang menulis imbuhan dipisah tapi kata depan disambung. Apa alasannya?
Yah bisa jadi sih kebetulan, tp terjadinya cukup umum.
Sekarang sih jadi terpikir, jangan2 alasannya itu karena:
imbuhan "di-" biasanya memperoleh penekanan, jadi terkesan seperti kata terpisah
kata depan "di" biasanya tidak ditekankan, jadi seperti bagian kata yang sama

Biasanya kata2 dalam bahasa Indonesia memperoleh penekanan di bagian paling akhir, jadi sepertinya ada pola:
*Setelah suku kata yang ditekankan ya ganti kata berikutnya*

Makanya itu terjadi.

Begitukah?
yuku@Rin : 2008-04-16 05:08:04 UTC+0000
diacu: >>169
>>167
mungkin juga, karena kebiasaan pencet spasi setelah mengetik "di". Soalnya, kalo ku,
ada beberapa kata yang hampir selalu salah ketik. Misalnya yang kuingat:
Hampir tiap kali mau ketik "bis", keluarnya "bisa".
Hampir tiap kali mau ketik "happen", keluarnya "happend".
Mungkin karena uda kebiasaan ketik "a" setelah deretan "bis" karena sering ketik
kata "bisa". Kalo "happend" mungkin karena banyak yang pake "pend" di inggris
seperti "append", "suspend" dsb.
Rin@Rin : 2008-04-16 10:13:24 UTC+0000
>>168
Hm... ya mungkin.... Jarang melihat kasus ini muncul di tulisan tangan sih, tepatnya malah ud jarang melihat tulisan tangan. ^^;;;; Masih banyak yang misterius. :(

Mungkin imbuhan "di-" mendapat penekanan untuk membedakan dengan imbuhan "me-".
Entah....
Rin@Rin : 2008-04-21 05:37:31 UTC+0000
Cerita ini udah agak lama, jadi ya harus dilihat dengan bingkai waktu saat itu.

Di forum PINTU (Perhimpunan Indo-NTU) setahuku cuma ada 1 kata yang disensor, jadi kalau ada yang menulis itu, maka akan berubah jadi "|BAD WORD|" (tanpa tanda kutip). Dari konteks, bisa ditebak bahwa yang disensor adalah nama binatang. Dari sekian banyak binatang, aku kira yang paling mungkin adalah yang terkenal haram, yaitu "babi". Selidik punya selidik, ternyata kata yang disensor adalah "anjing", kontan aku terheran-heran.
Ko "anjing"? Bukannya anjing justru adalah salah satu hewan paling akrab dengan manusia? Bukannya banyak orang yang memelihara anjing? Bukannya anjing itu seringkali justru baik, sopan, dan menolong?
Saat ini kutanyakan ke beberapa orang, jawaban yang kudapat adalah antara lain karena orang sering mengumpat dengan kata itu. Wah, aku baru tahu! (bahwa itu sering, bukan bahwa itu ada)

Aku baru tahu bahwa kebudayaan Cina dan Indonesia memandang anjing dengan buruk, misalnya katanya di Cina saat sekelompok pemberontak kalah maka kaisar bertitah agar semua yang terkait marganya diubah jadi "anjing". Jadi menyandang nama "anjing" adalah penghinaan.
Setahuku memang tidak ada orang dari kedua negara ini yang namanya ada "anjing"nya walau nama yang ada nama binatang lainnya ada beberapa, misalnya "Rajasinga".

Entah bagaimana pendapat orang Jepang, karena nama yang ada anjingnya itu ada, misalnya "Inuzuka".

Bagaimana dengan Asia Barat? Nah, kalau ini ternyata ada, yaitu "Caleb", dan aku tahu 2 orang dari sekitar sini yang pakai nama itu!
Wah, ko kontradiksi, ya? Apakah karena mereka tidak tahu artinya? Kalau demikian, apa yang terjadi kalau mereka tahu?
Rin@Rin : 2008-04-23 08:05:54 UTC+0000
diacu: >>172
Entah karena menuruti hukum atau tahu bahwa akan ada masalah, rasanya tidak seorangpun di Singapura yang merokok dalam ruangan kantor (yang berAC).
Katanya sih, kalau merokok di ruangan berAC maka asapnya akan berputar-putar di ruangan itu juga karena sifat dari AC itu.

Tapi, entah mengapa rasanya tidak seorangpun sadar bahwa merokok di luar ruanganpun asapnya akan masuk ke ruangan, karena menempel di baju; jadi hasil akhirnya tetap mengganggu kaum yang tidak merokok.

*Wah, bagaimana, ya?*
yuku@Rin : 2008-04-25 14:00:18 UTC+0000
diacu: >>173
>>171
Apanya yang bagaimana?
Rin@Rin : 2008-04-25 15:16:50 UTC+0000
>>172
Bagaimana cara supaya ruangan yang seharusnya bebas rokok benar2 bebas rokok, karena dengan keadaan sekarang walau ada hukum melarang orang merokok di sana dan tidak ada yang melanggar, ruangan itu tetap ada asap rokoknya.
Rin@Rin : 2008-04-26 16:46:44 UTC+0000
diacu: >>175
Tahukah anda?
Bahwa *alat elektronik dan batere tidak boleh dibuang bersama sampah biasa*?

Di batere biasanya tertulis larangan membuangnya bersama sampah lain, di alat elektronik entah deh, tapi yang benar memang tidak dibuang bersama sampah biasa.

Waktu itu setelah menyadari ada tulisan demikian di batere, aku bertanya ke beberapa orang, lalu jawabannya semuanya sejenis, mereka tidak tahu buang di mana jadi buang saja bersama sampah biasa.
Belum lama ini di koran setempat akhirnya ada orang yang menyatakan kekuatiran ini, katanya harusnya ada tempat khusus, tapi negara tidak menyediakan caranya. Di artikel itu dijelaskan bahaya membuang batere bersama sampah biasa, antara lain menyangkut 2 jenis nasib sampah di Singapura:
- dipakai untuk membuat pulau, padahal ada bahan di batere yang bisa mencemari tanah (dan laut)
- dibakar, padahal ada bahan karsinogenik yang kalau dibakar jadi bisa terbang dan dihirup orang sekitarnya

Bahaya, kan? Anehnya negara semaju Singapura kelihatannya tidak peduli akan hal ini. Kalau Indonesia sih lebih wajar....

Jadi sekarang aku bingung, *bagaimana cara membuang alat elektronik bekasku?*
Selain berbahaya, kan sayang kalau dibuang sembarangan. Banyak bagiannya terbuat dari logam, jadi siap untuk dilumerkan dan dipakai membuat barang baru. Komponennya mungkin masih bisa dipakai, tapi entah ya, karena lebih susah.

Harusnya diberlakukan hukum yang melarang orang membuang barang2 ini di tempat sampah biasa, mengingat orang Singapura punya mentalitas macam, "kalau ga ada hukumnya kami tidak berniat melakukan, kalau memang mau kami lakukan itu, ya buatlah hukumnya!"
Kalau di Indonesia sih, kayanya lupakan saja. Contohnya Jakarta, udah tahu buang sampah sembarangan beresiko banjir, tetap saja dilakukan, jadi akhirnya terjadi apa yang tololopedia bilang "festival tahunan".... Di Indonesia ada ga sih hukum yang melarang orang membuang sampah sembarangan? Jangan2 memang tidak ada....
yuku@Rin : 2008-04-27 15:34:50 UTC+0000
>>174
Batre sih masuk akal, kalo alat elektronik emang kenapa? Ga bisa dibuang barengan
dengan sampah plastik ato kaleng, kah?

Kalo alat elektronik, masukin aja ke kapsul waktu, nanti kalo uda jadi kakek2 bisa kasih
liat ke cucu2, ini loh piringan jaman kakek, masih berat dan gampang kegores2...
Rin@Rin : 2008-05-01 12:25:50 UTC+0000
Kayanya alat elektronik pada umumnya bahan berbahaya yang ada juga di batere, deh.
Selain itu, kan sayang kalau dibuang, soalnya banyak bagiannya yang logam, jadi bisa didaur-ulang, sayangnya kotak daur ulang kelihatannya tidak menerima barang elektronik....
Yah selain itu komponen kayanya bisa dikanibal.
Rin@Rin : 2008-05-07 13:29:39 UTC+0000
5 gantungan kertas untuk mempromosikan 5 produk berbeda yang sejenis bertuliskan:
"Johnson Bady care...."
Rin@Rin : 2008-05-17 14:11:28 UTC+0000
diacu: >>179
Di sebuah komputer yang OSnya dipasang secara biasa yaitu di C keluar pesan:
"Drive C is not formatted, format it now?"
derianto@Rin : 2008-05-23 03:56:46 UTC+0000
diacu: >>180
>>178
kok bisa gitu?
Rin@Rin : 2008-05-26 15:04:44 UTC+0000
>>179
Kayanya sih HDnya ud rusak sedikit, mungkin di directorynya.
Rin@Rin : 2008-06-17 09:07:10 UTC+0000
diacu: >>182 >>183
Sedikit terpikir, kenapa ya orang suka banget memfitnah seperti ini:

Kasus 1:
Misalkan aku coba memakai satu alat/program tapi tidak berhasil, jadi aku bilang:
"Bagaimana sih caranya? Ga ngerti, nih."

Lalu orangnya maju dan mencoba melakukannya dan berhasil, lalu bilang:
"Nih bisa! Tadi katanya ga bisa."

Padahal kan aku bilang ga ngerti cara melakukannya, sama sekali tidak mengatakan bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan.

Kasus 2:
Aku mencari satu barang tapi tidak berhasil, jadi kukatakan, "Barangnya mana, ya? Ga ketemu, nih."
Lalu orangnya mencari dan menemukan, kemudian sambil sombongnya menunjukkan barang tersebut dan berkata, "Nih ada! Mana katanya ga ada."

Padahal aku bilangnya tidak berhasil menemukan, sama sekali tidak mengatakan barangnya tidak ada.
Rin@Rin : 2008-06-17 09:14:21 UTC+0000
>>181
Kasus 3:
Yang ini agak *borderline case*

Katakanlah aku sedang mencoba memakai satu radio, tapi karena suaranya tidak keluar maka aku bilang:
"Suaranya ga keluar nih, harus diapain?"

Lalu orangnya maju dan setelah melakukan sesuatu akhirnya suaranya keluar, terus bilang:
"Keluar tuh, mana katanya ga keluar?"

Ya memang aku tadi bilang suaranya ga keluar, makanya kan aku tanya caranya mengeluarkannya bagaimana, kenapa malah dijawab seperti itu? Harusnya ya bilang dong kenapa ga keluar, misalnya kabelnya kurang kencang. Lagipula pernyataan bahwa suaranya tidak keluar tentu saja hanya berlaku saat kalimat itu dikeluarkan, kalau setelah itu keluar tentu tidak kontradiksi.
yuku@Rin : 2008-06-21 18:12:47 UTC+0000
diacu: >>184
>>181
"ngerti" itu bagian dari "bisa" bukan sih?

"aku ngerti" dan "aku bisa ngerti" bedanya apa?
Rin@Rin : 2008-06-22 04:01:46 UTC+0000
>>183
Ngerti itu terlepas dari bisa.
"Bisa" di sini maksudnya "bisa terjadi", contohnya "bisa menyala". Walau mengerti sepenuhnya cara pakai suatu alat belum tentu suatu hal bisa dilakukan kalau memang tidak dibuat untuk bisa begitu. Dan sebaliknya, cuma karena tidak mengerti cara melakukan sesuatu belum tentu hal itu tidak bisa dilakukan, misalnya ya orang ga ngerti bagaimana cara menjumlahkan 1 dengan 1, tapi selalu bisa dilakukan, kan?
Rin@Rin : 2008-07-11 06:36:02 UTC+0000
diacu: >>186

img/46

Di atas adalah suatu gambar yang menyeramkan.

Begini ceritanya:
Setelah mengirim suatu file ke recycle bin, aku menunjuk ke sana dan menekan "empty recycle bin", lalu menyetujui. Seharusnya setelah itu iconnya menjadi tempat sampah kosong, tapi ajaib, gambarnya masih isi!
Dengan iseng kucoba menekan "empty recycle bin" lagi, dan bisa! Kadang memang ada glitch, iconnya berisi sesuatu tapi tombol tadi mati, tapi kali ini tombolnya nyala. Dan ketika ditekan, keluarlah tulisan di atas....

Penasaran, kubuka recycle binnya, dan memang kosong, tapi kalau tekan "empty recycle bin" keluar tulisan tadi.
Hii... seram....
yuku@Rin : 2008-07-14 00:12:50 UTC+0000
diacu: >>187
>>185
Coba tekan Yes dong, lalu rekam perubahan yang terjadi, biar seru!
Rin@Rin : 2008-07-15 06:30:01 UTC+0000
>>186
Kalau cari di google, ternyata masalahnya cukup umum, dan katanya sih hasilnya itu "file not found" atau apa gitu, pokoknya ga ada hasil.
Jadi ternyata ga serem....
Rin@Rin : 2008-08-10 17:28:22 UTC+0000
Belakangan ini aku sempat bertemu satu kata yang sempat membuat kepala berputar-putar, yaitu:

*pengrajin*

Kata ini kelihatannya adalah kata "rajin" yang diberi awalan, dan setahuku cuma ada 3 awalan dalam bahasa Indonesia yang dimulai dengan "pe-", yaitu:
1. pe-
2. per-
3. peN-

Tapi yang manapun, saat bertemu huruf 'r' hasilnya akan jadi "perajin", bukan "pengrajin".
Ko aneh ya....
Rin@Rin : 2008-09-11 04:06:36 UTC+0000
diacu: >>191
Kantor yang sangat tidak efektif (bagian I):

Kondisi pertama:
Misalkan ada orang yang cukup ahli (di atas rata2) menggunakan komputer, apapun alasannya (misal: di lulusan Computer Engineering). Orang ini punya komputer pribadi dan suatu hari komputernya mengalami masalah. Karena dia cukup mengerti, maka dengan mudah dia tahu bahwa masalahnya itu di power supplynya, maka segeralah ia pergi ko toko perlengkapan komputer dan membeli yang baru. Singkat cerita, diagnosanya tepat dan komputernya bener lagi.

Makan waktu kurang dari 1 hari.
Biaya paling biaya transport dan power supplynya.

Kondisi kedua:
Misalkan orang yang sama bekerja di kantor di pekerjaan yang tidak butuh keahlian komputer, misalnya dia mengurus SDM. Suatu hari komputer kerjanya rusak dengan gejala yang sama persis seperti di atas. Apa yang akan dia lakukan? Menurut prosedur kantor dia harus menelpon tukang servis.

Tukang servis biasanya butuh minimal:
1 hari untuk datang
1 hari untuk servis
1 hari untuk mengembalikan
Dan itu masih waktu minimum.
Biayanya harusnya termasuk biaya servis dan power supply, dan dalam biaya servis seharusnya ada biaya transpornya juga (transpornya si tukang servis).

Kalau kedua hal ini dibandingkan, selisih biaya waktu dan uangnya bisa banyak sekali. Kantor memang sangat tidak efektif.....
Rin@Rin : 2008-09-14 06:57:08 UTC+0000
diacu: >>194
Teknik mengetik 10 jari

Banyak orang yang mengajarkan atau mungkin menganggap teknik mengetik 10 jari itu bagus, tapi benarkah demikian?

Belum lama ini ku sadar bahwa itu cukup ga bener. Misalnya nih, teknik 10 jari itu mengajarkan bahwa Z ditekan dengan kelingking, lalu, bagaimana dong cara mengetik ctrl+z? Ctrl kiri jelas tidak mungkin ditekan dengan kelingking kiri, atau bisa aja tapi jadinya Z tidak dengan kelingking. Lalu ctrl kana? Posisinya sangat jauh jadi lebih mustahil. Jadi aku merasa ada yang tidak beres.
Baru saja aku cari referensi tentang teknik mengetik 10 jari, dan ternyata ctrl malah tidak masuk. Gawat....

Bagaimana dengan, misalnya: ctrl+shift+T? Ctrlnya mungkin kelingking kiri dan karena T itu huruf kiri, mungkin pakai shift kanan, tapi benarkah ini cara yang terbaik? Bukannya lebih mudah semuanya pakai tangan kiri, ya?

Masih ada lagi, yaitu, tombol Alt. Seperti saudaranya si Ctrl, tombol ini juga tidak dimasukkan dalam teknik mengetik 10 jari, padahal huruf2 tertentu perlu tombol Alt kanan (yang namanya Alt Gr). Yang lebih parah, Alt Gr dan tombol2 yang perlu itu letaknya semua di kanan, cukup bertentangan dengan prinsip "tombol fungsi pakai tangan yang berbeda dengan yang dipakai mengetik" (sebenarnya sih "tombol fungsi" yang dimaksud cuma "shift", tp bisa kan dipakai sebagai analogi).
yuku@Rin : 2008-09-14 07:07:04 UTC+0000
diacu: >>192
>>189
Sangat tidak efektif atau efisien, kah?
Rin@Rin : 2008-09-14 07:12:09 UTC+0000
>>191
Rasanya sih masalahnya itu efektifitas, soalnya lagi membandingkan cara yang menurutku salah dengan cara yang menurutku benar.
Kalau mengubah dikit supaya hasilnya lebih optimal, rasanya itu baru masalah efisiensi.
Rin@Rin : 2008-09-15 05:44:56 UTC+0000
Seperti layaknya banyak orang yg baru lulus, aku sering ditanya mau apa, apakah mau:
1. langsung kerja
2. melanjutkan pendidikan

Sebenarnya aku ga mau keduanya, jadi kujawab bahwa maunya balik lagi ke sekolah. Biasanya orang akan mengatakan bahwa itu sama saja dengan melanjutkan sekolah. Menurutku sih bukan "lanjut", karena lanjut itu artinya naik tingkat, sedangkan kalau S1 lagi itu "mengulang". Yah, memang sih biasanya orang itu tidak tahu bahwa aku maunya balik S1 dan setelah tau pun biasanya akan menanyakan kenapa tidak S2. Jawabannya cukup sederhana, karena S2nya tidak mengakui gelar S1ku, jadi harus S1 lagi. Pada tahap ini hampir selalu orangnya marah karena itu artinya mengulang sekolah.

Jadi dari awal aku sudah bilang itu bukan lanjut, tapi malah dimarahi, sedangkan pada akhirnya dia juga yang bilang itu bukan lanjut....
>_<
yuku@Rin : 2008-09-16 10:28:44 UTC+0000
diacu: >>195
>>190
Kayanya keterampilan ketik 10 jari itu asalnya dari waktu jamannya mesin tik yah?
Lalu karena banyak orang yang kerjanya di komputer ketik2 dokumen, balas imel, bikin
artikel, maka keterampilan itu diperlukan.

Padahal dulu waktu mesin tik, belom ada tombol ctl, alt, apalagi win, yang ada cuma shift.
Sedangkan di kompu banyak yang perlu lakukan operasi lain dengan aplikasi, bukan cuma
mengetik teks, makanya perlu digeser2 formasi jarinya.

Jadi kesimpulannya apa yah? Pake 2 cara aja, kalo lagi ketik tulisan panjang, pake yang 10
jari, kalo selain itu pake berapapun jari. Ku sendiri cuma bisa 7 jari, kelingking malah kurang
kuat ngapa2in (terbukti waktu main guitar hero susah pencet tombolnya).

coret[eNodjk1Ow0AMhZ89vyEKaResgAU36g0QEgKVlkg0EZkwToYcuTfAQU-2bOt7tq-H3259XLsF0o_P8uq_4hiWSNaEhhvsEeGR6IgXvOPihzC5bMBkot-Zlloldv-MgQVp3lQw8Yk_cEKHQetvTpxNMXConLVsEFCrbtGoavVXOnHqZMy4mDfb25HL1hrjvfNkySvtldw41kuk92Ykp__EHGcHy6TrpZaYb7L_qcZKXLbC18PD-rkeC6QMc4czRpr0m4kJjlt_Z-_DE_YlCMmSU07SS1oEhTTwB_NtLuQ$] -> Mana yang kelingking, mana yang jempol?
Rin@Rin : 2008-09-22 10:08:34 UTC+0000
>>194
Belum lama ini cari di wikipedia, dan kalau ga salah ada halaman tidak pernah bilang soal "10 jari", yang ada cuma "8 jari". Jadi yang benar 8, kah?

Sepertinya sih memang dari zaman mesin tik, tapi apa masih sangat relevan untuk dipakai sekarang? Mesin tik biasa tidak bisa bold maupun italic, dan underline kalau tidak salah harus dibuat terpisah, jadi apakah untuk memakai typesetting seperti itu di zaman sekarang tetap yg terbaik dilakukan setelah selesai mengetik?

Di lain pihak, kalau kita melihat orang bermain alat musik seperti piano, gitar, atau violin, biasanya pemula akan meletakkan tangannya di posisi yang tetap dan dipaksa untuk menekan tempat tertentu dengan jari tertentu. Tapi, kalau sudah memainkan lagu yang rumit, tangannya akan melompat-lompat ke sana-sini. Tentu saja lagu rumit hanya bisa dimainkan orang jago, jadi orang jago tangannya tidak diam di satu tempat.
Bisa dipakai sebagai analogi atau tidak ya...?
Rin@Rin : 2008-09-22 10:12:20 UTC+0000
diacu: >>197 >>198
Sering orang bertanya pertanyaan seperti, "Kemarin malam tidur jam berapa?"

Menurutku ini salah satu pertanyaan terbodoh, karena kan tidak mungkin orang yang bersangkutan tau dia tidur jam berapa. Yang bisa tahu kapan seseorang itu hanya orang lain, tapi kalau orang itu hanya melihat maka perkataannya sulit dijadikan patokan, karena orang yang sudah tidur dan berusaha tidur tidak terlihat jauh bedanya. Satu-satunya cara untuk mengetahui kapan seseorang itu mulai tidur ya dengan menggunakan alat2 yang umum dipakai di rumah sakit.

Heran deh.
1peH@Rin : 2008-09-22 13:44:21 UTC+0000
diacu: >>199
>>196
Kayaknya itu hanya berlaku untuk orang yang jarak antara mengatupkan mata dan tidur pulas cukup lama. Kalau yg langsung pulas dalam 5 menit sih ya aja jawabannya bisa dipercaya.
yuku@Rin : 2008-09-23 06:33:14 UTC+0000
diacu: >>199
>>196
Masi mending kalo misalnya ku mulai ke kasur untuk bobo jam 2:00, lalu
kan ku ga tau pasti beneran bobonya jam berapa, tapi karena pertanyaannya
cuma "Jam berapa?", maka bisa kubilang "Jam 2" (kalo bukan ga bisa tidur).
Beda lagi kalo pertanyaannya "Tadi malam bobo jam berapa dan menit berapa?"
coret[eNr7GMDSVNZQzMDCpM8s-TGArWlqQzkjL4MEAy8DKyPHxwDOppCGPYyMnKIiwsqMouUcBWzFTPUAgRMM3Q$$]
Rin@Rin : 2008-09-24 06:47:52 UTC+0000
>>197
Sayangnya aku termasuk yang lama, makanya jadi kesal.
Bisa aja aku jawab dengan asumsi yang orangnya tanya itu kapan "go to bed"-nya, tapi apa guna dan relevansinya? Misalkan aku dengan jujur jawab, "Jam 11," padahal tidurnya sendiri sebenarnya jam 2, terus kan jawaban tadi sebenarnya tidak menjawab apa2. Sedangkan kalau aku menjawab "Jam 2," nanti dimarahin karena telah bergadang....
Menjawab lengkap sebenarnya sih bisa, tapi itu kalau orangnya mau mendengarkan jawaban sepanjang itu.... Repot....

>>198
Weleh, itu mah kamunya sengaja mengartikan "jam" ke arti yang satunya lagi. ^^;
XD
(not that I'm always not guilty of the same thing....)
Rin@Rin : 2008-09-25 03:25:42 UTC+0000
Tau "Project 10^100"?

Kalau belum tau, maka bukalah: http://www.project10tothe100.com/
Sederhananya, kalau merasa punya ide yang dapat mengubah dunia, maka kirimlah!


Nah, sekarang uneg-unegnya....
1. Aku membuka website itu dari Singapura dan disuguhi dengan bahasa Mandarin. Tentu saja google cukup canggih untuk tahu orang yang membuka ada di mana, jadi kelihatannya bahasa yang ditampilkan itu bergantung ke tempatnya, dan di sini bs terlihat bahwa bagi google, Singapura berbahasa Mandarin. Cukup aneh karena padahal banyak juga orang Singapura yang tidak bisa membaca bahasa Mandarin dan selain itu bahasa resmi negara adalah Inggris.
Bukti ketidakacuhan orang Amerika Serikat akan Asia Tenggara?
2. Di halaman faq-nya ada kata: "in appropriate", padahal seharusnya "inappropriate". Apakah google tidak memakai pemeriksa ejaan yang bagus? Menimbang bahwa "in appropriate" itu bisa benar tergantung dari kata berikutnya, berarti kesalahan ada karena tidak memakai piranti lunak yang cukup canggih, padahal google rasanya cukup canggih, deh....
Rin@Rin : 2008-10-02 12:57:51 UTC+0000
Baru sadar akan hal ini:

Biasanya masing-masing orang mempunyai kesukaannya sendiri-sendiri. Ambil contoh misalnya lagu. Ada orang yang pekerjaannya menyanyi di acara-acara. Mungkin di acara itu dia akan mendapat permintaan akan lagu tertentu yang katakanlah dia tidak suka. Lalu bagaimana?
a. bisa saja dia menolak, tapi resiko dianggap tidak profesional
b. bisa saja dia menyanyi itu, tapi berarti dia harus tau lagunya. Kalau dia tidak suka, harusnya susah untuk hapal kecuali sudah latihan, tapi itu artinya selama latihan dia terpaksa menyanyikan lagu yang tidak ia sukai.

Secara umum biasanya penyanyi-penyanyi bisa menyanyikan berbagai lagu, dan sebagai manusia mungkin tidak suka akan kebanyakan lagu itu, jadi mereka terpaksa menderita karenanya. Di sisi lain, belum tentu lagu yang sudah dilatih akan diminta, jadi hasil latihannya mubazir....
Repot juga ya....
Rin@Rin : 2008-10-04 05:59:36 UTC+0000
diacu: >>203
Belum lama ini di Pasuruan ada insiden Zakat.
Jadi singkatnya ada orang kaya mau bagi-bagi uang ke orang miskin, tapi karena orang-orangnya pada rakus jadinya berebut, jadi banyak yang mati. Karenanya maka si orang kaya dihukum penjara.
Menurutku ini tidak adil, orang bagi-bagi uang kan maksudnya baik, sedangkan orang kan tidak boleh rakus, kenapa yang baik malah dihukum?

Tapi aku bukan mau bicarakan insidennya.
Sebenarnya kenapa sih si orang kaya bagi-bagi uang? Karena ada hukum Zakat. Nah, apa itu Zakat? Sederhananya ini adalah hukum dalam agama Islam yang mengharuskan orang yang kaya untuk membagikan uangnya ke orang yang lebih miskin.

Bagaimana dengan Kekristenan?
Dalam kitab Kisah Para Rasul, jemaat yang mula-mula banyak yang menjual hartanya dan membagikan hasilnya ke orang-orang miskin. Tidak ada hukum yang secara spesifik menyuruh mereka begitu, berarti ini semua akibat dari ajaran yang mereka terima. Ajaran yang paling berpengaruh tentulah dari Yesus yang Diurapi.

Sekarang kita balik ke perjanjian lama. Di perjanjian lama ada hukum perpuluhan, hukum ini meminta orang menyerahkan sepersepuluh penghasilannya ke Bait Allah. Hasil pengumpulan tentunya akan dibagi-bagikan ke yang membutuhkan, jadi bahkan dari dulu ada ajaran untuk menyeratakan pendapatan.
Nota bene: perjanjian lama adalah ajaran orang Yahudi.

Dari sini bisa dilihat bahwa orang Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki ajaran untuk meratakan pendapatan, dan mengingat bahwa mereka mengakui menyembah dewa yang sama (setidaknya yang lebih muda mengakui demikian), maka ya tidak terlalu aneh.

Nah, sebenernya ini ajaran apa sih? Tentu saja ajaran Komunisme! Jadi bisa dibilang bahwa Allah mengajarkan komunisme dan Yesus adalah tokoh komunis.
Kata siapa komunis harus atheis!
yuku@Rin : 2008-10-06 04:22:02 UTC+0000
diacu: >>204
>>202 Nah, sebenernya ini ajaran apa sih? Tentu saja ajaran Komunisme!

Ini kebalik ato sama aja sih? Apakah komunisme muncul karena pembuatnya terpengaruh
ajaran dari Yahudi atau Kristen atau Islam? Atau kebetulan aja sama?

Atau mungkin kah, tadinya mereka memang suka berbagi2, namun karena pembagian itu
ada yang merasa iri, rebutan, dsb, mereka berhenti berbagi2, kemudian supaya tak berhenti
maka lebih baik dianjurkan atau disuruh aja.

Mengenai persepuluhan, setauku itu dipakai untuk memelihara Bait Allah dan untuk
menghidupi orang Lewi yang kerjaannya di sana (jadi ga dapat harta dari usaha lain).
Rin@Rin : 2008-10-06 06:41:51 UTC+0000
>>203
Sekitar 5 tahun lalu pendeta yang sedang berkunjung ke gerejaku berkhotbah antara lain bahwa Marx meniru cara hidup jemaat mula-mula, tapi sekarang aku ragu apakah dia memang meniru itu (kalaupun dia meniru rasanya tidak akan mengakui demikian).

Aku tidak tahu motivasi tiap2 orang yang mengajari komunisme, yang jelas komunisme sangat menggiurkan bagi rakyat miskin, soalnya mereka jadi lebih kaya. Karena itulah, orang bisa memanfaatkan ini untuk ambil kekuasaan; bisa dibilang, "Orang jahat memanfaatkan penderitaan rakyat". Karena sering begitu, orang asosiasinya komunisme = jahat, padahal tidak harus begitu.
Yah kayanya sih kalau seperti Uni Soviet itu "menyuruh berbagi" maksudnya supaya mendapat dukungan rakyat miskin.

Setahuku setidaknya harta bait Allah jg diberikan ke janda miskin, dengan catatan bahwa dulu wanita dianggap tidak mungkin berpenghasilan besar dan harus didukung suami, makanya yang disebut itu "janda miskin".

Bingung? Maaf kalau bingung, soalnya bingung jg bagaimana menulisnya supaya jelas....
Rin@Rin : 2008-10-13 03:10:22 UTC+0000
Microsoft Office

Paket ini datang dengan berbagai produk, nah aku sih melihat ada 3 kelompok:
1. Word, Excel, Power Point
Kayanya kebanyakan orang tau ini apa dan banyak juga yang pake

2. Outlook
Rasanya jumlah penggunanya lebih sedikit dari yg di atas, tapi banyak juga yang pake. Yang susah dari ini, biasanya untuk bisa pake butuh pengetahuan agak lebih.

3. Access, Front Page
Hanya orang2 tertentu saja yang akan pake.

Jadi terpikir:
Biasanya kalau Office dipasang dengan "Typical", semua produk di atas akan dipasang. Masalah yang kulihat sih, orang2 yang akan menekan tombol "Typical" itu (atau apapun nama lainnya) biasanya melakukan itu karena merasa gaptek jadi tidak mau menekan custom, padahal, sepertinya hanya orang2 yang tidak merasa gaptek yang akan butuh memakai produk di kelompok 3 ataupun mungkin 2 (tp Outlook cuma repot di awalnya saja).
Mungkin harusnya Typical hanya install yang kelompok 1 saja ya, yang memang typical dipakai....
Rin@Rin : 2008-10-14 00:04:04 UTC+0000
diacu: >>207
Wah, baru tau bahwa ternyata Opera (browser) sekarang tersedia dalam bahasa Indonesia. Belum dicoba sih....
Rin@Rin : 2008-10-14 00:05:06 UTC+0000
>>206
Eh, atau mungkin lebih tepatnya, "dengan resmi" (karena kayanya dulu sudah pernah ada tapi belum resmi, hehe....)
Rin@Rin : 2008-10-14 13:56:10 UTC+0000
"Kamu kan kaya, ko tidak bisa bayar?"
"Kamu kan pintar, ko begini saja tidak bisa jawab?"
"Kamu kan kuat, ko tidak mau bantu?"

Sering orang bilang begitu, padahal orang yang dibilang demikian sering tidak pernah mengatakan bahwa mereka demikian; bahkan malah mereka mungkin justru berpikir mereka tidak begitu. Jadi seringkali sebenarnya hanya orang lainlah yang *menganggap* demikian. Mungkin ada baiknya kita tidak sembarangan menganggap orang lain itu kaya/pintar/kuat.

Di sisi lain, ada juga orang bisa bilang:
"Loh, kamu kan pintar, ko bisa salah begini?"
Sehubungan dengan hal ini, sebenarnya Dumbledore (tokoh di Harry Potter) justru mengatakan bahwa karena dia lebih pintar dari orang lain maka kesalahan yang dia perbuat malah cenderung lebih besar.

Sepertinya sih memang begitu, dan sehubungan dengan kekayaan juga kelihatannya orang kaya sekali rugi bisa sedemikian banyaknya sampai bunuh diri, sedangkan orang miskin malah mungkin tahan lama.

Mungkin ada baiknya bagi orang yang tidak punya untuk lebih menerima keadaan mereka yang punya sedangkan yang punya lebih banyak berbagi dengan yang tidak punya.
Rin@Rin : 2008-10-14 14:12:54 UTC+0000
Di antara: kaya, pintar, dan kuat, aku merasa kalau orang kuat itu paling "berhak" sombong, dilanjutkan orang kaya, dan terakhir orang pintar.

Kalau misalnya orang pintar tidak mau mengajari, sering dibilang, "Sombong amat sih, ga mau ngajarin!" tapi kalau dia mau mengajari, malah dibilang, "Tau deh yang pintar...."

Kalau orang kaya tidak mau berbagi biasanya dibilang "Pelit kamu, ah!" tapi kalau dia berbagi seringkali orang berterima kasih.

Tapi kalau orang kuat lain lagi. Rasanya orang kuat boleh memaksa orang lain untuk kuat juga tanpa ada yang menentang. Contohnya: walaupun standar nilai olah raga "memaksa" murid untuk mendapat nilai hanya 5-6 dengan 7 hampir tidak ada, tidak ada yang menentang (padahal kalau misalnya matematika nilainya segituan kan pasti gurunya kena masalah). Kalau orang bilang "Nih aku bisa, masa kamu tidak bisa" biasanya orang anggap memang begitulah sewajarnya.
Rin@Rin : 2008-10-20 02:00:44 UTC+0000
Bingung, masih susah membedakan antara bahasa Cinanya 50 sen dan 80 sen. :(
Sebenarnya bedanya cukup banyak, sih, tapi tetap saja sulit membedakannya....
Rin@Rin : 2008-10-23 10:04:24 UTC+0000
diacu: >>212
Sering terjadi percakapan yang kalau disederhanakan jadi seperti ini:

A: Kamu melakukan XYZ!
B: Ga usah ngomong gitu deh, toh kamu jg melakukan
atau
B: Ga usah ngomong gitu deh, toh banyak yang melakukan

Sebenarnya, jadi mengapa kalau B itu bukan satu-satunya yang melakukan? Ada orang lain yang melakukan atau tidakpun tidak akan mengubah kenyataan bahwa B melakukan XYZ tersebut. Kalau XYZ itu sesuatu yang salah dan bisa membuat pelakunya dihukum, berarti si B mungkin dihukum. Banyak yang melakukan bukan berarti B jadi tidak dihukum, bedanya ya mungkin saja karena kebetulan atau apa semua yang lain itu malah tidak dihukum tapi cuma B yang dihukum. Bisa saja B terpilih secara acak dan akhirnya dihukum untuk memberi contoh pada yang lain dan yang lain akhirnya insyaf dan malah tidak dihukum.
Adil? Entah, mungkin juga tidak adil, tapi toh kenyataannya adalah kalau B melakukan dan akhirnya dihukum ya berarti dia dihukum, ada atau tidak orang lain yang melakukan tidak akan mengubah kenyataan tersebut.
yuku@Rin : 2008-10-24 12:35:03 UTC+0000
diacu: >>213
>>211
Tadinya kepikirannya karena B menganggap bagi dia sendiri cukup aman, misalnya
kalau memang bisa dihukum, karena dia liat banyak orang yang ga dihukum, maka resikonya
jadi kecil.

Misalnya hukumannya denda 10 000 dolar, dan dari pengamatan dia yang dihukum
karena melakukan cuma 1 dari 1 000 orang, jadi bagi dia resikonya cuma setara dengan
10 dolar. Kalau yang dilakukannya bernilai lebih dari 10 dolar, untung dong.

Ini juga suka terjadi, misalnya, waktu itu pernah ada orang ke luar negeri, tapi
takut bawa uang tunai banyak2. Misalnya dia mau bawa 1000 dolar saja, dari 2000 yang dia
punya karena takut kalau hilang. Padahal di sana akan butuh lebih dari 1000 dolar,
jadi dia berencana ambil di ATM di sana, yang kena biaya tambahan 30 dolar karena
di luar negeri.

Kalau dia takut hilang 1000 dolar, padahal seandainya resiko hilang hanya 0.5%, resiko itu
cuma senilai 5 dolar, lebih baik daripada kehilangan 30 dolar karena ambil di ATM itu.

Begitulah, sering kali orang nga mau rugi sesuatu yang besar (makanya ada asuransi)
padahal kalo menang undian yang besar mau.

(ini jadi topik lain yah)
Rin@Rin : 2008-10-26 13:49:57 UTC+0000
>>212
Iya, kayanya jadi topik lain. Sebenarnya mungkin juga cara ngomongnya salah, sih.
Maksud awalnya tuh begini: orang yang dituduh salah bisa saja membenarkan dirinya dengan menunjukkan kesalahan orang lain atau bukan dia satu-satunya yang bersalah, tapi toh pembenaran dengan cara tersebut tidak akan menyelamatkan dirinya kalau sampai dihakimi.

Yah, menurutku yang kamu bilang itu benar, memang itu bisa jadi alasan dia melakukan itu, tapi setuju juga kan bahwa kalau alasannya begitu maka alasannya tersebut tidak akan menyelamatkan dirinya kalau sampai tertangkap?
Rin@Rin : 2008-11-14 02:55:49 UTC+0000
Orang Mesir adalah salah satu bangsa yang gemar memasukkan nama dewa ke nama orang.
nota bene: perbedaan kecil pada ejaan bukan berarti merupakan kata yang berbeda, perpindahan dari satu bahasa ke bahasa lain bisa mengakibatkan perubahan pada ejaan)

Di antara para Firaun ada yang namanya "Ramses" dan "Tutmoses". "Ra" dan "Thoth" itu nama dewa, sedangkan "moses" itu sederhananya berarti anak, jadi "Ramses" itu artinya "anak Ra"
"Moses" itu sendiri mirip dengan nama seorang tokoh besar yang dibesarkan di Mesir, jadi jangan2 dia juga dulu namanya mengandung nama dewa.

Sebagai perbandingan, dulu para Paus Katholik yang awal tidak mengganti nama saat naik tahta, namun suatu kali yang naik adalah orang bernama "Merkurius". Kelihatannya kedua orang ini sadar bahwa tidak pantas pemimpin agama memiliki nama yang merupakan dewa agama lain, jadinya nama itu dihilangkan.
Rin@Rin : 2008-11-15 17:04:07 UTC+0000
Terakhir pulang ke Indonesia, aku baru menyadari bahwa orang Indonesia sekarang menyebut "Cina" sebagai "Caina", jadi mirip dengan ujaran orang Amerika, dan menulis "Cina" sebagai "China", dengan huruf "h", juga jadi seperti cara orang Amerika menulisnya.

Aku sudah tahu bahwa orang Indonesia gemar sekalai memakai istilah bahasa Inggris, tapi rupanya akhirnya nama negarapun ikut-ikutan menjadi korban.
Banyak sih dalam kata-kata dan nama yang dipakai orang Indonesia yang sebenarnya kurang tepat, tapi kalau istilah itu sudah dipakai lama memang susah mengubahnya, jadi untuk hal-hal tersebut bisa dimaklumi, tapi ko ini malah jadi lebih kacau...?

Kelihatannya satu-satunya yang justru dipertahankan supaya tidak mirip bahasa Inggris justru "bahasa", sampai sekarang masih aja ada orang Indonesia yang kalau berbicara bahasa Inggris memakai istilah "bahasa" saat yang dimaksud adalah bahasa Indonesia.
Rin@Rin : 2008-11-15 17:23:58 UTC+0000
diacu: >>217
Dalam bahasa Inggris ada singkatan "IMHO", In My Humble Opinion.
Ada lagi "my 2 cents", yaitu mengatakan bahwa pendapatnya hanya senilai 2 sen, maksudnya "tidak berharga".

Aku merasa ada yang salah. Kalau memang orang itu merasa bahwa pendapatkan tidak berharga, rasanya dia tidak akan menyatakan itu. Atau bisa juga dilihat dari sisi lain, yaitu kalau memang pendapat itu tidak berharga, buat apa digubris? Buat apa mengacuhkannya? Lebih baik dilupakan dan cari yang memang berharga.

Ini mirip juga dengan budaya basa-basi yang katanya "budaya Asia". Misalnya, kita diajari:
1. kalau ditawari makanan harus menolak misal dengan alasan sudah kenyang
2. kalau dipuji harus berlaga bilang tidak apa-apa
3. kalau didatangi tamu walau sebenarnya tidak mau menjamu harus pura-pura sukarela memberi makanan
dll

Banyak orang berpendapat itu untuk kesopanan, atau demi menjalin persahabatan, menurutku ini hanyalah kebohongan.

Di sisi lain, ada juga pembahasan misal ada kasus yang sebenarnya ceritanya ada banyak versi, tapi sederhananya begini:
Misal ada orang yang dikejar-kejar orang lain lalu kita tahu bahwa dia dikejar dan tau dia sembunyi di mana. Kalau seandainya pengejarnya bertanya pada kita tentang keberadaan orang itu, apa jawab kita? Berbohongkah? Memberi tahu tapi resikonya dia mati?

Aku beberapa kali mendengar pembahasan tentang kasus seperti ini. Ada yang bilang kalau bohong, itu namanya "white lie", "bohong yang benar". Ada juga yang mengatakan bohong selalu salah. Yah banyaklah pendapatnya, tapi aku tidak sedang membahas itu jadi sampai di sini saja dulu.

Balik ke masalah awal. Bohong yang seperti barusan itu sering dibicarakan, tapi aku tidak pernah mendengar ada pembahasan tentang kebohongan seperti di atas. Mungkin karena tidak ada merasa itu termasuk kebohongan?
Menulis/mengetik/berbicara butuh waktu dan tenaga. Katanya "time is money", menyatakan bahwa waktu itu berharga. Kalau ada orang yang sampai memberi pendapat, jelas dia tidak menganggap pendapatnya itu hanya bernilai 2 sen.
Makanya aku tidak mau bilang "my 2 cents" ataupun "IMHO", paling2 hanya "IMO".

- Rin

(catatan: kalau aku menekan tombol "gp" itu bukan maksudnya ga penting, tapi supaya tidak terlalu memenuhi halaman 'u'.
yuku@Rin : 2008-11-16 03:35:28 UTC+0000
diacu: >>218
>>216
Ada 1 cara yang kadang ku lakukan supaya ga bohong dan dia ga *mati* juga, yaitu
"ga boleh tau" atau "ga mau kasih tau" ... tapi resikonya ditanggung sendiri heheh.

Kalo mengenai 2 sen dsb, itu kan pembicara bilang bahwa mungkin yang dia katakan
bernilai 2 sen bagi pendengar, belum tentu bagi dia sendiri. Sedangkan 2 sen itu belom tentu
ga berharga. Hal yang *keliatannya ga berharga* itu bisa jadi berharga pada saat tertentu,
misalnya uda belanja 10.02 dolar tapi cuma ada 10 dolar uang kertas dan 2 sen itu :D
Rin@Rin : 2008-11-17 02:19:55 UTC+0000
>>217
Yah aku tau sih ada jawaban seperti itu juga, tapi seperti kubilang, aku ga mau bahas itu di sana karena bisa jadi panjang sendiri.

Apa mu yakin itu bagi pendengar? Rasanya sih dari yang kutangkap dan juga kalau cari di internet itu bahwa bagi pembicara itu tidak berharga jadi dianalogikan dengan 2 sen.
Contohmu itu agak ga nyambung karena jadinya terbalik, soalnya aslinya itu dianggap tidak berharga jadi dimiripkan dengan 2 sen sedangkan di contohnya 2 sen lalu bagaimana pendapatnya. Gitu, kan?
Rin@Rin : 2008-12-23 02:48:49 UTC+0000
diacu: >>220
Entah meng apa aku sering me lihat orang me misah kan imbuh an dari kata dasar nya, karena itu aku sekarang mau ikut-ikut an men coba me misah kan imbuh an dari kata dasar nya juga.
Heran deh, kira in orang yang kerja an nya me nulis seperti jurnal is atau edit or bakal tidak me misah kan se cara sem barang an, tapi ter nyata tidak begitu ya....
yuku@Rin : 2008-12-25 06:27:00 UTC+0000
diacu: >>221
>>219
Kadang ku bingung apa tujuan bagian-bagian yang harus disatukan dan bagian-bagian
yang harus dipisahkan.

Mungkin maksudnya supaya imbuhan atau bagian lain yang mengubah arti bagian utama
sengaja disatukan supaya lebih mudah dipahami sebagai suatu konsep yang tak terpisah.
Misalnya kata "disatukan", kalau ditulis "di satu kan" terlihat seperti konsep yang terpisah,
seperti "Kamu tinggal di Bandung kan?"

Dengan demikian ku lebih suka memisahkan ku dan mu dari bagian utama, walau kalo ga
salah tidak sesuai dengan aturan. Misalnya "Bukumu kubeli". Walau itu artinya
{Buku milik mu} {dibeli} {ku} tapi entah kenapa ku dan beli disatukan, padahal "ku" tak
mengubah konsep "beli", beda dengan misalnya pe-an yang membuat "beli" menjadi
"pembelian". Jadi ku lebih suka tulisnya "Buku mu ku beli".
Rin@Rin : 2008-12-25 07:04:24 UTC+0000
diacu: >>222 >>224
>>220
Dalam hal 'ku' dan 'mu' mungkin alasannya adalah masing2 itu tidak bisa berdiri sendiri, alasan yang sama dengan kenapa partikel seperti "kah" dan "lah" digabung dengan kata dasarnya.
"Kah" dalam contoh seperti ini digabung:
1. Bolehkah saya pergi?
2. Apakah gerangan yang ada dalam pikiranmu?

Tapi yang seperti ini terpaksa dipisah:
1. Ini milikmu, kah?
Mungkin karena:
1. Seharusnya "kah" itu menempel dengan "apa" tapi "apa"-nya sendiri sudah hilang.
atau
2. "kah" itu mengacu ke seluruh kalimat jadi harus ada penanda bahwa itu demikian.

Apapun alasannya, kalau maunya "mu" dan "ku" dipisah, maka seharusnya "nya" juga dipisah, tapi terlihat bahwa kamu tidak melakukan itu....
yuku@Rin : 2008-12-25 13:19:19 UTC+0000
diacu: >>223
>>221
Ooh, mengenai nya yah. Betul juga, kenapa ga dipisah yah?
Salah satu alasan yang kepikir, adalah karena "nya" tak selalu berarti "dia", tapi
kadang berarti mirip dengan "the" atau untuk menunjukkan sesuatu yang spesifik.

Seperti "Terima kasih atas kedatangannya" yang bukan berarti "kedatangan dia".
Nah tapi mungkin karena itu, "nya" yang berarti "dia" pun kadang tak salah jika
dianggap sebagai "nya" yang menunjuk.

Karena biasanya, percakapan seperti ini:
A: Kamu tau tentang Pak Kakus?
B: Oh, makhluk yang kumisnya meruncing itu?
Dalam hal ini "kumisnya" berarti "kumis dia", tapi kalau kita anggap "kumis yang
sudah kita tau" pun ga salah, karena "nya" di sana juga berarti sudah spesifik.

Akibatnya, daripada bingung kapan yang "dia" dan yang menunjuk, jadilah penulisan
"nya" disambung.
BAKAS (CMIIW).

a. Tadi sudah mandi kah?
b. Tadi sudah mandikah?
c. Apakah tadi sudah mandi?
d. Apa kah tadi sudah mandi?
Rin@Rin : 2008-12-25 14:07:58 UTC+0000
>>222
Padahal ud ada ini dari sejak Februari....
http://indonesian.kejut.com/Impersonal_-nya

(barusan disunting karena ada salah ketik sedikit)

Ringkasan: menurutku sih keduanya sama2 kata ganti orang ketiga, jadi penulisannya harusnya sama.
(baru kepikir satu hal lagi, tapi kutulis terpisah deh)
Rin@Rin : 2008-12-25 14:36:06 UTC+0000
Tambahan untuk >>221
(tadinya pikir yang akan kutulis ini sudah pernah disebut waktu membicarakan cara melafalkan bahasa Indonesia, tapi sepertinya tidak)

Mungkin kata-kata yang terkesan terpisah dan tidak mengubah arti tersebut ditulis jadi satu karena keberadaannya seringkali menggesar penekanan dari yang asalnya terletak di suku kata terakhir jadi ke suku kata tersebut.
Misalnya:
ru-MAH --> ru-mah-NYA
bo-LEH --> bo-leh-LAH

Sebenarnya kalau mau dilanjutkan sih, bisa juga bilang:
ru-MAH --> ru-mah ma-KAN
jadi seharusnya digabung, tapi maukah orang-orang Indonesia kalau 2 kata yang satu kesatuan ditulis jadi satu seperti orang Belanda atau Jerman begitu?
Rin@Rin : 2009-01-15 14:54:01 UTC+0000
diacu: >>226
*Tabbed Browsing*
(entah apa bahasa Indonesianya)

Dulu browsing itu satu halaman satu jendela, tapi kelihatannya ada yang punya ide bagus: daripada begitu, lebih baik semuanya masuk satu jendela saja dan dibedakan dengan tab.

Bagus?

Bisa jadi, kalau saja dijalankan dengan benar, sayangnya para pembuat Firefox merasa punya ide lebih "bagus": kalau halamannya minta supaya dibuatkan jendela baru, maka Firefox akan memenuhi permintaan tersebut dan dibuatkanlah jendela baru.

Apa gunanya sih? Bukannya tujuan mengumpulkan itu agar halaman2 yang berhubungan ada dalam satu jendela? Berhubungan itu misalnya: lagi lihat halaman ini nih, lalu ada tautan ke halaman lain, maka kedua halaman itu berhubungan.

Waktu itu aku membicarakan hal ini ke seseorang, lalu muncullah satu nama add-on. Sayangnya add-on ini "berhasil" tapi caranya dengan memaksa semuanya jadi satu jendela, jadi aku tidak bisa pakai jendela kedua kalaupun mau....

(disadur dari tulisanku yang satu lagi)
yuku@Rin : 2009-01-16 15:15:04 UTC+0000
diacu: >>227
>>225 Hmm,
img/56?
Rin@Rin : 2009-01-17 10:06:28 UTC+0000
>>226
Pengaturannya memang sudah benar begitu, tapi itu hanya berhasil kalau begini:
<a href="apa_aja_deh" target="_blank">

Padahal kebanyakan website sekarang modelnya pakai:
window.open("apa_aja_deh", "terserah")

Kalau mau lebih pengertian, sih, alasannya itu karena Firefox ga mau ada "jendela dalam jendela" (lupa apa istilah teknisnya), jadi popup tidak mungkin dibuka dalam jendela itu juga.

Tapi ya... ngapain juga pake browser lambat....
Rin@Rin : 2009-01-20 02:56:25 UTC+0000
Kadang ada orang yang bilang makanan tertentu itu "sinful", bahkan pembuatnyapun tidak kalah, kadang dengan jelas tulis macam "nikmatilah dosa" waktu mengiklankan.
Kenapa ya? ^^;;;;;


(tentunya maksudnya bukan "babi", karena orang2 yang anggap itu haram tidak akan bilang "sin", tp ya... "haram")
Rin@Rin : 2009-01-20 03:05:34 UTC+0000
Orang aneh di kereta (bagian 1)
(kata2 orang tersebut dikutip persis sejauh ingatan penulis)

Dalam kereta penuh sesak. Kereta sedang mendekati stasiun, tapi masih cukup jauh dan kecepatannya sama sekali belum menurut.
Orang: (sedang duduk, dengan suara agak keras) "Excuse me, I'm getting off at this station."
Kereta masih belum melambat
Orang: (dengan suara lebih keras) "EXCUSE ME! I'M GETTING OFF AT THIS STATION! How can I get off if you're in my way?"
Kereta mulai melambat sedikit. Orang ini bangun lalu pada saat itu juga masinis menjalankan rem, orang ini agak terpelanting.
Orang: "SHIT! I hate this company's train!"
Orang ini keluar lalu tidak terlihat lagi.

Epilog:
Orang2 yang masih ada di dalam gerbong itu mulai berbicara satu dengan yang lain. Ada banyak suara tawa.

Pesan moral:
Kalau kereta belum berhenti, tidak usah buru2 meminta orang lain untuk memberi jalan, apalagi bangun dari tempat duduk. Tunggu sajalah kereta berhenti. Apalagi kalau stasiunnya bukan di daerah terpencil, toh mungkin orang2 di depanmu juga mau turun.
Rin@Rin : 2009-01-26 18:07:11 UTC+0000
diacu: >>231 >>232
Kalau ada persamaan:
y = mx
istilahnya "y berbanding *lurus* terhadap x"

kalau:
y^2 = mx^2
istilahnya "y berbanding *kuadrat* terhadap x"

Tapi kalau cuma mau mengatakan bahwa: "apalagi x meningkat, maka y juga meningkat", istilahnya berbanding apa, ya?
yuku@Rin : 2009-01-28 09:55:41 UTC+0000
diacu: >>232
>>230
"sebanding"? kalo kata sebanding doang, sama artinya dengan berbanding lurus ga yah?

Atau "x makin banyak, y makin banyak"?
Rin@Rin : 2009-01-29 03:01:47 UTC+0000
>>230
Ralat: "apalagi" seharusnya "apabila"
dengan ini redaksi memohon maaf.....

>>231
Sepertinya "sebanding" itu kata yang kurang eksak, mungkin karena itu tidak dipakai, tapi mungkin juga justru karena itu jadinya justru memang kata yang aku cari....
Rin@Rin : 2009-01-29 03:12:08 UTC+0000
Orang aneh di kendaraan umum (bagian 2)
(judul diganti saja deh, dengan ini judul yang lamapun diganti)

Jeglek, jeglek.....
Bunyi suara roda kereta api.

Gerbong itu sepi. Sebagian besar penumpang duduk, dan masih banyak kursi kosong. Dari jendela terlihat pemandangan hitam. Kereta api tidak sedang di bawah tanah. Tiba-tiba....
"LA LA LA LA LAAA"

Seseorang bertubuh besar yang berdiri di depan pintu mulai bernyanyi keras, tidak jelas sejak kapan dia ada di sana. Tidak jelas bahasa apa yang dinyanyikannya, mungkin juga sebenarnya bukan bahasa apa-apa karena dia tidak hafal liriknya. Orangnya berkulit gelap, tapi tidak jelas Melayu atau India. Lagunya berirama tidak jelas juga Melayu atau India.

Beberapa penumpang mulai saling berbicara. Agak terlihat mereka tertawa, tapi tidak berani keras-keras.

Agak lama kemudian orang itu terdengar tiba-tiba diam. Terkesan orang ini sadar bahwa dia aneh, tapi ternyata bukan itu. Tiba-tiba dia kembali bernyanyi keras dengan irama lain, beberapa penumpang kembali saling tertawa.

Hal ini terulang sampai beberapa kali, tidak jelas....
Rin@Rin : 2009-01-30 17:54:21 UTC+0000
diacu: >>235
Sering orang mau mengirim surat elektronik dengan lampiran, tapi lupa melampirkan jadi akhirnya terpaksa kirim lagi..
Lebih sering yang lupa atau yang ingat, ya?

^^;;;
yuku@Rin : 2009-01-31 14:32:27 UTC+0000
diacu: >>236
>>234
Coba pake forgotten attachment detector di gmail :D
Rin@Rin : 2009-02-01 04:54:41 UTC+0000
>>235
Tapi belakangan kejadian itu cuma ada dalam pengamatan dan bukan pengalaman. ^^

Ud sempat cari tau, tapi kelihatannya itu cuma mencari kata2 tertentu dalam suratnya, jadi kalau kata yang digunakan berbeda akan tidak berguna juga. :(
Rin@Rin : 2009-02-01 11:14:14 UTC+0000
Tidak semua tikus memiliki tombol tengah, misalnya "tikus" (baca: papan sentuh) yang ada di komputer pangkuan (baca: laptop).
Dulu memang tombol tengah kurang penting, tapi rata2 penjelajah dunia maya memakai tombol yang satu itu, biasanya untuk membuka halaman di tab baru di belakang.

Nah, kalau tidak punya tombol tengah tapi mau pakai fungsi itu bagaimana, dong?
Biasanya masalah ini dapat dijembatani dengan menglik tombol sambil menekan tombol-tombol tertentu di papan kunci. Lama aku memakai Firefox, kukira tombolnya itu ctrl+shift, tapi tidak berhasil. Asalnya kukira memang Firefox tidak punya, tapi temanku menunjukkan bahwa itu bisa. Singkat cerita, ternyata:
ctrl+shift+klik di bookmark bisa terjadi yang begitu
tapi kalau dilakukan di tautan yang ada di halaman, tidak berhasil, harus pakai ctrl+alt.

Masalah terselesaikan, sih, tapi sangat mengherankan bahwa tombol yang dipakai itu berbeda kalau yang diklikpun berbeda. Aneh....
Rin@Rin : 2009-02-02 03:05:40 UTC+0000
Rin@Rin : 2009-02-04 03:13:05 UTC+0000
Sering terdengar saran untuk setidaknya lulus universitas, bahkan kalau misalnya orang yang bersangkutan berencana jadi ibu rumah tangga saja. Terkesan bahwa pendidikan universitas itu penting dan "wah". Tapi setelah menjalani sendiri, aku jadi ragu; rasanya banyak sekali pelajaran yang tidak berbeda dengan SMA.
Belakangan malah lebih ekstrim. Waktu itu di kereta ada melihat ada orang belajar rumus seperti ini:
(catatan: hurufnya yang dipakai mungkin salah)
b = (1+r)^n * a

Itu rumus modal akhir apabila bunga memakai prinsip "bunga berbunga" / "compound interest"

Ada 4 variabel. Prinsip yang sudah diajarkan dari SMP adalah kalau dalam sebuah persamaan hanya satu yang tidak diketahui, maka yang satu itu dapat ditemukan. Setidaknya anak SMP sudah diharapkan untuk bisa menjawab kasus: a = b * c, dan tentunya juga a = b + c. Mungkin perlu tingkat SMA untuk menjawab persamaan yang memakai pangkat. Tapi yang mengherankan adalah, materi kuliah tadi memakai sekitar 4 halaman kertas A4 untuk menjelaskan! Penjelasannya menjelaskan cara mencari yang tidak diketahui untuk setiap kasus, padahal itu pelajaran SMA....
Rin@Rin : 2009-03-07 08:32:34 UTC+0000
Kata "significant" biasanya berarti "penting", tapi sepertinya menerjemahkan "significant digit" sebagai "angka penting" itu kurang tepat.... :(
Tp bingung juga enaknya jadi apa.
Rin@Rin : 2009-04-01 06:43:41 UTC+0000
diacu: >>242
Mengapakah kalau orang ditanya, "Apa beda A dengan B?" jawaban pertama biasanya adalah, "Beda."?
yuku@Rin : 2009-04-01 07:18:50 UTC+0000
diacu: >>243
>>241
(secara sintak) Karena "Apa" di sana bisa berarti "Apakah" juga, seperti pada misalnya,
Apa kamu sudah pulang?
Apa dia sudah menikah?

Semacam "Apakah beda, A dengan B?"
hehe
Rin@Rin : 2009-04-01 11:12:50 UTC+0000
>>242
Masa begitu?
"Apa beda" itu satu frase, menduduki jabatan yang sama, predikat.
Sedangkan contoh yang kamu beri itu sudah jadi kalimat majemuk dengan pola:
"<kata tanya> <anak kalimat>"
Dalam bahasa Inggris, kalimat dengan pola yang sama adalah:
"Is it (true) that you have returned?"

Sedangkan kalimat yang lebih sederhana, "Are you back yet?" itu padanan (secara pola) dalam bahasa Indonesia "Sudahkan kamu pulang?"

Pertanyaan yang kalau dijawab dengan "beda" adalah tepat itu modelnya:
"Apakah A dengan B beda?"

Yang pertama tadi itu bisa juga jadi:
"(Antara) A dan B apa bedanya?"
atau:
"Apa bedanya A dengan B?"
tapi toh seringkali jawabannya seperti tadi lagi, "Beda"....
^^;;;;
Rin@Rin : 2009-04-07 04:19:33 UTC+0000
Seringkali alasan seseorang suka sesuatu dan alasan orang lain benci sesuatu yang sama adalah sifat yang sama dari hal tersebut.
Rin@Rin : 2009-04-08 03:33:13 UTC+0000
diacu: >>246 >>260
Banyak orang Singapura bilang "Haizz".
Aku ga tau sumbernya apa, tapi bunyi dan pemakaiannya mirip, "Sheezz".
Yang ini rasanya sih turunan dari "Jeez/Geez".
Yang terakhir ini korupsi dari "Jesus!"

Kalau memang "haizz" dari "sheezz", berarti "haizz" itu dari "Jesus!"

Dalam bahasa Inggris banyak kata seru yang sumbernya sekitar situ2 juga, misal:
"My God!"
"Holy Mary!"
"Mary, Mother of God!"

Berdasarkan satu ajaran, penggunaan kata2 seperti ini, termasuk juga yang dari bahasa Arab, adalah pelanggaran hukum Taurat ketiga.

Sempat ada orang mengira orang2 tertentu sangat religius karena sedikit2 menyebut nama Yang (dianggap) Suci. Tapi kalau ajaran yang barusan benar, berarti bukankah ini justru sebaliknya?
Rin@Rin : 2009-04-08 03:40:56 UTC+0000
diacu: >>251
Kata2 di >>245 banyak yang mengalami pergeseran bunyi seperti contohnya di alinea pertama.

Mungkin orang merasa tidak enak kalau mengucapkan begitu, makanya akhirnya digeser dan berakibat banyak yang kira itu cuma sekedar kata seru.

Di sisi lain ada beberapa yang sebenarnya aslinya bagus, tapi karena bergeser jadi biasa saja dan orang banyak salah memakai.
Misalnya itu: "God be with you"

Kalimat ini sekarang jadi... ayo tebak!



Jawaban: "Good bye"
Orang sekarang, atheis ataupun tidak, akan memakai kalimat ini....
Rin@Rin : 2009-08-21 02:07:49 UTC+0000
(Sebenarnya sudah tau dari lama) Website >>162 ada yg lebih baru:
http://www.dhmo.org/

Ayo, mari hentikan penggunaan zat berbahaya ini!
Rin@Rin : 2009-08-21 02:42:57 UTC+0000
Kalau ada kakak dan adik, biasanya masyarakatnya maunya apabila mereka menikah, maka pasangan kakak tetap lebih tua daripada si adik dan pasangan adik tetap lebih muda daripada si kakak. Jadi kakak ipar memang kakak dan adik ipar tetap adik.
Tentu saja kenyataannya tidak selalu begitu, apalagi di zaman sekarang.

Bagaimana ya, seandainya misal pasangan seseorang lebih tua daripada orang tua orang itu sendiri?
yuku@Rin : 2009-08-25 07:13:22 UTC+0000
Wah, baru tau ada maunya begitu.

Ko tiba2 ngomongin pasangan begini? Ada apakah?
Hmm berarti pasangan itu bedanya banyak.
Apa yang terjadi tentu saja keajaiban dan ketidaknormalan.
Rin@Rin : 2009-08-27 09:41:45 UTC+0000
Setidaknya ku berasa demikian. Tentu belum tentu benar, tapi mungkin akan lebih terasa di kelompok yang juga berpendapat "adik tidak boleh melangkahi kakaknya".

Tidak ada alasan khusus, hanya terpikir saja. Mungkin terpikirnya karena belum lama ada kenalan yang menikah. (ku tidak tahu orang itu hubungan umurnya bagaimana, tapi rasanya sih "normal")
andreas@Rin : 2009-09-01 08:58:36 UTC+0000
diacu: >>252
>>246
menarik yah, kupikir good bye itu dipake buat bilang selamat tinggal (selamanya / dalam jangka
waktu yang lama.). makanya ada istilah "He's going back to indonesia for *good*"

dari itu toh ternyata
Rin@Rin : 2009-09-02 00:17:05 UTC+0000
diacu: >>255
>>251
Kurang yakin "for good" itu maksudnya apa, tapi kadang ku berasa itu maksudnya, "Syukur deh (buat kita) dia ud ga ada lagi". Jadi semacam ironi, gt. Entah benar atau tidak....
Rin@Rin : 2009-09-02 00:18:29 UTC+0000
diacu: >>254
Ada game judulnya: "AaaaaAAaaaAAAaaAAAAaAAAA".....

Mengingatkanku pada judul suatu film: Bobobo-bo Bo-bobo (ボボボーボ・ボーボボ)

Ada-ada saja....
Rin@Rin : 2009-09-02 00:19:03 UTC+0000
>>253
Ah, kurang satu 'A'.... :(
andreas@Rin : 2009-09-02 11:05:59 UTC+0000
diacu: >>256
>>252
ya itu maksudnya selamanya / dalam jangka waktu yang lama :D.
Rin@Rin : 2009-09-03 00:46:41 UTC+0000
diacu: >>257
>>255
Ya? Bingung, ga ada kata2 "forever" kan di kalimatnya....
andreas@Rin : 2009-09-03 03:19:36 UTC+0000
>>256
iya, implicitly implied tuh :D haha, heboh amat uda implicit, implied lagi :p. yah itu setauku selama tinggal beberapa tahun di luar negri lah. kalo teman yang pulang indo ga balik2 lagi kita sebutnya for good ato for the better. :D, mungkin maksudnya for good buat dia juga kali, kayak well wishing.
Rin@Rin : 2009-09-04 11:26:18 UTC+0000
diacu: >>259
Lupa siapa yg bilang:
"Orang Singapura religius, ya? Dikit2 "Oh my God"

Ku sendiri berpikir (bukan membalas dia):
"Banyak orang aneh, banyak yang free thinker tp malah bilang 'Oh my God', loh?"
andreas@Rin : 2009-09-04 15:50:48 UTC+0000
diacu: >>260
>>258
kepengaruh pelem2 holiwud? :D
Rin@Rin : 2009-09-05 02:35:43 UTC+0000
diacu: >>261
>>259
Ga tau. :(
Tp sekarang orang ngomongnya "OMG" (baca: "Oh-Em-Gee").

Alasannya mungkin seperti >>245: supaya ga jadi menyebut kata tertentu.
andreas@Rin : 2009-09-05 15:24:34 UTC+0000
diacu: >>262
>>260
kuliat-liat sepertinya kata OMG juga uda turun yah nilai dan artinya. kalo ditranslate harafiah memang oh Tuhanku!, tapi kuliat orang lebih banyak pake yah simply karena mereka kaget (seperti astaga bahasa indo). sama sekali uda nggak refer lagi ke keTuhanan itu. entah juga yah, either itu memang natur manusia yang sebenernya juga sadar kalo ada 'higher being', ato memang uda mengalami depravasi nilai.
Rin@Rin : 2009-09-06 06:23:59 UTC+0000
diacu: >>263 >>266
>>261
Pernah bilang lom ya?
Menurutku:
"yaelah" dari "ya Allah", dan ini dari "masya Allah"....
Mirip juga....

ps: "natur".... Pilihan kosakatanya GRII sekali.... Jadi teringat para politikus Indonesia, suka memakai bahasa Inggris tanpa alasan yang jelas jadi terkesan cuma buat keren-keren saja.
yuku@Rin : 2009-09-06 13:18:22 UTC+0000
diacu: >>265
>>262
ps2; "simply" ... Pilihan kosakatanya PakHendra sekali....
Rin@Rin : 2009-09-07 03:59:48 UTC+0000
diacu: >>269
Ooooh, ternyata itu biangnya.

Habis, rasanya rata2 bilang, kukira itu sesuatu yang mendarah daging.... (eh?)

Kata2 seperti "presaposisi" juga dari dia?

(padahal pakai kata yang lebih umum seperti "prasangka" dan "sifat dasar" juga bisa) :(
andreas@Rin : 2009-09-07 05:23:52 UTC+0000
diacu: >>268
>>263
ku pernah iseng itung dia ngmg simply brp kali sekali kotbah, ada lah sekitar 25 kali-an
andreas@Rin : 2009-09-07 05:24:34 UTC+0000
diacu: >>267
>>262
wah ku ga tau itu khas grii, emang suka dari sononya ama kata2 natur :P bukan buat keren2an juga sih kalo ku. :P
imambenjol@Rin : 2009-09-07 07:01:13 UTC+0000
>>266
memang sudah "natur" nya orang-orang grii

XD
yuku@Rin : 2009-09-07 08:05:57 UTC+0000
diacu: >>270
>>265
gawad ku juga pernah waktu itu kotbah pendek, ada tepat 10 kali kata "simply"
dia bacanya "simpli" sih.

Eh dulu 2 taunan lalu dia suka pake kata "berkaitan dengan". sekarang sudah mendikit.
andreas@Rin : 2009-09-07 09:11:21 UTC+0000
>>264
$strings = explode('|', 'natur|presaposisi|prasangka|sifat dasar');
$terpendek = 9999;
$dimana = -1;
for($i = 0; $i < count($strings); ++$i) {
    $dimana = (strlen($strings[$i]) <= $terpendek) ? $i : $dimana;
}
echo $strings[$dimana];

yang paling pendek tentu donk

*(*(*(*(*(*(*gp++))))))++
Rin@Rin : 2009-09-07 13:18:30 UTC+0000
>>268
Apakah mu bisa mendengar beda "simply" dengan "simpli"? Apakah bedanya?
Rin@Rin : 2009-09-09 02:17:32 UTC+0000
Dalam bahasa Inggris, sebenarnya bentuk kalimat berikut tidak dianjurkan (bagian bermasalah yang sebaiknya dihilangkan *ditebalkan*):
1. It may *or may not* happen.
2. It will happen whether you want it *or not*.

Alasannya adalah, bentuk "may" dan "whether" sudah secara tersirat menunjukkan ada 2 kemungkinan, jadi cukuplah menyebut satu.
Walau demikian, bentuk tadi cukup umum.
Rin@Rin : 2009-09-09 02:19:07 UTC+0000
Masih terkait >>271

Herannya, kalau misal orang bilang bahwa "mungkin sesuatu", ada saja orang yang setelah melihat bahwa kenyataannya tidak seperti itu, bilang bahwa orang tersebut salah. Sebenarnya orang tersebut terlepas dari benar atau salah, karena pernyataan itu hanyalah dugaan/tebakan, bukan keyakinan akan faktanya.
Rin@Rin : 2009-09-09 02:22:18 UTC+0000
Ga terlalu terkait >>271 sih.
Menyebut lawan dari suatu keadaan (*'state'*), dalam bahasa Cina merupakan bentuk formal dari kalimat tanya, misal:
你有没有车? (Apakah kamu punya mobil?)
Bentuk sehari-harinya adalah:
你有车吗? (Punya mobil ga?)

Herannya, seperti digambarkan terjemahan di atas, bentuk 'menyebut lawannya' dalam bahasa Indonesia justru adalah bentuk sehari-harinya.
Rin@Rin : 2009-09-09 02:29:30 UTC+0000
diacu: >>275 >>285 >>291
Kalau *alasan manusia melakukan dosa adalah karena, em..., naturnya berdosa*, maka bahkan sebelum manusia melakukan dosa pertama sudah mempunyai natur itu, yang artinya manusia diciptakan dengan natur berdosa.

Terasa ada yang salah.
andreas@Rin : 2009-09-09 02:42:33 UTC+0000
diacu: >>276
>>274
setauku natur manusia sebenernya baik, hanya corrupted (pada saat jatuh). jadi ga naturally evil, naturally good, but corrupted.

2 sen saya sajah
Rin@Rin : 2009-09-09 02:50:00 UTC+0000
diacu: >>277
>>275
Tetap tidak menjelaskan alasan kejatuhan.
andreas@Rin : 2009-09-09 03:07:33 UTC+0000
diacu: >>278
>>276
kejatuhan manusia mula2? om Adam dan tante Hawa makan buah terlarang?
Rin@Rin : 2009-09-10 14:54:51 UTC+0000
diacu: >>282
>>277
Tidak menjawab pertanyaannya.


Omong2, kenapa menganggap mereka paman dan bibi? Tidak mengakui punya leluhur seperti itu? ^^;
Rin@Rin : 2009-09-10 14:55:21 UTC+0000
diacu: >>292
Tiada saran lebih baik daripada saran yang buruk. Atau, benarkah begitu?
Rin@Rin : 2009-09-10 15:07:27 UTC+0000
diacu: >>281 >>286
Tahukah anda:
Bahwa email (surat elektronik, e-mail) menyimpan suatu data yang tidak pada badannya sedemikian sehingga membalas suatu email akan beda dengan menulis email baru ke orang yang sama.

Dampak praktisnya adalah, program pembaca email tertentu dapat mengelompokkan email balasan bersama surat aslinya.
Rin@Rin : 2009-09-10 15:08:35 UTC+0000
Lanjutan >>280
Tahukah anda:
Bahwa SMSpun juga menyimpan data tambahan sehingga membalas suatu SMS tidak sama dengan mengirim SMS baru ke orang yang sama.

Tapi dampak praktisnya ku tidak tahu....
andreas@Rin : 2009-09-10 17:40:04 UTC+0000
diacu: >>283
>>278
Ok, ku baru baca ulang n mudeng. tapi klarifikasi dulu yah :D,

maksud pertanyaan mu itu, kok bisa nek Hawa dan kek Adam memberontak pertama kali, sepertinya diciptakan pemberontak?

gitu kah?

haha, mengakui kok, yah iseng aja lah bisa dibilang :D
Rin@Rin : 2009-09-11 07:15:53 UTC+0000
diacu: >>284
>>282
Bisa dibilang begitu, tapi harus dilihat dalam *terang* kalimat awal tadi.

"Terang"... ini jargonnya orang mana ya? :P
andreas@Rin : 2009-09-11 08:05:48 UTC+0000
diacu: >>285
>>283
nah iya kembali lagi ke soal natur baiknya manusia pada saat diciptakan, masalahnya adalah Tuhan juga menciptakan manusia mula2 selain baik, mereka juga memiliki hak bebas (free will) dalam memilih apapun keputusan yang mereka ambil. Sehingga partly mungkin juga karena iblis (ular) yang menggoda mereka dan keputusan yang mereka ambil ga bijak sehingga mereka memberontak.

mungkin kalo dulu kata pendeta ku dulu di GRII sydney, 3 stages manusia yah:
1. Awal diciptakan manusia tidak berdosa, tapi berpotensi melakukan dosa.
2. Setelah jatuh, manusia berdosa, tidak bisa tidak berbuat dosa.
3. Setelah ditebus, manusia berdosa, tapi bisa tidak berbuat dosa.

ku mungkin salah / kebalik2 :P, tapi sudah kuingat sekeras dan sebisa mungkin.

setau saya yah, kalo masi ada yang keliatannya *aneh* tolong ditanyaken, biar saya juga bisa belajar lagi ^^

wah gawad, kubahkan baru tau *terang* bisa dipake di konteks kalimat mu ^^;;;;
Rin@Rin : 2009-09-11 14:19:30 UTC+0000
>>284
Menurutku masih kontradiksi *kalau* kalimat di >>274 itu harafiah tanpa ada maksud implisit karena bisa dilihat dari konteks atau apapun itu.
Tentu saja bisa tidak masalah kalau tidak harafiah, tapi:
1. kalimat yang lebih akurat apa?
2. ku bertanya-tanya kenapa para tokoh agama sering ngomong dengan tidak harafiah sehingga akibatnya:
    a. banyak orang yang berdebat artinya
    b. jadi bahan serangan pihak lawan


Baru tau bisa dipake begitu apakah maksudnya:
a. setahumu tidak bisa dipake begitu
  atau
b. mu tidak sadar saja

Yang manakah? Kalau (a), mengapakah demikian dan bagaimanakah seharusnya?
kittymew@Rin : 2009-09-11 14:59:06 UTC+0000
diacu: >>287
>>280
Haha, menarik. Tp pengelompokan bukan krn judulnya sama yah? (cuma beda di "Re:" nya)
Kalo reply email tapi judulnya diganti kan jadi kayak email baru.
Aku sering gitu kalo mau kirim mass email, ambil dari email lama yg dikirim ke org2 itu, ganti judul dan isi =p
Rin@Rin : 2009-09-12 04:31:27 UTC+0000
>>286
Mungkin saatnya mengubah kebiasaan. :)
Yang pasti sama sekali bukan di "perihal" (subject)-nya.
Sebenarnya client yang mengelompokkan dengan lebih jelas ada banyak, tapi mungkin tidak banyak yang pakai. Kebanyakan tidak mengelompokkan sama sekali. Gmail sendiri hanya mengelompokkan saja, mana yang membalas mana tidak kelihatan (adakah feature lab untuk begitu?). Ada lagi yang lebih jelas seperti yahoogroups (di yahoogroupsnya, bukan di emailnya).
Kalau misal ada email A, lalu ada B balas A dan C balas B, maka akan ada rantai:
A - B - C

kalau misal ada D balas A, lalu ada E balas B, maka:
A - B - C
  |  |- E
  |- D
(kira2 begitu)
Rin@Rin : 2009-09-15 11:35:50 UTC+0000
Entah mengapa orang Singapura suka sekali mengatakatan "actually". Ku sering tidak paham makna kata tersebut saat diucapkan oleh orang Singapura, karena saat diucapkan sama sekali tidak ada sesuatu untuk dibandingkan baik dalam pikiran, dalam tulisan, maupun perkataan.
Ibaratnya seperti bilang: tulisan ini *sebenarnya* ditulis olehku.
Padahal cukup jelas dari "kepalanya" bahwa memang yang menulis adalah aku dan bukan orang lain.
Rin@Rin : 2009-09-15 16:07:13 UTC+0000
Sepertinya ada beberapa orang yang menganggap warna merah bagus buat visited link. Sayangnya, ku sering memakai wikipedia, dan link warna merah artinya broken link....

(sebenarnya sih tidak persis broken link, tp link untuk edit artikel karena artikelnya tidak ada, tapi ya kira2 broken....)
yuku@Rin : 2009-09-16 07:56:37 UTC+0000
>>271
Ah, *cuma gitu aja*


:p

\u0067\u0070
yuku@Rin : 2009-09-16 08:00:39 UTC+0000
diacu: >>293
>>274
Eh sama ku juga pernah (dan sebetulnya masih, tapi ga begitu dipikirkan lagi) bingung dengan
hal ini.

Kalau pada awalnya diciptakan baik, mungkin ga akan jatuh dalam dosa.
Kalau jatuh dalam dosa itu karena ada sesuatu yang mengubah manusia yang tadinya
baik menjadi ada suatu "kekurangan" sehingga berbuat dosa atau jatuh dalam dosa.
Atau emang diciptakannya tidak begitu baik.

Jadi kalo dari sini, (manusia diciptakan baik) dan (manusia jatuh dalam dosa) ga bisa 22nya
betul.
yuku@Rin : 2009-09-16 08:02:25 UTC+0000
diacu: >>294
>>279
Tiada saran lebih buruk daripada saran yang buruk?

Melempar 1 burung dengan 2 batu

gp!!!!!
andreas@Rin : 2009-09-16 11:34:27 UTC+0000
>>291
kalo menurutku natur ciptaan itu pasti ga sempurna yah. pak tong perna bahas soal apakah Tuhan itu bisa menciptakan sesuatu yang sesempurna diriNya? kalo bisa berarti akan terjadi adanya Tuhan yang tercipta dan Tuhan yang sudah ada, dan jadi kacau.

yah kalo ku merasa sih pada saat penciptaan mula2 manusia itu baik adanya dan tidak berdosa dan bahkan yang adalah gambar dan rupa Allah tapi tetap manusia bukanlah Allah yang benci dosa, dan manusia itu pun memiliki kehendak bebas. lalu datanglah sang iblis menggoda si manusia. ku ga nyalahin iblis sepenuhnya, tetep keputusan memakan buah tetep diambil oleh hawa

eh iya, baik != sempurna, jadi mungkin maksudmu bilang baik itu == sempurna.
Rin@Rin : 2009-09-17 03:03:17 UTC+0000
>>292
Entahlah, karena kalau asalnya tidak apa-apa, maka saran buruk akan membuat keadaan menjadi lebih buruk, sedangkan tidak menyarankan apa2 berarti tidak mengubah status quo.
Rin@Rin : 2009-09-17 12:11:38 UTC+0000
diacu: >>296
Sebelum ini saya telah memaparkan 2 contoh "kelebihan kata". Kedua contoh tersebut mewakili 2 jenis "kelebihan kata".
1. Kata2 yang berlebih karena tidak pada tempatnya
2. Kata2 yang berlebih karena tidak menambah arti
Untuk kali ini saya akan memaparkan jenis yang pertama saja.

Catatan: kata2 yang saya sebut sebagai contoh *sebenarnya*[1] tidak salah, hanya dalam penggunaannya sering salah.

Jenis yang pertama memiliki 2 dampak:
1. tidak menambah nilai apapun
2. menambah sesuatu yang justru bertentangan dengan sisa kalimatnya.

Penggunaan kata "actually" biasanya tidak menambah apapun karena tidak ada sesuatu yang dibandingkan baik tersurat maupun tersirat; tidak ada maksud apapun yang tersembunyi. Contoh lain yang juga sering seperti ini adalah "basically".
Misal:
<sambil menunjuk gambar pohon>
EN: "Basically this is a tree"
ID: "Pada dasarnya ini pohon"

Ya, sudah cukup jelas bahwa itu pohon....

Contoh dari yang justru bertentangan misalnya: "kan".
"Kemarin kan aku ketemu si Anu."

Apa yang salah? Yang salah adalah "kan" berguna untuk memastikan bahwa pendengar sudah tahu fakta tersebut, tapi kalimat itu adalah kalimat pengenalan yang tujuannya adalah memberi informasi baru.
Jadi ada konflik antara kalimat yang bertujuan memberi informasi baru dengan penggunaan kata yang bertujuan memastikan bahwa pendengar sudah tahu.

[1] Kata "sebenarnya" di sini dipakai sebagai kontras kalau2 orang mengira bahwa kata tersebut salah, jadi penggunaannya adalah menunjukkan bahwa itu tidak salah.
andreas@Rin : 2009-09-18 05:59:15 UTC+0000
diacu: >>297
>>295
kalo
- naik ke atas
- turun ke bawah
- maju ke depan
- mundur ke belakang

apakah kelebihan kata juga?
Rin@Rin : 2009-09-19 11:21:13 UTC+0000
diacu: >>298 >>299
Karena keterbatasan waktu, maka jenis yang kedua, "Kata2 yang berlebih karena tidak menambah arti" belum dipaparkan.

Menjawab >>296, kalimat2 tersebut memang berlebih, tapi merupakan contoh dari jenis yang kedua.

Topik ini agak "susah" karena ad yang mengatakan *harus dihindari* ada pula yang menentang.
Contoh di >>271 muncul dalam apa yang namanya "style guide" dan katanya, sih "poor style". Mereka menentang penggunaannya.
Aku sendiri bingung sebaiknya yang mana, jadi tidak memihak. Lain dengan jenis pertama yang menurutku harus dihindari.

Jenis kedua ini yaitu menggunakan kata-kata yang kalau dihilangkan pun artinya tidak berubah.

Lalu, apa yang susah?

Dalam bahasa Inggris, fenomena ini disebut dengan "redundancy". Karena mungkin ada yang tidak paham, maka saya jelaskan ini dulu.
Menurut kamus Inggris-Indonesia, kata ini berarti "berlebihan, kemewahan, kelimpahan", tapi arti ini, walau mungkin benar, cukup berbeda dengan penggunaannya dalam bidang teknis. Redundancy dalam satu rancangan maksudnya adalah rancangan itu menggunakan lebih banyak dari yang dibutuhkan. Contoh:
1. Bangunan hanya perlu 6 pilar, tapi dibangun dengan 8 pilar.
2. Hard Disk cukup perlu 1 untuk menyimpan data, tapi pakai 2.
3. Pesawat terbang cukup perlu 2 mesin tapi ada 4 (tergantung pesawatnya).
Perlu ditekankan bahwa dalam bidang teknis, sekedar menambahkan *bukan* redundancy yang bagus, apalagi kalau misalnya hanya membawa, seperti misalnya mobil membawa 1 roda tambahan (yang ini sekedar "cadangan").

Redundancy adalah bagian dari rancangan, jadi merupakan sesuatu yang dipikirkan.

Apa gunanya? Kegunaannya pada dasarnya sama semua, yaitu agar rancangan secara keseluruhan masih dapat melaksanakan tugasnya. Mungkin saja tidak sebagus saat semuanya ada, tapi setidaknya tidak langsung gagal total. Jadi ada faktor keamanan di sini.

Tentu saja, menambangkan komponen artinya biaya lebih banyak. Di sinilah polemiknya: pilih biaya atau pilih aman?

Balik ke tentang bahasa. Menambahkan kata2 yang mempunyai artinya bisa berguna untuk memperjelas. Mungkin inilah alasan terkuat bagi yang pro. Di sisi lain, biaya menambah kata sebenarnya tidak banyak, tapi mungkin dianggap bodoh. Mungkin sebenarnya ini adalah usaha dari orang2 yang lebih pintar untuk membedakan diri mereka dari orang2 "biasa".

- Rin
Rin@Rin : 2009-09-19 11:25:53 UTC+0000
diacu: >>299
>>297
Contoh tambahan:
dianggap berlebih karena pernyataan "A or B" tetap benar walaupun keduanya benar. Lain kalau kalimatnya adalah "either A or B"; yang ini harus pilih 1.
Banyak dipakai dalam hukum.
Rin@Rin : 2009-09-19 11:45:02 UTC+0000
diacu: >>301
>>297
>>298

Satu lagi yang membuat penolakan terhadap redundancy dalam bahasa berat adalah karena berbagai bahasa dalam tata bahasanya sendiri memiliki redundancy. Ada yang banyak ada yang sedikit, mungkin ada juga yang tidak punya (entah).
Contohnya:
1. Dalam bahasa Indonesia, kata kerja dalam kalimat aktif harus diberi awalan "me-", padahal untuk membedakan cukup dari keberadaan awalan "di". Mungkin karena ini maka dalam bahasa sehari-hari awalannya hilang (walau perubahan bunyi masih tetap).
2. Dalam bahasa Inggris, "to be" ada 3 jenis, "am", "is", "are". Toh sebenarnya tidak perlu karena salah satu dari "I am" sudahlah cukup.
3.
Rin@Rin : 2009-09-19 11:54:11 UTC+0000
Menyebut judi (di >>[imambenjol/147]) jadi terpikir:

Orang bisnis sering bilang tentang "(high|low) (risk|gain)". Ku masih bingung, yang diukur dengan "high/low" itu peluangnya, nilainya, peluang * nilai, ataukah yang lebih buruk dari antara peluang dan nilai?.
yuku@Rin : 2009-09-19 12:04:36 UTC+0000
diacu: >>302
>>299
1. (set lingkup kata kerja = kata kerja yang bisa dikasi me-)
Bukankah secara teori (kadang prakteknya lain), {kata kerja yang tidak diberi me-} dan
{kata kerja dengan awalan di-} keduanya pasif? Hanya yang {kata kerja dengan awalan me-}
yang aktif.

Seperti: Saya menyapu lantai -> aktif
Lantai disapu saya -> pasif
Lantai saya sapu -> pasif
saya sapu lantai -> pasif juga, cuma urutannya dibalik

3. Dalam bahasa inggris,  "3 bola" disebut "3 balls". Toh sebenarnya tidak perlu "balls" cukup
"ball" karena kalau "3" sudah pasti jamak.
Rin@Rin : 2009-09-19 15:50:02 UTC+0000
>>301
Sepertinya definisimu akan:
kalimat aktif: subyek dulu baru obyek
kalimat pasif: obyek dulu baru subyek

Dulu diajarkannya memang begitu sih.

Kontraindikasinya sudah ada di contohmu yang ketiga. Secara umum, adalah wajar kalimat aktif subyeknya belakangan. Ada bahasa tertentu yang polanya malah OPS, Obyek Predikat Subyek.
Sebenarnya aku bisa lebih panjang di sini, tapi mari lanjut saja. :)

Sebenarnya sih, pelajaran bahasa Indonesia itu tidak sesuai dengan definisi linguistic internasional. Dalam kalimat pasif bahasa Indonesia (juga Inggris dll), polanya tetap SP, Subyek-Predikat. Penentu keaktifan bukanlah pada urutan komponen kalimat, tapi pada keberadaan "pelaku" (actor).

Ada beberapa hal yang jadi bahan pertimbangan, jadi mungkin dijelaskan dulu saja.

I.
Tergantung bahasa, ada kata2 yang sifatnya "optional" = tidak perlu disebut. Tapi ketidakadaannya dalam kalimat bukan jadi berarti bahwa kata itu tidak ada, hanya tidak disebut saja.

II.
Yang biasanya orang bilang "subyek" seringkali sebenarnya trinitas, memegang 3 jabatan sekaligus, yakni: subyek, topik, pelaku (actor).
Bedanya?
Subyek: sesuatu yang menempel langsung pada predikat. Kalau kata kerja ibarat punya "socket", ini salah satu yang harus ada.
Topik: dalam deretan kalimat (kalau tertulis merupakan 1 paragraf), seringkali ini kata pertama dalam paragraf. Biasanya tidak diulang lagi untuk kalimat selanjutnya tapi tetap berlaku.
Aktor: pelaku kegiatan yang disebut oleh kata kerja.

III.
Nah, jadi apa bedanya aktif dan pasif? Bedanya adalah fokus "arah" kegiatan (tidak menemukan kata yang lebih bagus).
Aktif menjelaskan bahwa sesuatu melakukan suatu kegiatan sedangkan pasif sesuatu menerima suatu kegiatan.

Ngomong apa lagi ya? Eh, perasaan pernah ngomong....

Further reading:
http://indonesian.kejut.com/Intermediate_Lesson_1

(apaan coba)


yg nomor 3 tuh asalnya rencana tulis tp kayanya lupa dan tidak terhapus. :(
Rin@Rin : 2009-09-22 04:02:07 UTC+0000
diacu: >>304 >>305
Banyak orang mengatakan bahwa dirinya adalah *hamba* Tuhan.
Tapi hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya.
Mengapakah aku harus mendengarkan orang-orang yang tidak paham?
imambenjol@Rin : 2009-09-22 04:31:41 UTC+0000
diacu: >>306
>>303
jadilah *hamba* juga supaya anda lebih baik dari si itu. mungkin ketika anda sudah jadi *hamba*, ada orang lain juga yang mengatakan hal yang sama "Mengapakah aku harus mendengarkan orang-orang yang tidak paham?"

gp
yuku@Rin : 2009-09-22 04:54:00 UTC+0000
diacu: >>307
>>303
"Tapi hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya.", kenapa?

Kapankah hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya?

C-, |)
Rin@Rin : 2009-09-22 08:44:45 UTC+0000
diacu: >>308
>>304
Tidak paham. Mengapa kalau jadi sesama orang yang tidak mengerti maka jadi lebih baik?
Rin@Rin : 2009-09-22 08:47:16 UTC+0000
diacu: >>309
>>305
"Kenapa," katamu? Tanyalah pada Yesus.
imambenjol@Rin : 2009-09-22 09:16:27 UTC+0000
>>306
karena si hamba itu tidak mengerti, mungkin kalau anda yang jadi hamba, anda lebih baik dari dia.

gp
yuku@Rin : 2009-09-22 09:31:48 UTC+0000
diacu: >>310
>>307
Maksudku, kenapa anda berkata "Tapi hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya."?
Apakah memang hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya?
Rin@Rin : 2009-09-22 09:43:34 UTC+0000
diacu: >>311
>>309
Lebih tepatnya aku hanya mengutip kata Yesus, jadi Yesus yang bilang. Karena itu tanyalah pada Yesus, atau pada orang2 yang bilangnya mengerti apa arti kata Yesus.
andreas@Rin : 2009-09-23 02:25:03 UTC+0000
diacu: >>312
>>310
kutipan Yoh 15:15 kah?
Rin@Rin : 2009-09-23 03:43:04 UTC+0000
diacu: >>313
>>311
Iya.
Sebenarnya pertanyaannya ada 2, yg explisit itu ya seperti tertulis (eh, itu "pertanyaan" loh, bukan "ujian" atau "tebak-tebakan"). Yang implisitnya yaitu apakah ada yang langsung tau aku ngomongin apa dari pertanyaannya tanpa menyebut sumber kutipan atau petunjuk lainnya. Kelihatannya tidak.... :(
andreas@Rin : 2009-09-23 04:16:44 UTC+0000
diacu: >>314
>>312
jawab yang implisit dulu yah :P, ku samar2 sih pernah inget ada di Alkitab yah, tapi takut di gigit kalo salah jadi ku diam dan tunggu perkembangan selanjutnya :p.

yang explisit biar kupikir2 dulu. eh iya kalo soal mu tanya ato tebakan sih uda tau tanya :P.
Rin@Rin : 2009-09-23 06:49:51 UTC+0000
diacu: >>315
>>313
Bolehlah orang bilang penggunaannya zaman sekarang hanyalah istilah. Tapi sebenarnya ada lagi yang implisit (tp bukan pertanyaan).

Sedikit2 ku tidak suka dengan para... em... hamba ini. Mereka banyak meributkan kata-kata tertulisnya. Yah, ibarat orang yang tidak paham tuannya. Mereka meributkan bahwa "kata-katanya begini maka pasti maksudnya begitu", lalu bilang bahwa bagian A dengan B tidak nyambung, tidak konsisten.
Mengapakah?

Misalnya ada yang meributkan "babi" dengan "babi hutan". Meributkan bahwa makan barang tertentu itu terlarang. Kalau buku bilang A maka artinya A.

Tidak ada bedanya dengan masyarakat dengan hukum negaranya. Tidak ada bedanya dengan kebanyakan karyawan yang mengikut saja apa kata bosnya.

Ya, memang hanya hamba. Tidak paham.

Atau mungkin anak-anak?

Seperti misal PRT kalau dimarahin majikan: "Ko ini makanan bisa busuk begini?" "Ya, ibu tadi bilangnya XYZ."

"Bilangnya begini" "Bilangnya begitu"
yuku@Rin : 2009-09-23 11:23:28 UTC+0000
diacu: >>317
>>314
> Ya, memang hanya hamba. Tidak paham.
Kalau yang paham, akan seperti apakah bilangnya?
Bagaimana anda paham bahwa mereka tidak paham?
Rin@Rin : 2009-09-24 04:13:49 UTC+0000
diacu: >>318
Dulu kata "homosexual" itu digunakan untuk misal: "sekolah satu jenis kelamin".
Sekarang berubah.... :(
Rin@Rin : 2009-09-24 04:14:25 UTC+0000
diacu: >>319
>>315
Bagaimana orang lain menetapkan bahwa aku tidak paham?
skybala@Rin : 2009-09-24 07:59:36 UTC+0000
>>316
wah ngata2in sma gw
yuku@Rin : 2009-09-25 07:25:27 UTC+0000
diacu: >>320
>>317
Tanyalah pada orang lain
Rin@Rin : 2009-09-28 13:30:27 UTC+0000
>>319
Kalau begitu mintalah orang itu bertanya.
Rin@Rin : 2009-09-28 13:31:58 UTC+0000
diacu: >>322 >>324
Tahukah anda:
Bahwa istilah big-endian dan little-endian berasal dari cerita Gulliver's Travel. Ada satu negara diharuskan memecah telur dr ujung besarnya (big-end) duluan dan satu lagi dari ujung kecilnya duluan (little-end), karena itu mereka disebut "big-endian" dan "little-endian".

Nah, anda kalau memecah telur apakah big-endian atau little-endian?
andreas@Rin : 2009-09-29 03:24:55 UTC+0000
diacu: >>323 >>325
>>321
eh, maksudnya memecahkan telur mentah ato mateng? kalo mentah ku middle-endian, kalo mateng little-endian kayaknya.
skybala@Rin : 2009-09-29 03:26:27 UTC+0000
diacu: >>326
>>322
middle-endian bisa left-endian, right endian, front-endian, sama back-endian.
ada left-front, left-left-front, etc.
yuku@Rin : 2009-09-29 08:58:27 UTC+0000
diacu: >>325
>>321
Wah, baru tahu. Ku biasanya kalo pecahin telor dari samping, kalo dari yang besar maupun
kecil kayanya lebih keras permukaannya karena didukung oleh permukaan sekitarnya
yang arah galurnya tidak sejajar dengan permukaan yang mau dipecahin.

Tapi apa hubungannya endian telur dengan endian *itu* ?
Rin@Rin : 2009-09-29 09:06:33 UTC+0000
>>322
Ceritanya sih 1/2-matang, jadi ya mungkin lebih dekat ke matang daripada mentah.

>>324
Big-endian = besar duluan
Little-endian = kecil duluan
Kayanya udah. Gitu doang.
yuku@Rin : 2009-09-29 09:26:14 UTC+0000
>>323 yaw, pitch, roll?
Rin@Rin : 2009-09-29 16:08:03 UTC+0000
diacu: >>328 >>329 >>331
Dari dulu ku sangat2 penasaran hal penting ini:

Sampah elektronik buangnya ke mana??

Sampah elektronik (e-waste) itu misalnya:
- handphone
- batere
- lampu
- graphic card
- hard disk

(bukan sumbangan, karena barangnya sudah rusak, tapi kalau ada yang mau sih boleh-boleh saja....)
andreas@Rin : 2009-09-29 18:44:39 UTC+0000
diacu: >>331
>>327
eh bolehkah mengambil beberapa darimu? (ku asumsi mu mau buang).

:D
skybala@Rin : 2009-09-30 02:24:04 UTC+0000
diacu: >>330 >>332
>>327
sama. ada di wiki ga?

sering liat orang taruh kompu di gang-gang samping tong sampah sih dulu di ntu, entah
imambenjol@Rin : 2009-09-30 02:45:46 UTC+0000
diacu: >>333
>>329
di negara lain (lupa negara yang mana), ada tempat sampah khusus kan buat baterai dan benda-benda limbah elektronik.

kalo di sini, biarin aja deh dicampur, toh nantinya dikirim ke cina juga board-boardnya buat dipretelin logam berharganya.
Rin@Rin : 2009-09-30 02:53:39 UTC+0000
diacu: >>337
>>328
Lihat kalimat terakhir di >>327 ^^;;;
Tp daftarnya adalah _contoh_ bukan barang yang ku sedang akan buang saat ini. Beberapa sudah dibuang duluan, ke tempat sampah umum. :(
Rin@Rin : 2009-09-30 02:53:55 UTC+0000
>>329
Kalau maksudnya ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Electronic_waste

Maka bisa dilihat bahwa tidak ada string "singa" di sana....
Rin@Rin : 2009-09-30 02:53:59 UTC+0000
diacu: >>336
>>330
Tapi ku sekarang di Singapura dan ini pertanyaan praktis bukan teoritis. :(
Praktis: harus ku apakan sekarang ini
Teoritis: barang seperti ini harusnya diapakan
Rin@Rin : 2009-09-30 02:57:27 UTC+0000
diacu: >>335 >>338 >>347
Mengapa orang memakai baju ini?
Mengapa orang memakai sepatu itu?
Mengapa rambutnya diwarna?

Seringkali kalau ditanya, maka orang itu akan menjawab supaya disukai orang tertentu (mungkin pacar, mungkin belum jadi pacar).
Tapi, berhentilah membohongi diri sendiri. Benarkah bahwa si doi sukanya yang begitu? Seringkali belum tentu, malah kadang justru tidak suka, sedangkan sebagian lain tidak terlalu peduli penampilanmu.

Sebenarnya kau merias diri seperti itu untuk diri sendiri, kan?
Rin@Rin : 2009-09-30 03:01:58 UTC+0000
diacu: >>361
>>334
Tambahan:
Memang disukai orang lain bisa menaikkan ego, tapi ini beda dengan tujuan murni membuat orang senang; karena ujung2nya ya buat diri sendiri juga.

Ku tidak bilang bahwa buat diri sendiri itu salah (ini topik lain), tapi maksudnya adalah *jujurlah*.
imambenjol@Rin : 2009-09-30 03:11:26 UTC+0000
diacu: >>341
>>333
menurutku
praktis : buanglah ke tempat sampah seperti yang anda lakukan sebelumnya
teoritis (ideal) : bikin jurnal/penelitian tentang bahaya limbah tersebut, atau bikin proposal ke PAP supaya ada kebijakan tentang limbah elektronik.
andreas@Rin : 2009-09-30 03:15:10 UTC+0000
diacu: >>339 >>340 >>346
>>331
kcw++++ T_T

hilang deh kesempatan ku nyomot2 data sisaan dari HDD bekas :(
skybala@Rin : 2009-09-30 03:19:48 UTC+0000
diacu: >>342
>>334
bukannya banyakan emg buat diri sendiri bukan buat si itu
imambenjol@Rin : 2009-09-30 03:21:09 UTC+0000
>>337
otaku power!

nah yang kyk ginian pasti gp skybala
Rin@Rin : 2009-09-30 04:17:36 UTC+0000
diacu: >>345
>>337
HDnya sudah rusak, tapi sebisa mungkin ku selalu format HD sebelum buang.
Selamat berusaha.... :)
Rin@Rin : 2009-09-30 04:19:19 UTC+0000
diacu: >>343
>>336
Praktis sambil tidur dengan kesadaran bahwa tindakanmu ikut ambil bagian dalam membunuh orang lain?
Rin@Rin : 2009-09-30 04:19:37 UTC+0000
diacu: >>344
>>338
Bukannya banyakan ngakunya buat orang lain?
imambenjol@Rin : 2009-09-30 04:25:24 UTC+0000
diacu: >>348 >>356
>>341
Sebetulnya waktu kamu pakai komputer buat ngetik postingan di melet.us, ada orang di negara lain yang mau baca pun ga ada listrik buat lampunya.

Atau waktu anda makan nasi, di tempat lain ada yang mati kelaparan.

Kita selalu membunuh orang lain. Dulu, sekarang, dan selama-lamanya.
imambenjol@Rin : 2009-09-30 04:27:07 UTC+0000
>>342
Si kera malu karena ekornya sudah hilang. Jadi malu ngaku.
andreas@Rin : 2009-09-30 04:37:49 UTC+0000
diacu: >>349
>>340
eh apakah HDnya berarti masi ada? :D.

rusak karena ga bisa di akses lagi kah?
yuku@Rin : 2009-09-30 05:28:49 UTC+0000
>>337
Lebur hdnya jadi suatu cairan yang berkilauan
Ketika masih panas, coret2 di meja
Atau masukkan ke dalam ruang bola tikus musuhmu
yuku@Rin : 2009-09-30 05:29:45 UTC+0000
diacu: >>350
>>334
Ku malah jarang dengar jawaban untuk disukai orang tertentu. Biasanya jawab biar bagus
atau ga tau kenapa atau pengen aja.
Rin@Rin : 2009-09-30 05:46:15 UTC+0000
>>343
Pakai atau tidak, orang itu tetap mati.
Tindakanku tidak membunuh orang tersebut.

Lain dengan buang racun, kalau tidak dibuang maka tidak mati.
Rin@Rin : 2009-09-30 05:47:59 UTC+0000
>>345
Bisa diakses tapi di bawah standar:
1. sering lepas sendiri
2. kecepatan akses sangat lambat
3. sepertinya ad bagian yang lebih jelek dr lainnya (ya iyalah, rusak biasa juga ga seluruhnya langsung....)
Rin@Rin : 2009-09-30 05:49:52 UTC+0000
>>347
Pernah dengarkah percakapan seperti ini?

(A dan B adalah pasangan dekat, bisa suami-istri bisa pacar)
A: "Buatku lebih cocok baju yang X atau Y?"
B: "Yang Y"
A: "Engga ah, yang X"
imambenjol@Rin : 2009-09-30 06:02:25 UTC+0000
diacu: >>354 >>355
>>350
interpretasiku si A pengen pake X lalu minta konfirmasi dari si B, pengennya B ikutan mendukung X.
skybala@Rin : 2009-09-30 06:06:41 UTC+0000
diacu: >>353
>>350
A pasti ceweknya
imambenjol@Rin : 2009-09-30 06:12:30 UTC+0000
>>352
A dan B, dua-duanya cowok.
yuku@Rin : 2009-09-30 06:20:35 UTC+0000
>>351
Mungkin di pikiran A uda mempertimbangkan kalo B pilih X dia untung 100
kalo B pilih Y dia rugi 10
jadi tanya aja daripada diem
Rin@Rin : 2009-09-30 06:25:54 UTC+0000
>>351
Ya, yang berarti balik lagi bahwa itu bukan untuk menyenangkan orang lain melainkan diri sendiri.
yuku@Rin : 2009-09-30 06:26:18 UTC+0000
diacu: >>357 >>358
>>343
membunuh termasuk menyakiti ga? (>>[imambenjol/169])

apakah membunuh dan menyakiti tidak berhubungan?
apakah A bagian B? B bagian A? A == B? Ato saling lepas.
skybala@Rin : 2009-09-30 06:27:25 UTC+0000
diacu: >>362
>>356
all is one, one is all

-hagaren
Rin@Rin : 2009-09-30 06:27:56 UTC+0000
>>356
Masih kurang satu: ada irisan
(apa sih namanya?)
Rin@Rin : 2009-09-30 06:29:35 UTC+0000
diacu: >>360 >>369
Asik, meletus jadi meletus (baca: rame).
yuku@Rin : 2009-09-30 06:32:50 UTC+0000
>>359
hore masih belom senasib dengan korban DDOS
kittymew@Rin : 2009-09-30 06:35:08 UTC+0000
>>335
Menurutku sih alasan ato motivasi org "dandan" berbeda2. Tp aku cukup setuju yg di atas. Kebanyakan org (termasuk aku) senang kalo dapat pujian ato disukai org, maka aku ga keberatan mengikuti saran / pendapat org lain selama ga membohongi ato menyiksa diri sendiri (misalnya terpaksa beli ato pake sesuatu yg ga disuka).
yuku@Rin : 2009-10-01 07:11:51 UTC+0000
>>357
all for one, one for all.

-lagu momusu
Rin@Rin : 2009-10-02 05:44:44 UTC+0000
diacu: >>366
Orang akan lebih tahu kondisi yang umum dibanding yang tidak. Kalau misalnya ada orang bertanya sesuai dan ciri2nya seperti yang umum tersebut, maka biasanya pendengar akan asumsi bahwa itu memang yang umum. Karena itu, kalau aku tahu bahwa kondisinya ada yang beda, waktu bertanya ku akan menekankan perbedaan tersebut. Maksudnya ialah agar orang itu tahu bahwa ini bukanlah yang umum. Tapi biasanya percuma, tidak ada yang mendengarkan perbedaan itu tapi tetap saja *memaksa* bahwa itu adalah yang umum.
Rin@Rin : 2009-10-02 08:29:35 UTC+0000
diacu: >>367
Di Indonesia, saat buku tentang kaum Muslim berjudul "Kultur Hibrida" keluar, banyak toko buku meletakkannya di.... bagian tumbuh-tumbuhan....
Rin@Rin : 2009-10-02 08:31:44 UTC+0000
diacu: >>368
Kisah lain:
banyak toko buku yang salah meletakkan komik Le Portrait de Petit Cossette volume 1. Mereka meletakkan buku itu terbalik. Alasannya? Karena gambar covernya cukup "aneh" (silahkan cari sendiri).
yuku@Rin : 2009-10-02 08:57:00 UTC+0000
diacu: >>370
>>363
ada benda ada kondisi
benda manytomany kondisi

benda A
- kondisi 1 50%
- kondisi 2 30%
- kondisi 3 18%
- kondisi 4 2%

benda B
- kondisi 2 1%
- kondisi 4 80%
- kondisi 5 18%
- kondisi 6 1%

Asumsi benda A dan benda B berpeluang sama

Rin berkata pada xyz mengenai benda A dengan kondisi 4

maka di pikiran xyz berlangsung bayesian prob.
Peluang yang diomongin Rin adalah:
- benda A 2.4%
- benda B 97.6%

lalu xyz mengambil sampel dengan function(): Benda {
  if (Math.random < 0.024) return A; else return B;
}

setelah n misalnya 5 sampel ternyata semuanya B
maka di pikiran xyz ga muncul A.

lalu Rin kecewa karena dia maksud A tapi dikira xyz B dan B ga ingat mengenai A atau ga ingat
bahwa A mempunyai kondisi 4

coret[eNr7GMDZWNcwrY65RKpCjomHh0WGgaOasfZjAEvjzIb5jMwM_IzsIM6ShoUMjIz8DECOYOP-hqWMDIJ1PDUMjMV8eXJVkjxiYuzCJewp9WkVeXV1PDwi3B8DuJr4GubWMlSx17CzcrIxsJczV9bV1jMAADDYHxw$]
imambenjol@Rin : 2009-10-02 09:21:54 UTC+0000
>>364
jadi inget Kultur jaringan dan padi Hibrida :D
imambenjol@Rin : 2009-10-02 09:23:42 UTC+0000
diacu: >>371
>>365
hore ketemu gambarnya. yg ini kah?

http://i31.tinypic.com/24oa5cm.jpg
1peH@Rin : 2009-10-02 16:18:34 UTC+0000
>>359 Meletus jadi meledak.
Rin@Rin : 2009-10-03 04:48:08 UTC+0000
>>366
Penjelasan terlalu rumit yang menurutku justru salah.
Rin@Rin : 2009-10-03 04:48:47 UTC+0000
>>368
Memang itu. Cukup mudah dipahami mengapa banyak yang salah taruh. Tapi tetap saja tidak sebaiknya terjadi....
Rin@Rin : 2009-10-05 09:21:23 UTC+0000
diacu: >>373
Ada banyak "band" yang anggotanya cuma 2.

Sepertinya, pola umumnya:
1 vokalis
1 instrumen, yg biasanya secara urutan keumuman: gitar, keyboard

Kalau berlainan jenis kelamin, biasanya yg cewe vokalis, yang cowo ya satunya.
Rin@Rin : 2009-10-05 09:23:41 UTC+0000
>>372
1 pertanyaan terlintas di pikiranku.

Kenapa bukan piano?

Kenapa ku tanyakan piano? Karena orang sekitarku banyak yang mendewakan piano. Apa-apa harus piano, maka kukira pandangan umum adalah alat musik terbaik adalah piano.

Ku sendiri tidak berpikir begitu, dan terlihat bahwa kenyataannya juga tidak seperti kata orang sekitarku.

Liars? Noobs?
Rin@Rin : 2009-10-06 03:20:54 UTC+0000
Misal A mengirim email ke B. Supaya C tau, maka A mengirim juga ke C[1]. Lalu setelah menerima, B mengirim pada D[2].

[1] ini istilah bahasa Inggrisnya "CC" (Carbon Copy)
[2] istilah bahasa Inggrisnya "Fw" (Forward)

Bahasa Indonesianya?
Kayanya yang [2] secara konsisten disebut "terusan", setidaknya di Gmail begitu. Herannya, yang [1] ditulis... tetap "Cc".... Dulu sih waktu belajar bahasa Indonesia istilahnya seharusnya "tembusan".
Rin@Rin : 2009-10-06 03:52:13 UTC+0000
diacu: >>376
Mind Map (peta pikiran?) adalah sebuah konsep yang di masa modern ini dipopulerkan oleh Tony Buzan. Secara singkat konsep ini berkata bahwa hubungan antara ide-ide tidaklah mengikuti jalur lurus. Jadi, hubungan itu bukanlah begini:

A -> B -> C -> D -> E

Sebuah ide bisa berhubungan dengan beberapa ide lain dan begitu pula setiap ide itu bisa berhubungan dengan banyak lainnya lagi. Bahkan, bisa saja ada hubungan yang berputar balik.

Kalau berasa pernah tahu/lihat, maka baguslah! Kalau pernah memakai wiki seperti misalnya wikipedia, mungkin anda sadar bahwa setiap artikel bisa sambung-menyambung dengan banyak artikel lain. Contoh lainnya adalah Google Wonder Wheel. Tentu saja, contoh-contohnya bukanlah cuma yang tadi.


Catatan samping: Wikipedia bisa seperti itu karena HTML memungkinkan itu terjadi. Ini sangatlah wajar, karena HTML pada awalnya dibuat justru untuk yang seperti wikipedia itu.


diterjemahkan dari:
http://netlurker.blogspot.com/2009/10/mind-map.html
yuku@Rin : 2009-10-06 08:14:27 UTC+0000
diacu: >>377
>>375
Di sisi lain, justru ku pernah mendengar orang yang menekankan pentingnya membaca buku
daripada membaca halaman2 di internet.

Menurutnya, kalau di internet, strukturnya tidak terurut, sehingga kurang bisa *membimbing*.
Dalam hal ini ku cukup setuju sih, sepertinya halaman2 internet yang bentuknya menjaring
lebih tepat sebagai referensi.

Sedangkan buku, biasanya diatur, supaya bab ke x didasarkan pada bab ke 1 sampe x-1.
Sehingga ada fondasi untuk mengetahui hal2 yang lebih luas dari yang lebih sempit.
Rin@Rin : 2009-10-06 09:48:45 UTC+0000
diacu: >>378
>>376
Misalkan di pertengahan ada pengetahuan yang diperlukan. Misalkan penjelasan akan pengetahuan itu bisa makan 1 bab sendiri.
Penulis punya 2 pilihan:
1. memasukkan penjelasan itu di buku dan akibatnya jadi buang tempat dan waktu bagi orang yang sudah tahu
2. tidak menjelaskan dan akibatnya yang tidak tahu jadi tidak bisa melanjutkan

Sebaliknya kalau ambil contoh Wikipedia jadi mudah, buat saja tautan. Orang yang tahu bisa lewatkan saja, sedangkan orang yang tidak tahu bisa baca dahulu.

Penulis buku bisa saja menambahkan "untuk lebih lengkap bisa baca buku X karangan Y terbitan Z", tapi kalau sudah begitu, apa bedanya dengan bentuk hyperlink? Malah hyperlink jadi lebih enak.
yuku@Rin : 2009-10-09 05:31:37 UTC+0000
>>377
Hm, kalo gitu, mungkin buku lebih cocok untuk orang yang tidak tahu apa yang perlu diketahui
mengenai suatu topik.
Rin@Rin : 2009-10-14 06:32:13 UTC+0000
Alat musik berbentuk gitar biasanya dimainkan dengan 2 tangan secara berbeda. Tangan yang satu akan bergerak naik-turun kiri-kanan untuk menekan senar, sedangkan tangan satunya lagi biasanya bergerak tidak terlalu banyak. Yang cukup mengherankan adalah tangan yang bergerak banyak adalah tangan yang kurang dominan, sedangkan tangan dominan bergerak hanya sedikit. Pola ini ada pada (setahuku) semua alat musik berbentuk ini dalam berbagai kebudayaan dan tingkat kesulitan permainan. Pada tingkat profesional, pola ini berlaku tangan manapun yg dominan.

Aneh. Adakah penjelasan yang masuk akal?
Rin@Rin : 2009-10-15 04:36:39 UTC+0000
diacu: >>381
Long angka;
// ...
int angkaLain = Integer.parseInt(angka.toString());
yuku@Rin : 2009-10-15 07:51:19 UTC+0000
>>380
long angka = 1234;

ByteArrayOutputStream a = new ByteArrayOutputStream();
DataOutputStream b = new DataOutputStream(a);
b.writeLong(angka);
b.close();
byte[] c = a.toByteArray();
ByteArrayInputStream d = new ByteArrayInputStream(c);
DataInputStream e = new DataInputStream(d);
e.skipBytes(4);

int angkaLain = e.readInt();
coret[eNr7GMDZqNawqY45WztNL1ehlouBsY6Zoe5jAEujdsNZBmYGcQbejwGsjYINb5jrpCpky1mAcuyNMg2XmZi4-Hh5WJgYGVgYQSqONJwCKhdm4AZpYG9c2fCckYGzmruSrY6ljrkOpGJrwwkWNi5OAX4uto9Aa781nGNgrhLMlsqVKxaqYa9lrWf6GMDfaNNox8DIxs3BxcfDz8Jbx1HLWsFRw1LFXMNYx1jLWAsA6LkxCA$$]
Rin@Rin : 2009-10-16 08:53:38 UTC+0000
diacu: >>383
yuku@Rin : 2009-10-16 09:49:43 UTC+0000
>>382
Duh! bagus pisan.
Rin@Rin : 2009-10-21 05:55:42 UTC+0000
diacu: >>385
yuku@Rin : 2009-10-21 08:47:01 UTC+0000
>>384
Ada yang kasi link ke pdf, di dalam pdfnya ada yang indah:


Less traditional symbols are also useful. For example:

  ☎->✆(); // take my phone (☎) off hook (✆)

This example become even more natural when - as is common - the whitespace operator
is overloaded to mean -> for the telephone class:

  class Phone {
    // …
    Phone* operator ' ' () { return this->operator->(); }
    void ✆(); // off-hook
    // …
  };

  Phone ☎;
  ☎✆(); // take phone (☎) off hook (✆)

It is also common to overload newline to mean application without
arguments, that is (), so that what used to be the long-winded and ugly

  my_phone->off_hook();

becomes plain and simple

  ☎✆;

Finally, semicolon is most often redundant as a statement terminator
so the grammar has been improved to make it optional in most context.
Thus, we get:

  ☎✆

Extensive use of such special characters together with imaginative and
thoughtful use of whitespace overloading has had an immense impact
on maintenance cost.
Rin@Rin : 2009-10-26 07:40:22 UTC+0000
Bukti bahwa Windows lebih bagus daripada Linux atau Mac adalah orang sering Window shopping, tp siapa coba yg Linux shopping atau Mac shopping....
Rin@Rin : 2009-10-28 03:10:15 UTC+0000
diacu: >>388
"Kalau orang jahat tidak henti2nya berusaha berbuat yang jahat, bagaimana mungkin aku beristirahat"
yuku@Rin : 2009-10-28 09:27:56 UTC+0000
diacu: >>389
>>387
Bagaimana kalau jadi orang jahat juga yang berbuat jahat sehingga mendapatkan peristirahatan?
Rin@Rin : 2009-10-28 09:32:09 UTC+0000
>>388
Logikanya bagaimana?
Maaf, tidak paham.
Rin@Rin : 2009-10-28 14:20:15 UTC+0000
diacu: >>391
Kupeluk lutut di sudut kamar
Selalu ku bimbang dan gemetar
Mengetahui kebenaran sedemikian menyeramkan,
ku menutup pintu

Ku mencari kebenaran dalam kebohongan yang ramah
melarikan diri ke dalam mimpi
Tak seorangpun tahu
ku mewarnai lautan kesepian dengan biru gelap

Sambil menyembunyikan rasa sepi
dengan sepenuh hati
ku tengah melukai hatimu

Rahasia dalam mataku
bagai diserap oleh kebenaran di balik senyum
Kasih yang lembut, ku mendatangimu!
Kehangatan yang mudah retak
Sekarang mulai mengalir lepas dari masa lalu
Janganlah dibingungkan bayang kesedihan
Kar'na ku terus bersamamu

Seperti anak2, ku hanya berangan-angan
Hanya berharap tak akan menemukan apa2.
Justru malah 'kan kehilangan hal penting.

Ku ingin memiliki kemampuan untuk melindungi
kebahagiaan yang tidak hanya wajar atau biasa saja
Untuk terus hidup di masa ini
Dalam pandangan yang tak tersesat
Jawaban yang terapung ya hanyalah satu.

Menggambar pelangi di merah senja, bahkan kegelapanpun kubungkus.
Dengan sedikit keberanian, kusampaikan kata.
Walau ditangkap masa depan atau menghilang di kejauhan, doa ini tak terbatas
Ku ingin menyampaikan padamu perasaan yang sesungguhnya

Kepadamu yang memberikanku awal (hidup baru???)
ku bisikkan janji yang milik kita berdua saja
Suatu sihir yang kekal dan tak berubah
Walau ditangkap masa depan atau menghilang di kejauhan
Ku teringat akan suara yang jernih itu.
Sebut namaku!
Tersenyumlah seperti hari itu!
yuku@Rin : 2009-10-29 08:56:35 UTC+0000
diacu: >>394
>>390
Uwaa panjang.

Bagus juga puitis liriknya. Sayang lagunya dan penyanyinya kurang nikmat didengar :(

ku bisikkan janji yang milik kita berdua saja

jadi ingat boku dake no hito
Rin@Rin : 2009-10-29 15:16:18 UTC+0000
Kadang ku merasa
aku balik ke masa lampau, sangat lama
Ketika kita masih kanak-kanak, masih muda
Semua terasa sempurna, kamu tahulah
Hari-hari tidak berakhir, kita liar kita muda
Matahari terus bersinar, kita hidup bersenang-senang
Kadang terasa masih barusan, entahlah
Seluruh hidupku bagai hanya pertunjukan

Itulah masa kita
Hal-hal buruk sangat sedikit
Hari-hari itu t'lah berlalu tapi satu hal masih pasti
Saat kulihat dan kusadari, aku masih mencintaimu

Kita tidak dapat memutar balik jam, menahan gelombang
Sayang, ya?
Ku ingin balik sekali-lagi naik wahana
Saat hidup hanyalah permainan
Tak ada gunanya duduk dan berpikir apa yang t'lah dilakukan
Saat kau bisa berbaring dan menikmatinya lewat anak-anakmu
Kadang terasa masih barusan, entahlah
Lebih baik duduk santai dan mengikuti arus

Kar'na itulah masa kita
Semua telah mengalir dalam cepatnya waktu
Masa itu telah lewat tapi satu hal masih tetap
Saat kulihat dan kusadari tak ada perubahan

Itulah masa kita, ya
Hal-hal buruk sangat sedikit
Hari-hari itu t'lah berlalu tapi satu hal masih pasti
Saat kulihat dan kusadari, aku masih mencintaimu
Rin@Rin : 2009-10-30 04:42:52 UTC+0000
Seorang filsuf pernah berkata:

Saranku kepadamu: menikahlah. Kalau kau dapat istri yang baik, engkau akan bahagia. Kalau tidak, kau akan jadi filsuf.
Rin@Rin : 2009-10-30 07:03:33 UTC+0000
>>391
Ada yang bilang nikmat atau tidak itu hanyalah selera, tidak bisa dipaksa.
Ada juga yang bilang bahwa orang harus suka dengan sesuatu.

Mana yang benar? Aku tidak tahu, dan setahuku tidak ada yang bisa memberi jawaban pasti maka tidak kubahas.


Lebih baik membahas yang ada jawabannya.
Kalau sesuatu itu seharusnya subyektif, bagaimanakah dengan penilaian kompetisi akan yang subyektif itu?
Kompetisi masak, kompetisi tarian, misalnya.

Ambillah contoh yang mungkin dekat dengan kita, American Idol (dan segala anak-cucunya).
Memang yang akhirnya menilai adalah pemirsa, tapi ada jurinya dan mereka bisa memberi komentar.

Apakah para juri itu adalah orang2 khusus yang kebetulan suka dengan semua hal jadi bisa menilai?
Ataukah juri menilai hal-hal yang tidak dinilai oleh orang biasa? Misal orang bisa menilai jenis suara tapi juri menilai kecocokan jenis suara dengan lagunya. Ataukah juri melihat teknik?

Atau, misal orang bisa bilang tidak suka lagu keras, Rock misalnya, sebagian tidak suka lagu yang lembut. Lalu, juri bagaimana?

Seharusnya ada jawabannya karena kriterianya pasti ada, tapi ku tidak tahu di mana.
Rin@Rin : 2009-11-02 09:35:31 UTC+0000
diacu: >>396
Tahukah anda:

Bahwa "tahukah anda" adalah terjemahan dari bahasa Inggris "did you know"?
Kalau dilihat, bahasa Inggrisnya pakai bentuk lampau, mungkin maksudnya:
"Setelah aku bilang ini kamu pasti sudah tahu, jadi pertanyaannya adalah apakah sebelum ini kamu juga sudah"

Mungkin seharusnya ditulisnya "sudah tahukah anda?"
yuku@Rin : 2009-11-02 16:44:33 UTC+0000
diacu: >>397
>>395
Tahukah anda bahwa "Tahukah anda" berarti
"Setelah aku bilang ini kamu pasti sudah tahu, adalah apakah sebelum ini kamu juga sudah tahu"?
Rin@Rin : 2009-11-03 04:04:55 UTC+0000
>>396
ga jelas....
Rin@Rin : 2009-12-01 15:11:39 UTC+0000
Melakukan hal yang benar/bagus dengan alasan yang benar/bagus adalah suatu hal yang dikehendaki.

Tapi kalau itu tidak tercapai dan hanya salah satunya yang benar/bagus, mana yang lebih diharapkan?
a. melakukan hal yang benar/bagus dengan alasan yang salah
b. melakukan hal yang salah dengan alasan yang benar/bagus
c. tidak diharapkan jadi lebih baik tidak melakukan sama sekali

Kurasa ada orang-orang tertentu yang keras dengan C. Atau mungkin mereka adalah pemimpi/pemaksa yang tetap akan memilih hal yang sudah kubilang tidak tercapai.
Rin@Rin : 2009-12-03 12:15:20 UTC+0000
diacu: >>400
Japanese language is a stack machine.

Heck. I should have realized this. Wonder why I havent....
skybala@Rin : 2009-12-03 12:47:18 UTC+0000
diacu: >>401
>>399
Enlighten me dong xd
Rin@Rin : 2009-12-03 15:10:25 UTC+0000
diacu: >>402
>>400
Consider the following simple program: (note: details omitted for sanity)
  print (a + b)

What does it do? print
Print what? the sum
the sum of what? a
with what? b

Typical stack machine instruction:

push a
push b
do operation sum
do operation print
ななしさん(anonim)@Rin : 2009-12-10 12:39:06 UTC+0000
diacu: >>403
>>401
Why omit?
Rin@Rin : 2009-12-10 12:49:52 UTC+0000
>>402
Why not?
Rin@Rin : 2009-12-15 11:24:10 UTC+0000
diacu: >>406
Sebagai "korban" sering aku merasa tidak suka bilamana naik lift atau kereta api lalu saat berhenti di tujuan yang biasanya banyak orang keluar tapi orang2 yang menghalangi jalan malah cuek.

Tujuan yang dimaksud misalnya adalah:
lift: lantai 1
kereta api: stasiun di CBD
Rin@Rin : 2009-12-15 11:44:01 UTC+0000
diacu: >>408
Pemikiran iseng:

Bagaimana kalau standar benchmark untuk komputer adalah compile sesuatu yang cukup besar,
misal Linux Kernel?
yuku@Rin : 2009-12-16 09:50:36 UTC+0000
diacu: >>409
>>404 Not Found
Rin@Rin : 2009-12-17 07:10:21 UTC+0000
Pertama kali melihat cover "Prince of Persia" (yg baru, bukan yg lama, walau sekarang ud ga baru lg), aku sempat berpikir apakah itu game Jepang atau Amerika.

:(
Rin@Rin : 2009-12-18 09:49:11 UTC+0000
>>405
Baru sadar ini terlalu sederhana.
Seharusnya ditambah:
"Sambil melakukan hal cukup berat misal edit kode dan sambil memutar lagu tanpa boleh ada hang atau lag sedikitpun".
anon(woBe31A1zYio)@Rin : 2009-12-21 02:36:46 UTC+0000
>>406 Not Acceptable
Rin@Rin : 2009-12-22 06:11:59 UTC+0000
Sekilas pandang:
Orang2 yang bilang bahwa Windows jelek (dan Linux bagus) dengan alasan kurangnya perkakas tertentu pada Windows adalah orang yang sama yang bilang Firefox bagus karena ada add-onnya.

Padahal apa bedanya?
Rin@Rin : 2009-12-23 01:11:05 UTC+0000
diacu: >>412 >>413
Cara untuk membuat orang mengeluarkan uang banyak adalah dengan membuat mereka mengeluarkan uang terlebih dahulu.
Rin@Rin : 2009-12-23 02:23:23 UTC+0000
>>411
Sisi lain:
Cara untuk membuat orang mengeluarkan uang adalah dengan memberi barang gratis.
yuku@Rin : 2009-12-23 08:38:11 UTC+0000
diacu: >>414
>>411
Terlebih dahulu ini maksudnya dibandingkan dengan sesuatu?

Atau seperti cerita "lama". Mengenai seorang peneliti yang menjanjikan memberikan sejumlah
orang kepada penawar tertinggi, tapi penawar pertama dan kedua tertinggi harus membayar
sejumlah yang dia tawarkan?
Rin@Rin : 2009-12-23 09:17:53 UTC+0000
>>413
Ga nangkep pertanyaannya sih.

Contohnya begini:
Sudah jual mobil, maka akan lebih mudah menjual tambahannya misal cd player.

Atau kadang, karena sudah menjual tiket masuk (entah kemana) akan lebih mudah untuk menjual makanan di dalam.



Sudah jual iPhone lebih mudah menawarkan barang dari AppStore.
Rin@Rin : 2009-12-29 12:24:30 UTC+0000
Kita manusia senang yang teratur tapi tidak suka diatur.
Rin@Rin : 2010-01-08 06:19:19 UTC+0000
diacu: >>417
Silence = golden
Gold = money
Prefer silence = love money = root of all evil
skybala@Rin : 2010-01-08 06:20:18 UTC+0000
>>416
that is why i am a talkative person. inherently good ^^
Rin@Rin : 2010-01-13 14:16:18 UTC+0000
function notrecursive() {
  notrecursive();
}

var myfunc = notrecursive;

notrecursive = function() {
  alert('helo');
}

myfunc();
Rin@Rin : 2010-01-16 12:36:38 UTC+0000
diacu: >>420 >>429
Ada satu lagu menurutku sangat jelek. Tentu lagu jelek banyak tapi kali ini ku membahas lagu ini karena seingatku GRII menyanyikan lagu ini, padahal GRII *seharusnya* tidak akan menyanyikan lagu jelek. Maaf kalau ternyata GRII tidak menyanyikan lagu ini atau memang menyanyikan tapi juga sudah mengritik.

Lagunya secara keseluruhan setelah bagian yang hanya pengulangan dibuang, berbunyi kira-kira begini:

Hadirkah kau waktu Tuhan disalib?
Oh, itu membuatku gentar.


Alasan jeleknya adalah:
1. *Lagunya hanya pengulangan 2 kalimat tersebut.*
Diulang seperti mantra. Lagu karismatik banyak yang begitu tapi GRII setahuku mengritik lagu seperti itu. Pengulangan bisa bagus kalau itu jadi penekanan, tapi...

2. *Lagunya sangat tidak jelas.*
Ga jelas pisan! Si penanya mengharapkan jawaban apa? Ya? Tidak? Atau ini tipe "pertanyaan tuduhan" karena penanya tahu bahwa yang terjadi adalah A saat yang diharapkan adalah B? Tentu secara harafiah pasti tidak ada karena belum lahir, jadi apakah maksudnya misalkan ada? Setelah mendengar pertanyaan itu beberapa kali (2x kalau tidak salah), maka ku mengharapkan ada penjelasan, tapi yang ada cuma bilang itu membuat gentar dan diakhiri dengan pertanyaan yang sama.
yuku@Rin : 2010-01-16 16:33:51 UTC+0000
diacu: >>421
>>419
Tampaknya yang mu maksud
http://www.oremus.org/hymnal/w/w203.html
yah
Rin@Rin : 2010-01-18 06:36:11 UTC+0000
>>420
Tampaknya demikian.
Rin@Rin : 2010-01-19 02:36:12 UTC+0000
Japanese (language) seems to have a case of lazy tongue. Perhaps this explain their difficulty speaking English?
ななしさん(anonim)@Rin : 2010-10-20 00:40:59 UTC+0000
jelek lo
ななしさん(anonim)@Rin : 2010-10-20 00:41:30 UTC+0000
sampah!!
oma irama(+mEeKs/PVWee)@Rin : 2010-10-23 18:20:24 UTC+0000
>>150
cerita opo iki?
loe mau cerita kedaulatan Allah
ato music?
ato nyeritain kesalahan hamba Tuhan?
orang israel nyanyi dangdut boss..
iyalah.. kalo tdk dangdut
nggak mungkin daud bisa menari-nari..
Alvin Herawan(8WGh92EeIFzZ)@Rin : 2011-01-08 12:43:39 UTC+0000
Bwahahha ... ini toh milis melet.us yang terkenal itu. Memang meletus-letus ya.

Mengerikan ya, dari satu kasus ke kasus yang lain, membuat semuanya jadi benang kusut yang sangat sulit diluruskan kembali.

Semoga ada belas kasihan dan pembalutan pribadi.

Alvin
Alvin Herawan(8WGh92EeIFzZ)@Rin : 2011-01-08 15:44:43 UTC+0000
diacu: >>428
Cuman penasaran aja, apakah kalimat Rin:

"
Kalau yang namanya "gede" itu seperti kamu, maka aku tidak mau jadi gede.
"

dalam pos >>138 (semoga linknya bisa diklik), apakah itu terinspirasi dari naruto, seperti yang bisa dilihat dalam URL ini http://view.thespectrum.net/series/naruto-chapter-515.html?ch=Volume+27&page=75

Karena bunyinya seperti mengingatkan akan halaman itu.
Rin@Rin : 2011-01-26 04:57:17 UTC+0000
>>427
Mungkin bukan
david robertino(M8vIw6TWTufS)@Rin : 2011-04-12 13:29:27 UTC+0000
diacu: >>430
>>419

Tentu kita semua setuju kalau pada dasarnya setiap lagu, tidak ubahnya sarana bagi kita
agar boleh memberikan apresiasi/memberikan pujian. Demikian halnya dengan lagu ter-
sebut, dengan iman kita pun sekiranya boleh memiliki respon yang tepat dihadapan Allah,
manusia, dan lingkungan dimana kita hidup.

Memang untuk benar, lagu Hadirkah kau waktu Tuhan disalib? terkesan mengulang-ulang ka-
limat yang itu-itu saja. Dalam hal ini, marilah penilaian kita juga diarahkan pada kelemahan
dan keterbatasan si penulis lagu. Kita berusaha memahami konteks hidup Sang penulis-
pencipta pujian. Barangkali dia ingin menyatakan suatu kesungguhan hati menanggapi peris-
tiwa penyalibpan Yesus Kristus. Bukan tidak mungkin dari syair yangs sederhana itu, dapat
membawa kita pada suatu kekusyuk-kan ibadah/relasi kita dengan Tuhan sendiri. Tapi bukan
berarti juga setiap orang boleh suka-suka membuat lagu, dalam arti tetap ada standing point
yang boleh dipergunakan. Dari yang saya pribadi ketahui mengenai musik, ada suatu prinsip
sederhana yang seringkali dilupakan orang, bahwa musik yang baik tidak terlepas dari pema-
haman Alkitab yang benar juga. Dan bila kita bicara mengenai kebenaran, tentu sejatinya
adalah kembali pada kebenaran Alkitab itu sendiri. Dimana Allah lah yang menyatakan ke-
benaran, Dia sendiri lah Kebenaran itu (bandingkan pada Injil Yohanes pasal 1). Berpusat-
kan pada Allah yang dalam segala rencana kedaulatanNya yang maha kudus dan mulia, me-
nyatakan diriNya kepada para rasul dan para nabi. Kemudian diteruskan kepada Bapak-
Bapak Gereja, para theolog, tua-tua, diaken, majelis, pendeta, majelis, pengurus, musi-
kus, serta jemaat sekalian.

Barangkali timbul pertanyaan, bukankah diantara umat kepunyaan Allah, kita juga melihat
ada yang palsu dan sejati? Bagaimana kita dapat mengklaimnyas sebagai kebenaran? Demi-
kian adanya, tertulis gandum dan lalang diizinkan tumbuh bersama. Jangan lupa, diantara
para murid Tuhan, juga ada Yudas Iskariot. Allah sedemikian begitu panjang sabarnya, ter-
masuk pada mereka yang menentangNya dan memang Alkitab mengajarkan kepada kita
kalau Allah mengenal milik kepunyaanNya dan milik kepunyaanNya juga mengenal Dia.
Didalam kedaulatanNya, Ia telah memilih dan memanggil gerejaNya yang sejatinya gereja.
Maka terhadap segala penyesatan, berkenan dengan penyelewengan prinsip, maupun
penyalah-gunaan otoritas, bakat-karunia, kreativitas, dan lain-lain. Pertama, fakta ini
semestinya membuat kita gentar. Tidak kah anugerahNya sedemikian besarnya. Kedua,
panggilan gereja Tuhan adalah bukan untuk membuktikan kebenaran atau membela kebe-
naran. Tapi panggilan kita adalah untuk menyatakan kebenaran. Saat kita menyatakan ke-
benaran, maka didalam kedaulatan Allah, Ia mengizinkan juga ketidakbeneran ternyata-
kan. Secara pribadi sangat mengakui kesulitan untuk mengetahui kalau yang ada pada ki-
ta adalah benar. Ingatlah bahwa Allah adalah Sang Kebenaran dan ingatlah pekerjaan si-
jahat adalah sejatinya merintangngi rencana dan pekerjaanNya. Dan ingatlah ini bukan
perkara siapa yang menang atau siapa yang kalah. Semua ada dalam kedaulatan Allah.
Iniliah dunia Hu, Tuhan Raja Gereja yang menang. Terpujilah Allah. Suci, suci, suci.
Segala pujian dan kemuliaan patut diterimaNya, ketigaNya yang Esa. Dari kekal sampai
kekal Dialah Allah. Siapakah yang dapat dipersamakan dengan Dia? Seluruh makhluk su-
jud menyembah. Dia adalah Alfa dan Omega, yang awal dan yang akhir. Yang menjelma
kedunia, lahir, melayani, bahkan taat kepada kehendak Bapa sampai di kayu salib. Mati,
dan bangkit, dan naik ke sorga, dan akan kembali untuk menghakimi setiap orang yang
hidup dan mati. Di atas pengakuan inilah gereja sejatinya didirikan, di atas pengakuan
inilah iman kita boleh berdiri. Kita beroleh bagian didalam Dia, bukan saja mendapat
kebenaran, malahan mendapat pembenaran oleh hidup, kematian, dan kebangkitan Kris-
tus.

Dosa telah memisahkan manusia dari Allah. Tidaka ada dosa yang diizinkan berada di-
hadiratNya. Dan dalam segala geramNya, murkaNya meyala-nyala terhadap dosa. Upah
dosa adalah maut, disanalah terdapat ratap tangis dan kertak gigi untuk selama-lamanya.
Itulah kematian kekal, derita abadi. Dari Adam yang didaulat Allah sebagai wakilNya
didunia ini, dosa sedemikian meraja-rela memasukki setiap relung hidup manusia. Setiap
zaman serong, setiap angkatan melakukan apa yang tidak berkenan dihadapanNya. Sekali-
gus juga didalam kasih karuniaNya, Ia tetap menyatakan cinta-kasihNya kepada mereka
yang diinginkanNya. Ia memelihara mereka dan memberikan hak sebagai anak-anak terang
kepada mereka. Kendati demikian, dunia sedemikian keruh akan dosa. Modern berusaha
memutlak-kan rasio dalam mengerti sesuatu dan oleh postmo, pemutlak-kan tersebut di-
relatifkan. "Benar menurut siapa?", demikian ungkap postmo.

Mari sama-sama kita pikirkan lagi penilaian kita terhadap sesuatu. Mengingat ekses dari ilah
zaman sedemikian besarnya yang mana kalau mau jujur setiap kita tidak lebih dari anak-
zaman, dalam arti yang keseluruhan hidupnya sudah dicemari oleh kecenderungan zaman
yang pada umumnya konsisten mengacungkan tangannya kepada Allah. Penilaian terhadap
musik misalnya? mari sama-sama menjadikannya juga sebagai bagian cara pandang dan hi-
dup: sudahkah dengan sedalam-dalamnya mengerti esensi tanpa kehilangan praktek?
Sudahkah digelisahkan oleh dorongan untuk menyelidiki sampai setuntas-tuntasnya? Atau-
kah terlalu cepat melontarkan sesuatu dan mungkin hanya berkenaan dengan kenyamanan
diri?

Sah-sah saja berpendapat, itu benar adanya. Maka sah pula balik memberikan pendapat.
Masalahnya bukan boleh berpendapat atau tidak, atau boleh kasih komentar atau tidak.
Tapi komentar yang didasarkan pada apa? seperti apa? bagaimana menyatakan komentar
sebagaimana yang dikehendaki Allah? Jangan lupa kawan, Allah mengetahui segala kecen
derungan isi hatimu. Tidak ada motivasi yang sedemikian terselebungnya bagiNya. Bukan-
kah ini semestinya menjadi pagar bagi kita agar tidak sembarangan? termasuk juga diriku
aku pun cemas kalau-kalau yang ku tulis ini hanyalah menyenangkan manusia saja.

Hadirkah kau waktu Tuhan disalib?
Oh, itu membuatku gentar

SHALOM
GBU
nicolaus(6uLHm2GBili7)@Rin : 2011-04-12 13:33:12 UTC+0000
spam diacu: >>431
nicodemus(JmbikkMP67wv)@Rin : 2011-04-12 13:35:52 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-03-27 12:25:25 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-03-27 14:26:32 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-03-28 04:38:44 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-03-28 11:09:29 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-03-29 05:46:43 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-03-29 10:37:57 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-03-30 20:02:41 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-04-01 03:34:54 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-04-01 15:40:38 UTC+0000
spam
CesfoerseQJ(Rls0zWwj/nFJ)@Rin : 2017-04-01 21:14:38 UTC+0000
spam

 

Kau akan ngepos secara anonim! Boleh2 aja sih, bahkan tulis nama dan sembarang paswod pun boleh. Tapi kalo mau daftar, klik daftar

Nama Pwd gp jsp (nam tuju)+(tiga nol)= +img +coret

 

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|